Filosofi Candramasi

Disajikan uraian dengan topik Filosofi Candramasi, artinya yang ada dalam bulan. Mari dipahami dengan bijak ajaran luhur pada pustaka suci Bhagavad Gītā – XV-12 yang dikutip sebagai berikut:

“यदादित्यगतं तेजो जगद्भासयतेऽखिलम् । यच्चन्द्रमसि यच्चाग्नौ तत्तेजो विद्धि मामकम् ॥ १५-१२॥ yad āditya-gataṁ tejo jagad bhāsayate ‘khilam, yac candramasi yac cāgnau tat tejo viddhi māmakam.

Artinya: Cahaya, yang menetap pada matahari menerangi seluruh dunia, yang ada pada bulan dan dalam api, ketahuilah bahwa sinar itu adalah cahaya-Ku.

Adapun makna ketuhanan yang luhur tentang filosofi Candramasi adalah sinar bulan ada terus selama musim Dakṣiṇāyana sampai titik selatan atau prāpya, yakni setelah mencapai batas selatan garis khatulistiwa yang akhirnya vartate atau sinar bulan kembali menyinari bumi ke arah utara atau Uttarāyaṇa garis khatulistiwa. Perlahan bergeser ke arah utara, pertanda musim kemarau akan berakhir kembali bila bulan Oktober tiba. Yang dimulai Oktober sampai April, pertanda lagi ada perubahan musim. Alam Indonesia memiliki dua musim, yakni musim penghujan dan musim kemarau.

a) Āditya-gatam artinya yang menetap pada matahari. Maknanya bahwa ajaran ketuhanan Hindu antara Teja atau sinar, atau Dīpta atau Jyotir atau Prabhā atau Cahaya dari Matahari atau Sang Hyang Surya dan sinar Sang Hyang Candra sama-sama memberikan ciri atau tanda atau isyarat Ṛtam Bhuwana atau hukum dunia yang niskala bahwa jagat atau dunia dengan Bhāsayate yakni Surya menerangi, menyinari secara akhilam atau seluruh; artinya sinar dari Surya dan Sinar terjadi sinergi Ṛtam niskala atau hukum Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

b) Candramasi artinya yang ada dalam bulan, yang bersinar semakin terang tanpa lagi diselubungi dhūma atau asap yang semakin menipis. Antara sinar Candra dan sinar Surya bagai yat ca agnau yakni yang ada dalam api sebagai sakti atau kekuatan. Viddhi atau Yang Maha Mengetahui, ketahuilah, ya Mamakam adalah milik-Ku, artinya Sinar Surya dan Sinar Candra adalah sinar Sang Hyang Widhi. Peredaran sinar Surya dan sinar Candra wajib dicermati secara subhadewasa dan asubhadewasa atau hari baik dan hari buruk. Peredaran Surya Candra menjadi siklus haya ayu jagat atau sukrta duskrta bumi. Saat Purnama Tilem tersebut tetap dimuliakan sinar suci Sang Hyang Widhi. Umat Hindu diberikan pembelajaran alami dari perspektif Teja atau Prabhā atau Cahaya, atau Jyotir atau Dīpta atau Sinar. Umat Hindu diajarkan cermat terhadap shine or light of Sun and light of Moon. Maknanya umat Hindu memaknai eksistensi Widhi itu dari Teja atau sinar Surya ca Candra sebagai Ṛtam niskala yang menuntun kehidupan umat Hindu di seluruh dunia. Ayo sraddhā! Ingat puja Surya, ingat puja Candra. Sinar Terang dan sinar Lembut itu ciri sakti Widhi Wasa.

Intinya, Candramasam dan Candramasi merupakan sinar bulan beralih ke sinar Surya ke arah Uttarāyaṇa. Pilih saat Surya Uttarāyaṇa, ya Kāla Mṛtyu Mahottama supaya terang menuju Sunyaloka. Sama-sama sebagai pengantar sampai ke Sivaloka yang mūrtinya Candra ca Surya. Mogi rahayu. Svaha. Kṣama ca Kṣami.

Palangka Raya, 8.5.2025

Oleh I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Sad Ripu dan Sapta Timira: Musuh Utama Manusia

    Mutiara WedaYogyakarta, 31 Juli 2026 Umat Sedharma, Dalam susastra disebutkan: Ragādhi musuh maparo rihati yotonggwanya tan madoh riawak. Sesungguhnya, musuh yang paling utama bukanlah orang lain, melainkan berada di dalam diri sendiri sebagai akibat dari kegagalan menyelaraskan unsur-unsur Tri Guna Tattwa, yaitu sattvam, rajas, dan tamas. Kesabaran, kedamaian, serta ketabahan (Ksama) merupakan sifat-sifat luhur yang…

  • Filosofi Mukta

    Diuraikan topik Mukta yang artinya bebas atau kebebasan, sebagaimana tersurat dalam pustaka suci Bhagavad Gītā V-28, dikutip sebagai berikut: “यतेन्द्रियमनोबुद्धिर्मुनिर्मोक्षपरायणः ।विगतेच्छाभयक्रोधो यः सदा मुक्त एव सः ॥ ५-२८॥yatendriya-mano-buddhir munir mokṣa-parāyaṇaḥvigatecchā-bhaya-krodho yaḥ sadā mukta eva saḥ” Artinya:Menguasai pañca indria, pikiran, dan kecerdasan, seorang Muni yang berhasrat mencapai kelepasan, membuang jauh nafsu, takut, dan murka, mereka akan…

  • Mebrata: Bentuk Janji atas Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 26 Juli 2026 Umat Sedharma, Jika kita renungkan, selama ketidakjujuran menjadi dasar dalam setiap perbuatan, dapat dipastikan bencana dan malapetaka akan menimpa, sehingga seseorang tidak mampu melepaskan diri dari belenggu ikatan duniawi. Sebaliknya, apabila ketulusan hati (Arjawa) dijadikan landasan dalam berpikir, bertutur kata, dan berbuat, niscaya akan diperoleh kekuatan pikiran yang luhur. Sesungguhnya,…

  • Aṣṭa Coraḥ ca Ṣaḍātatāyī (Slokāntara 74)

    DHARMAŚABDĀNĀṂ MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA)3 Juli 2026 Oleh: I Ketut Subagiasta Aṣṭa Coraḥ ca Ṣaḍātatāyī (Slokāntara 74) Aṣṭa Coraḥ dan Ṣaḍātatāyī adalah delapan perbuatan curang dan enam perbuatan kejam. Ada caturdaśa atau empat belas perbuatan curang dan kejam, antara lain: membegal, merampas, merampok, mengamuk, menganiaya, membunuh, menyihir, meracun, mencuri, memfitnah, memancung, menyakiti, merusak, dan menipu….

  • Sentuhan Pancaran Sinar Suci

    Mutiara Weda Yogyakarta, 5 Juli 2026 Umat Se-dharma, tujuan utama berbhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sesungguhnya adalah untuk mendapatkan rasa cinta kasih sayang dari-Nya yang senantiasa terpancar kepada seluruh ciptaan-Nya. Pancaran kasih sayang Ida Sang Hyang Widhi Wasa bagaikan sinar matahari yang menyinari bumi beserta seluruh alam semesta dan segala isinya. Mereka…

  • Muhyanti Jantavaḥ (Bhagavadgītā V.15)

    DHARMAŚABDĀNĀṂ MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA)30 Juni 2026 Oleh: I Ketut Subagiasta Muhyanti Jantavaḥ (Bhagavadgītā V.15) Muhyanti Jantavaḥ berarti makhluk-makhluk yang tersesat. Manusia yang tersesat, meskipun pada awalnya memiliki kebajikan, apabila kemudian melakukan berbagai perbuatan berdosa, tidak akan memperoleh penerimaan dari Sang Hyang Widhi Wasa. Perbuatan yang menyesatkan antara lain: bunuh diri, menyakiti orang lain, menyiksa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *