Moghaṁ Sa Jīvati (Bhagavadgītā III.16)

DHARMAŚABDANAM MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA)
26 Juni 2026

Oleh I Ketut Subagiasta

Moghaṁ Sa Jīvati berarti “ia hidup sia-sia”. Oleh karena itu, marilah menjalani hidup yang penuh makna dan manfaat. Hindarilah bunuh diri, jauhilah segala bentuk perbuatan buruk, hindarilah perkataan yang menyinggung perasaan orang lain, serta bersihkan pikiran dari hal-hal yang negatif.

Hidup ini adalah anugerah yang mulia. Manfaatkanlah kehidupan untuk memberikan manfaat bagi sesama dalam semangat kebersamaan. Setiap pahala atau buah dari perbuatan akan dinikmati oleh pelakunya sendiri, yaitu kartā (pelaku perbuatan).

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Jalankan Svadharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 23/09/2025 Umat Se-dharma, Dalam śāstra diungkapkan bahwa manakala hidup menjelma menjadi manusia lalu ingkar terhadap pelaksanaan dharma, bahkan bingung dengan agamanya, hanya mengejar kenikmatan dan kepuasan duniawi serta berhati tamak — orang semacam ini disebut jātma kesasar atau manusia sesat. Sesungguhnya hidup menjelma menjadi manusia sangatlah utama, suatu kesempatan untuk memperbaiki dan membenahi…

  • Suryasahasrasya (BG XI.12)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)22 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Suryasahasrasya (BG XI.12) Suryasahasrasya diibaratkan laksana cahaya seribu matahari yang terbit secara bersamaan dan memancarkan sinar yang cemerlang di angkasa. Sesungguhnya, cahaya tersebut melambangkan sinar keadilan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kekuasaan Tuhan meliputi angkasa, jagat raya, dan seluruh alam semesta. Keadilan-Nya dianugerahkan kepada semua…

  • Pritih (BG. I.36)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI(MUTIARA KATA DHARMA) 14 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Pritih (BG. I.36) Pritih adalah kebahagiaan, kesenangan, dan kenikmatan. Setiap perbuatan ada yang mengakibatkan kebahagiaan dan ada pula yang mengakibatkan kesengsaraan atau papam. Keduanya akan dinikmati hasilnya oleh karta atau pelaku. Kebahagiaan dan kesengsaraan (papam) selalu berdampingan sebagai buah dari perbuatan manusia. Oleh karena…

  • Filosofi Arthasya Saṁgrahe

    Disajikan sebuah topik dalam konteks rumah tangga, yakni Arthasya Saṁgrahe yang berarti: hendaknya suami melibatkan istrinya dalam hal pengumpulan dan penggunaan harta kekayaan. Mari kita pahami ajaran luhur mengenai Arthasya Saṁgrahe dalam pustaka suci Mānava Dharmaśāstra Sloka IX.11 berikut ini: “अर्थस्य संग्रहे चैनां व्यये चैव नियोजयेत्शौचे धर्मे ऽन्नपक्त्याञ् च पारिणाह्यस्य वेक्षणेarthasya saṁgrahe caināṁ vyaye caiva…

  • Prajñā-vādān (BG II.11)

    DHARMAŚABDANAM MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA) I Ketut Subagiasta Prajñā-vādān adalah kata-kata orang bijak. Orang bijak berkata atas dasar pikiran yang baik dan benar. Perkataan orang bijak dijadikan pedoman dalam bertindak. Ada sebuah pertanyaan dari orang bijak: berapakah jumlah dosen Hindu di Indonesia? Jawaban yang bijak semestinya diberikan oleh orang-orang bijak yang memiliki kewenangan dan kebijakan…

  • Filosofi Aśvatthaṁ

    Disajikan sebuah topik Aśvattha, yaitu pohon suci yang disebut sebagai tanaman abadi sejenis pohon beringin, yang akarnya ke atas dan dahannya ke bawah. Pemahaman ini berasal dari ajaran luhur dalam Bhagavad Gītā XV.1, yang dikutip sebagai berikut: श्रीभगवानुवाचऊर्ध्वमूलमधःशाखमश्वत्थं प्राहुरव्ययम् ।छन्दांसि यस्य पर्णानि यस्तं वेद स वेदवित् ॥ १५-१॥ śrī bhagavān uvāca:ūrdhva-mūlam adhaḥ-śākham aśvatthaṁ prāhur avyayam,chandāṁsi…