Bangun Pura dalam Diri

Mutiara Weda
22/03/2026

Umat sedharma, jika dipahami bahwa belajar agama dan ajaran kerohanian bukanlah untuk menyakiti orang lain, dan bukan pula untuk memerangi sesama, melainkan sebagai pedoman dan tuntunan hidup untuk memperhalus jiwa serta memperkokoh buddhi.

Apabila ajaran agama dan ajaran kesucian spiritual digunakan untuk menyakiti orang lain, apalagi hanya sekadar untuk memamerkan diri (rājasika), maka hal tersebut mencerminkan rendahnya kualitas rohani dan tingkatan spiritual seseorang. Kondisi ini cenderung melahirkan kekerasan jiwa serta mematikan rasa kemanusiaan.

Oleh karena itu, sebagai umat Hindu, sudah menjadi kewajiban untuk membangun “pura dalam diri”, yaitu padma hṛdaya, melalui peningkatan kualitas rohani atau spiritualitas dengan tuntunan ajaran agama dan ajaran kesucian spiritual yang benar, guna memperhalus jiwa dan memperkokoh buddhi. Niscaya, kehidupan yang satyam, śivam, dan sundaram akan dapat terwujud.
(Śāstra Sāra 14 & Manusmṛti IV.138)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Visudha Karma

    Mutiara WedaYogyakarta, 19/05/2025 Umat Se-dharma, dalam pustaka suci Weda menyebutkan:Sesungguhnya semua umat manusia memiliki kebebasan, bebas menentukan kehendaknya dan sepenuhnya pula bertanggung jawab atas semua perbuatannya sendiri — Svatantra Katah. Demikian pula, tak satu pun manusia bisa luput dari kerja walaupun hanya sesaat, oleh hukum alam manusia dibuat tidak berdaya untuk selalu bekerja. Kualitas perbuatan…

  • Munayaḥ (Śiva Purāṇa 17)

    DHARMAŚABDANAM MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA) I Ketut Subagiasta Munayaḥ (Śiva Purāṇa 17) Munayaḥ berarti orang-orang bijak. Dialog orang bijak mengajarkan tentang tujuan hidup yang ingin dicapai, yaitu mukti (kelepasan). Apakah sarana yang digunakan? Yaitu yajña, berupa persembahan yang nirmala (suci) sesuai dengan kemampuan. Apakah jenis-jenis yajña itu? Yaitu bhakti melalui sesajen atau persembahan, karma melalui…

  • Duratyayā (BG VII.14)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)Senin, 10 Agustus 2026Oleh I Ketut Subagiasta Duratyayā (BG VII.14) Duratyayā adalah terobosan, menerobos, atau upaya untuk menembus berbagai hambatan. Setiap manusia hendaknya memiliki semangat untuk melakukan terobosan melalui tindakan nyata, upaya inovatif, langkah kreatif, perbaikan berkelanjutan, serta usaha untuk menyelesaikan berbagai permasalahan. Dengan demikian, akan ditemukan cara terbaik dalam mengatasi…

  • Filosofi Sugihan

    Mutiara WedaYogyakarta, 11/06/2026 Umat sedharma, salah satu kewajiban umat Hindu menjelang perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan adalah melaksanakan upacara penyucian yang dikenal dengan Sugihan sebagai bagian dari rangkaian Hari Raya Galungan. Sugihan Jawa dan Sugihan Bali memiliki makna penyucian Bhuana Agung (alam semesta) dan Bhuana Alit (diri manusia). Sugihan Jawa dilaksanakan pada Kamis Wage…

  • Filosofi Amṛtasnātaka

    Disajikan sebuah topik tentang Amṛtasnātaka, artinya seorang yang tekun dalam brata dan taat menjalani brahmacārī. Mari dipahami ajaran suci dalam pustaka Sārasamuccaya, Sloka 255, yang dikutip sebagai berikut: “amāvāsyāṁ caturdaśyāṁ pūrṇamāsyāṣṭamīṣu ca,brahmacārī bhaven nityam amṛtasnātako dvijaḥ.” Nihan tācāranikang sang brāhmaṇa, yan ring amāwāsyā, caturdaśī, ring pūrṇamā, ring aṣṭamīkāla kunēng, brahmacārya juga sira, haywa parēking strī,…

  • Sumber Dharma yang Menjadi Napas dan Pijakan bagi Umat Hindu di Nusantara

    Mutiara WedaYogyakarta, 07/08/2026 Umat sedharma, dalam Pustaka Suci Weda diuraikan: Idānīṁ dharma-pramāṇāny āha, vedo’khilo dharmamūlam … dst., yang bermakna bahwa seluruh Pustaka Suci Weda merupakan sumber Dharma. Selanjutnya, adat istiadat, tingkah laku yang terpuji dari orang-orang bijaksana yang mendalami ajaran Weda, tata cara kehidupan orang-orang suci, serta akhirnya kepuasan batin pribadi (Ātmanastuti) juga menjadi sumber…