Filosofi Pandita

Berbahagia disajikan topik Filosofi Pandita, yaitu menaati Tri Sasana Pandita yang wajib ditaati dengan suci. Mari dimaknai tentang ajaran Tri Sasana Pandita pada pustaka suci Sārasamuccaya – Sloka 61 yang dikutip sebagai berikut ini:

“rājā bhirur brāhmanah sarvabhakso vaicyo’nīhāvān hīnavarno’lasaṣco, vidvānacilo vṛttahīnah kulīnah bhrasto brāhmaṇah strī ca duṣþā.
Hana pwa mangke kramanya, ratu wēdi-wedi, brāhmana sarwabhaksa, waicya nirutsāha ring krayawikrayādi karma, ṣudra alēmēn sewaka ring sang triwarna, paṇḍita duṣṣila, sujanma anasar ring maryādānya, brahmana tan satya, strī duṣþra duṣṣila.

Artinya:
Jika ada hal yang demikian keadaannya: raja yang pengecut, brahmana doyan segala makanan, waisya yang tidak ada kegiatan dalam pekerjaan berniaga, berjual beli dan sebagainya, sudra enggan, tidak suka mengabdi kepada triwarna, pandita yang bertabiat jahat, orang yang berkelahiran utama nyeleweng dari hidup sopan santun, brahmana yang curang dan wanita yang bertabiat nakal dan berlaku jahat.

Adapun sajian Filosofi Tri Sasana Pandita, antara lain:
a) Sasana Brahmana Sarvabhaksa, yaitu brahmana doyan segala makanan. Makanan hendaknya tetap diperhatikan bagi pandita. Diupayakan makanan yang satvika atau makanan suci.
b) Paṇḍita Duṣṣila, yaitu pandita yang bertabiat jahat. Pandita berusaha terus-menerus berperilaku susila. Hindari perbuatan asusila.
c) Brahmana tan satya, yaitu brahmana yang curang. Sebagai pandita tidak boleh berbuat curang. Pandita wajib jujur atau arjawa. Pandita menegakkan perilaku satya. Sebaliknya, tidak boleh asatya.

Sungguh mulia menjadi pandita. Namun pandita tidak boleh terlena dengan godaan hidup. Pandita wajib memegang teguh Sasana Pandita.

Intinya, Tri Sasana Pandita selalu dipegang teguh. Jangan sampai terlena godaan dunia, perhatikan makanan atau sarvabhaksa, hindari dussila, dan wajib satya. Tri Sasana Pandita wajib ditaati dengan tulus dan nirmala.

Rahayu. Svsha. Ksama ca Ksami.

Palangka Raya, 9.12.2024

I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Ahning Maneb Manah Nira

    Mutiara Weda Yogyakarta, 09/10/2026 Umat se-dharma, dalam susastra disebutkan: Dve karmāṇi naraḥ kurvan iha loke mahīyate; ada dua macam perbuatan yang menyebabkan seseorang menjadi bijak dan mulia, yaitu tidak sekali-kali mengucapkan perkataan yang kasar (tan ujar ahala), serta tidak sekali-kali berpikiran untuk melakukan perbuatan jahat dan tercela. Perbuatan dan perkataan yang mengandung niat jahat tiada…

  • Viśuddha Karma

    Mutiara WedaYogyakarta, 15/03/2026 Umat se-dharma, dalam pustaka suci Weda disebutkan: sesungguhnya semua umat manusia memiliki kebebasan, bebas menentukan kehendaknya, dan sepenuhnya pula bertanggung jawab atas semua perbuatannya sendiri, yang disebut svatantra kartā (pelaku yang bebas menentukan tindakan). Demikian pula, tak satu pun manusia dapat luput dari kerja walaupun hanya sesaat; oleh hukum alam, manusia tidak…

  • Sāttvika Yajña

    Mutiara WedaYogyakarta, 17/02/2026 Umat Se-dharma, melaksanakan Pañca Mahā Yajña (lima korban suci besar) merupakan kewajiban suci dari petunjuk pustaka suci Weda Saṃhitā sebagai penyangga bumi, alam semesta beserta isinya, karena alam dan manusia diciptakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui yajña. Ada lima unsur penting dalam meyajña (melaksanakan yajña): Oleh karena itu, sebagai umat Hindu…

  • Siklus Kehidupan

    Mutiara Weda Yogyakarta, 08/05/2025 Umat se-dharma, jika disadari, sesungguhnya setiap umat manusia tidak akan pernah lepas dari tiga siklus alur kehidupan: Utpeti, Sthiti, dan Pralina (kelahiran, kehidupan, dan akhirnya menuju kematian/kembali ke asal) sebagai tiga kemahakuasaan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa Tri Kona. Setiap manusia hidup ke dunia ini memiliki tenaga/kekuatan yang disebut Udana…

  • Kebahagiaan Sāttvika

    Mutiara WedaYogyakarta, 24/02/2026 Umat Sedharma, tujuan hidup menjelma menjadi manusia sesungguhnya adalah untuk mendapatkan kebahagiaan, baik kebahagiaan sekala (nyata) maupun kebahagiaan niskala (rohani) nantinya, dengan menempatkan kesucian pikiran menjadi barometer dalam mencapainya. Kebahagiaan jika dilihat dari sifatnya dapat diklasifikasikan dalam tiga bentuk yaitu: kebahagiaan yang timbul dari hubungan antara indra dengan objek duniawi disebut dengan…

  • Kitab Suci Weda: Pemersatu Umat Hindu

    Mutiara WedaYogyakarta, 25 Juli 2026 Umat Sedharma, Dalam pustaka suci disebutkan: Śrutis tu vedo vijñeyo dharmaśāstram tu vai smṛtiḥte sarvārtheṣv amīmāṁsye tābhyāṁ dharmo hi nirbabhau Artinya: Yang dimaksud dengan Śruti adalah Weda, sedangkan Smṛti adalah Dharmaśāstra. Kedua pustaka suci ini tidak boleh diragukan kebenaran ajarannya, karena keduanya merupakan sumber Dharma serta menjadi pegangan hidup (agem-ageman)…