Filosofi Asta Prakrti

Disajikan topik filosofi Asta Prakrti artinya delapan sifat alami. Mari dimaknai delapan sifat alami pada pustaka suci Bhagavad Gītā VII-4 yang dikutip sebagai berikut:

“यततामपि सिद्धानां कश्चिन्मां वेत्ति तत्त्वतः ॥ ७-३॥
भूमिरापोऽनलो वायुः खं मनो बुद्धिरेव च

bhūmir āpo ‘nalo vāyuḥ khaṁ mano buddhir eva ca,
ahaṅkāra itīyaṁ me bhinnā prakṛtir aṣṭadhā.“

Artinya:
Tanah, air, api, udara, ether, pikiran, budhi, dan ego merupakan delapan unsur alam-Ku yang terpisah.

Adapun makna filosofi Asta Prakrti, antara lain:

  1. Bhūmih artinya tanah. Makna tanah merupakan sifat mulia menerima siapapun untuk bersinergi dengan alam, asalkan bumi yang dipijak tetap tidak dirusak. Perlu ada rasa hormat dengan bumi. Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung. Bumi itu ibu, langit itu ayah. Ibu dan ayah wajib dihormati. Jangan lalai terhadap ayah dan ibu. Ibu dan ayah sang penuntun heneradi.
  2. Āpah artinya air. Air atau toyam atau odakam atau apah atau tirtha. Sifat air adalah mengalir. Kapanpun air dibendung wajib dialirkan. Air jangan dikotori. Air dirawat supaya bersih. Air sumber hidup buat semua. Ada diminum, ada diserap, ada dialirkan untuk yang bermanfaat.
  3. Analo artinya api. Analo atau Teja atau Agni atau kuasa murti Dewa Brahma. Tanpa panas manusia musnah. Dengan api manusia mematangkan makanan. Dewa Brahma wajib dihormati. Manusia memiliki sifat api yang bermakna semangat berkobar, semangat tinggi, pantang menyerah.
  4. Khaṁ artinya langit/eter. Maknanya bahwa langit itu akasa atau angkasa atau ether. Langit nampak namun tak bisa dipegang. Manusia gantungkan cita-cita setinggi langit. Manusia hormat terhadap Sang Hyang Akasa, Sang Hyang Surya, Sang Hyang Candra, Sang Hyang Naksatram, Sang Hyang Tara. Manusia wajib menjadi orang bersifat penerang yang jelas atau arsetik.
  5. Vāyu artinya angin. Vāyu atau bayu atau angin atau hawa atau udara. Manusia memiliki sifat bagai angin, dapat dirasakan namun tak tampak. Manusia hidup karena ada angin. Denyut nafas ada karena peredaran angin pada sarira. Kapan angin hilang dari nafas itu cihna (tanda) mrtyu (mati). Angin wajib dihormati. Sang Hyang Bayu adalah Sang Hyang Siva. Sang Hyang Siva menyasa angin. Sang Hyang Brahma menyasa api. Sang Wisnu menyasa air. Api, air, angin ada dalam manusia. Unsur manusia wajib ada unsur ketuhanan apah, teja, dan bayu. Menghormati Tuhan Yang Maha Esa sama dengan menghormati diri sendiri. Hormati diri dengan hormati Sang Hyang Vidhi Madawa Dewacmelayami Tuhan. Manawa sewa melayani manusia. Melayani manusia sama dengan melayani Tuhan. Melayani Tuhan sama dengan melayani manusia.
  6. Manah artinya pikiran. Pikiran atau idep atau mano atau manacika atau vitta. Pikiran wajib suci, tenang, jernih, damai, dan pikiran nurmala. Jangan berpikiran negatif atau asucih.
  7. Buddhi artinya intelek, buddhi, akal. Manusia memiliki buddhi atau kecerdasan atau akal atau intelek atau keterampilan atau skill atau pengalaman. Mari miliki subudhi, jangan miliki durbudhi atau akal jahat. Menjadilah orang bersifat berbudhi pekerti yang luhur.
  8. Ahaṁkāra artinya ego, keakuan. Setiap manusia memiliki ahaṁkāra atau ego atau keakuan atau kekuatan. Ahaṁkāra perlu disinergikan atau dikolaborasikan dengan kekuatan lain yang bersinergi atau saling melengkapi. Ego perlu dikontrol. Ego jangan ditabrakkan. Ego perlu adaptif atau saling menyesuaikan diri. Ego bukan dihapus, namun perlu dikombinasikan secara positif.

Intinya bahwa Asta Prakrti merupakan delapan sifat yang alami dimiliki setiap manusia sesuai ajaran ketuhanan Hindu.

Rahayu. Svaha. Ksama ca Ksami.

Palangka Raya, 20.5.2025

I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Nava Susila (BG XIII.7)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)27 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Nava Susila (BG XIII.7) Nava Susila adalah sembilan kesusilaan. Kehidupan sosial hendaknya dituntun oleh nilai sembilan perilaku susila, antara lain: Segala persoalan atau sarva samasya hendaknya diselesaikan dengan berlandaskan sembilan perilaku susila tersebut. Harapannya, kehidupan yang aman, nyaman, rahayu, bahalap, becik, dan tenteram bersama…

  • Karma Wesana Sang Pengikut Setia

    Mutiara Weda22/09/2025 Umat se-dharma, kualitas karma itu sangat menentukan kehidupan umat manusia, baik dalam kehidupan terdahulu (atīta [masa lalu]), kehidupan sekarang (vartamāna [masa kini]) maupun kehidupan yang akan datang (nāgata [masa depan]) dalam Tri Samaya (tiga dimensi waktu). Proses kehidupan yang selalu berputar-putar atau berulang-ulang: lahir (utpatti [kelahiran]), hidup (sthiti [kehidupan]), dan mati (pralīna [kematian])…

  • Krta Niscayah (BG.II.37)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)17.7.2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Krta Niscayah (BG.II.37) Krta Niscayah adalah bulatkan tekad, teguhkan pikiran. Bangkit, berjuang, berkarya. Jangan ada keraguan. Bulatkan tekad mulia. Teguhkan pikiran luhur. Berkembang luhung penuh dedikasi. Bangkit, bangun, bangga, raih prestasi. Mari dimaknai filosofi Krta Niscayah, yakni bulatkan tekad dengan pikiran luhur. Bagikan ke:

  • Jadikan Doa Sebagai Benteng

    Mutiara WedaYogyakarta, 16/09/2025 Umat se-dharma, umat Hindu memiliki keyakinan bahwa memuja kebesaran, keagungan, dan kemuliaan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Ida Sang Hyang Parama Kawi adalah suatu kewajiban (Nama Smaraṇam). Serta, selalu mendekatkan dan berpasrah diri ke hadapan-Nya dengan memancarkan doa-doa pujaan sebagai Kavaca (pagar pelindung) dalam diri masing-masing. Pengucapan doa-doa pujaan atau…

  • Tutur Agama Menjaga Manusia

    Mutiara WedaYogyakarta, 13/06/2026 Umat sedharma, menjaga dan merawat anugerah Tuhan merupakan suatu kewajiban bagi setiap umat manusia. Kebenaran dan kebajikan dijaga melalui perilaku yang baik. Begitu pula sastra-sastra suci dijaga dengan keteguhan hati dan kesucian pikiran. Demikian pula halnya dengan kelahiran sebagai manusia yang dapat dijaga melalui tuntunan agama, budi pekerti, dan etika yang baik….

  • Cakra Dharma

    Mutiara Weda Yogyakarta, 01/10/2025 Umat sedharma, sifat melayani akan nilai-nilai dharma (Dharma-sevanam) merupakan bagian dari ethos kerja atau karma baik (śubha-karma) sesuai ajaran ethika Hindu. Sifat melayani terhadap nilai kebajikan pada sesama (Dharma-sevanam) akan dapat membangun kesucian diri serta menjadi pondasi dasar dalam mengarungi kehidupan bagi setiap umat Hindu. Dari kesucian akan lahir kemuliaan, dari…