Bangun Keseimbangan di Dalam Diri

Mutiara Weda
21/12/2025

Umat sedharma, pemusatan dan pengendalian pikiran dari pengaruh indria (pancaindra) atau hawa nafsu—citta-vṛtti-nirodha—menjadi faktor penting dalam menjalankan proses kehidupan di dunia ini, di alam saṁsāra.

Orang yang mampu mengendalikan dirinya dari pengaruh-pengaruh indria dan hawa nafsu bagaikan seekor penyu yang menarik seluruh anggota badannya ke dalam cangkangnya. Orang yang berperilaku demikian sesungguhnya adalah pribadi yang stabil dan seimbang di dalam dirinya. Ia akan memiliki keteguhan serta kekuatan hati, disertai kuatnya rasa syukur dan angayubagia (kebahagiaan batin). Ia tidak akan terlalu bersedih hati ketika menghadapi cobaan hidup, demikian pula tidak akan terlalu bergirang saat memperoleh keberuntungan dan kebahagiaan.

Oleh karena itu, marilah sebagai umat Hindu kita membangun keseimbangan dalam diri, baik secara lahir maupun batin, dengan jalan memusatkan serta mengendalikan pikiran dari pengaruh-pengaruh indria melalui citta-vṛtti-nirodha. Dengan demikian, kita terhindar dari cengkeraman unsur-unsur Ṣaḍ Ripu (enam musuh dalam diri) dan Sapta Timira (tujuh kegelapan batin), sehingga mampu bersikap netral terhadap apa pun yang dialami.

Niscaya, dengan cara inilah akan terbangun kualitas umat Hindu yang memiliki mental rohani yang stabil dan kuat, serta ketahanan mental yang prima di dalam diri.
(SS. II.51–56)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU
Penyiaran Hindu (BPH) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Ngayah – Bentuk Karma Suci

    Mutiara WedaYogyakarta, 22 Juli 2025 Umat Se-Dharma, Dalam pustaka suci disebutkan:Kurvan eveha karmāṇi, jijīviṣet śataṁ samāḥ,… dst. Sesungguhnya hakikat hidup sebagai manusia yang terlahir di dunia ini adalah untuk melakukan kerja. Bekerja adalah suatu kewajiban dan bentuk kebajikan. Berbuatlah hanya demi kewajiban, bukan semata-mata karena hasil perbuatan yang diinginkan. Jangan pula pahala menjadi satu-satunya motif….

  • Karma Wesana Sang Pengikut Setia

    Mutiara Weda22/09/2025 Umat se-dharma, kualitas karma itu sangat menentukan kehidupan umat manusia, baik dalam kehidupan terdahulu (atīta [masa lalu]), kehidupan sekarang (vartamāna [masa kini]) maupun kehidupan yang akan datang (nāgata [masa depan]) dalam Tri Samaya (tiga dimensi waktu). Proses kehidupan yang selalu berputar-putar atau berulang-ulang: lahir (utpatti [kelahiran]), hidup (sthiti [kehidupan]), dan mati (pralīna [kematian])…

  • Filosofi Brahmacārī

    Oleh I Ketut Subagiasta Disajikan topik Brahmacārī, artinya pelajar, sesuai ajaran luhur dalam pustaka suci Mānava Dharma Śāstra Sloka VI-87 yang dikutip sebagai berikut: “ब्रह्मचारी गृहस्थश् च वानप्रस्थो यतिस् तथाएते गृहस्थ प्रभावाश् चत्वारः पृथगाश्रमः”brahmacārī gṛhasthaś ca vānaprastho yatis tathāete gṛhastha prabhāvāś catvāraḥ pṛthag-āśramaḥ Artinya:“Pelajar, kepala rumah tangga, pertapa di hutan, dan pertapa pengembara—semuanya merupakan empat…

  • Bunga Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 02/10/2026 Umat Se-Dharma, kebahagiaan, kenikmatan, dan kesenangan yang penuh tanpa gangguan akan memberikan ketenteraman bagi Sang Ātman, sehingga dapat mencapai kebahagiaan sejati. Keadaan tersebut akan mengantarkan pada kelahiran yang disebut Deva Yoni, yang disebut pula sebagai Aisvarya, serta menjadi buah atau bunga-bunga Dharma. Demikian pula sebaliknya, manakala pikiran selalu diselimuti oleh bibit Adharma…

  • Kesadaran

    Mutiara WedaYogyakarta, 02/05/2026 Umat Sedharma, dalam susastra diungkapkan: Agne tapas tapyāmahe,upa tapyāmahe tapaḥ. Sesungguhnya kesadaran dan kemampuan digunakan untuk mengekang seluruh indria guna menghasilkan pengetahuan rohani. Membangun sifat kedewataan, yaitu sifat yang penuh dengan kebajikan, dengan menghapus niat buruk menjadi suatu keharusan. Oleh karena itu, marilah sebagai umat Hindu membangun kekuatan kedewataan dengan menyelaraskan dan…

  • Belajar Menyikapi Proses Kehidupan

    Umat Se-Dharma, dalam pustaka suci ada mengungkapkan: tidak ada kekayaan yang menyamai keluhuran pengetahuan, begitu juga tidak ada musuh sejahat kemarahan (Krodha), pun tidak ada kesengsaraan yang menyamai kelobaan. Demikian pula halnya, tidak ada kebahagiaan yang menyamai kemampuan diri dalam melepaskan ikatan nafsu-nafsu (Tyāga). Melepaskan diri dari cengkeraman nafsu menjadi suatu keharusan di zaman ini,…