Filosofi Grhastha Dharma

Disajikan topik mengenai Grhastha Dharma artinya kewajiban keluarga. Maknai ajaran luhur pada pustaka suci MĀNAVADHARMAŚĀSTRA – SLOKA I-118 yang dikutip sebagai berikut:

“देश धर्मान् जाति धर्मान् कुल धर्मांश्च शाश्वतम्
पाषण्ड गण धर्मांश्च शास्त्रे ऽस्मिन्नुक्तवान् मनुः
deśa dharmān jāti dharmān kula dharmāṁśca śāśvatam
pāṣaṇḍa gaṇa dharmāṁśca śāstre ’sminnuktavān manuḥ”

Artinya:
Kewajiban tentang kewarganegaraan, kewajiban khusus pada golongannya sendiri, dan kewajiban abadi keluarga, serta kewajiban para pāṣaṇḍa — semuanya ini telah dinyatakan oleh Manu dalam Dharmaśāstra ini.

Dalam masa berumah tangga memiliki kewajiban mulia atau Grhastha Dharma disajikan berikut ini:

a) Deśa Dharmān artinya kewajiban pada negara.
Maknanya bahwa kewajiban pada negara yakni memperoleh pendidikan layak, menaati peraturan perundangan yang berlaku, membayar pajak, memperoleh keadilan, memperoleh pelayanan adil secara publik, menjaga dan memelihara kemerdekaan RI, cinta tanah air Indonesia tercinta, kewajiban bela negara, dan sebagainya.

b) Jāti Dharmān artinya kewajiban keturunan sendiri.
Maknanya keluarga wajib memiliki keturunan, menjaga nama baik keluarga, memiliki warisan, memiliki perhatian perlindungan keluarga, meneruskan kehidupan beragama Hindu, dan patuh terhadap sasana kula atau peraturan keluarga.

c) Kula Dharmān artinya kewajiban keluarga.
Maknanya bahwa keluarga memiliki pura keluarga, keluarga meneruskan kehidupan beragama Hindu, patuh pada silsilah keluarga, taat pada kepala keluarga. Keluarga wajib berpendidikan yang layak. Keluarga melindungi segenap anggota keluarga termasuk kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, keponakan, mertua, ipar, saudara, adik, kakak, ayah, dan ibu dihormati dalam keluarga.

Intinya bahwa Grhastha Dharma adalah kewajiban dalam berumah tangga yakni deśa dharmān, jāti dharmān, dan kula dharmān.
Tiga kewajiban berumah tangga patut ditaati oleh setiap keluarga Hindu yang sukhinah.
Rahayu. Svaha. Ksama ca Ksami.

Palangka Raya, 7.8.2025

Oleh I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Byaktapuhara Hala (SS. 421)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)7 Agustus 2026Oleh I Ketut Subagiasta Byaktapuhara Hala (SS. 421) Byaktapuhara Hala berarti bencana. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu waspada (pratyakṣa) sebelum terjadi bencana alam (byaktapuhara hala prakṛti). Pada musim kemarau (prāvṛt), sering terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sementara itu, pada musim hujan (varṣā ṛtu), sering terjadi banjir bandang….

  • Jangan Biarkan Racun Bersemayam dalam Diri

    Mutiara Weda29/05/2025 Umat Se-dharma, dalam sesanti ada menyebutkan: binatang kalajengking memiliki racun yang terletak di ekornya, demikian pula binatang ular memiliki racun yang sangat berbisa di taringnya. Namun berbeda halnya dengan orang yang licik, picik, dan jahat—seluruh tubuhnya diliputi oleh racun yang sangat berbisa. Melakukan tindakan kejahatan atau perbuatan buruk (Asubha Karma) dapat dipastikan akan…

  • Suśīla (Sārasamuccaya 159)

    DHARMAŚABDĀNĀṂ MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA)7 Juli 2026 Oleh: I Ketut Subagiasta Suśīla (Sārasamuccaya 159) Suśīla adalah perilaku yang baik. Suśīlawan yaitu orang yang unggul dalam berperilaku baik di tiga dunia atau triloka. Suśīlawan dan Suśīlawati mengutamakan suśīla untuk menundukkan triloka. Bangga dan bahagia menjadi Suśīlawan dan Suśīlawati, karena menjadi manusia teladan di jagat raya. Bagikan…

  • Sevaka Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 14/07/2025 Umat Sedharma, dalam sastra ada tersurat bahwa dilahirkan hidup menjelma menjadi manusia, ingkar akan pelaksanaan Dharma, bahkan bingung dengan agamanya, apalagi hanya mengejar kenikmatan, kepuasan duniawi, serta berhati tamak — orang semacam ini disebut Jadma Kesasar atau manusia sesat. Sesungguhnya hidup menjelma menjadi manusia sangatlah utama, suatu kesempatan untuk memperbaiki / membenahi…

  • Suluh Kehidupan

    Mutiara Weda27/09/2025 Umat sedharma, dalam pustaka suci Weda tersurat bahwa tidak ada sahabat yang lebih tinggi daripada pengetahuan, dan tidak ada musuh yang lebih berbahaya daripada nafsu jahat. Demikian pula, tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatan nasib, karena nasib tidak tertahankan oleh siapapun. Melakukan perbuatan baik (Subha Karma) serta mensinergiskan pikiran, perkataan, dan perbuatan, sambil…

  • Berbuat dengan Ketanpaakuan

    Mutiara WedaYogyakarta, 14/02/2025 Umat se-dharma, dalam susastra ada mengungkapkan: orang yang memiliki keinginan untuk berbuat bebas tanpa keakuan dapat dipastikan akan mendapatkan kedamaian serta keharmonisan dalam hidupnya. Orang yang berjiwa sabar, tenang & tulus ibaratkan air yang masuk ke dalam samudra, walaupun terus-menerus namun tetap tenang tak bergerak. Demikian juga halnya dengan orang yang berjiwa…