Upalaksana (SS. 140)

DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)
21 Agustus 2026
Oleh I Ketut Subagiasta

Upalaksana (SS. 140)

Upalaksana berarti perbuatan jahat yang dapat menjadi sumber bencana besar. Bencana dapat terjadi akibat ulah jahat manusia itu sendiri. Ibarat seekor kijang yang melahirkan satu anak dan merawatnya dengan baik, sedangkan seekor serigala yang melahirkan enam sampai tujuh anak justru memakan anak-anaknya satu per satu hingga habis. Analogi tersebut mengingatkan manusia bahwa alam semesta wajib dirawat dan dijaga dengan baik.

Realitas menunjukkan bahwa hutan dapat menjadi gundul akibat ulah manusia, termasuk illegal logging. Akibatnya, pada musim hujan dapat terjadi banjir bandang, tanah longsor, serta kerusakan fasilitas umum yang diterjang banjir besar.

Marilah kita merawat alam dengan baik melalui filosofi ekoteologi. Merawat hutan agar alam tidak gundul; merawat api agar tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menimbulkan kabut asap; merawat air agar tidak tercemar; merawat udara agar tetap segar dan menyehatkan; serta merawat tanah atau bumi agar tidak rusak dan tercemar.

Marilah memaknai filosofi Upalaksana sebagai pembelajaran agar manusia tidak melakukan perbuatan jahat yang dapat merusak alam dan kehidupan. Svaha.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Pentingnya Menjaga Keseimbangan dalam Diri

    Mutiara Weda Yogyakarta, 12/05/2026 Umat se-dharma, tujuan utama berbhakti ke hadapan Ida Saṅ Hyang Widhi Wasa sesungguhnya adalah untuk memperoleh rasa cinta kasih dari-Nya yang senantiasa terpancar kepada seluruh ciptaan-Nya. Pancaran kasih sayang Ida Saṅ Hyang Widhi Wasa bagaikan sinar matahari yang menerangi bhūmi beserta seluruh alam semesta dan isinya. Namun, mereka yang merasa tidak…

  • Moghaṁ Sa Jīvati (Bhagavadgītā III.16)

    DHARMAŚABDANAM MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA)26 Juni 2026 Oleh I Ketut Subagiasta Moghaṁ Sa Jīvati berarti “ia hidup sia-sia”. Oleh karena itu, marilah menjalani hidup yang penuh makna dan manfaat. Hindarilah bunuh diri, jauhilah segala bentuk perbuatan buruk, hindarilah perkataan yang menyinggung perasaan orang lain, serta bersihkan pikiran dari hal-hal yang negatif. Hidup ini adalah anugerah…

  • Jalankan Svadharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 23/09/2025 Umat Se-dharma, Dalam śāstra diungkapkan bahwa manakala hidup menjelma menjadi manusia lalu ingkar terhadap pelaksanaan dharma, bahkan bingung dengan agamanya, hanya mengejar kenikmatan dan kepuasan duniawi serta berhati tamak — orang semacam ini disebut jātma kesasar atau manusia sesat. Sesungguhnya hidup menjelma menjadi manusia sangatlah utama, suatu kesempatan untuk memperbaiki dan membenahi…

  • Prathisthita (BG. II.68)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)2.10.2026Oleh I Ketut Subagiasta Prathisthita artinya perkasa, teguh, kokoh, kuat, dan mantap. Jadikanlah diri, lahir dan batin, senantiasa Prathisthita, tetap perkasa dalam menghadapi segala objek keinginan dalam kehidupan. Jangan biarkan diri dibimbangkan oleh berbagai godaan dan keinginan duniawi. Mari kita membangun keteguhan diri, lahir dan batin, agar tetap kokoh dalam menjalani…

  • Filosofi Yajñe Vadha

    Palangka Raya, 23.9.2025 Oleh I Ketut Subagiasta Disajikan sebuah uraian filosofi Yajñe Vadha, artinya penyembelihan hewan untuk upacara agama. Mari dimaknai nilai luhur Yajñe Vadha dalam pustaka suci Mānava Dharmaśāstra V.39 yang dikutip sebagai berikut: यज्ञार्थम् पशवः सृष्टाः स्वम् एव स्वयंभुवा ।यज्ञोऽस्य भूत्यै सर्वस्य तस्माद् यज्ञे वधोऽवधः ॥yajñārtham paśavaḥ sṛṣṭāḥ svam eva svayaṁbhuvā,yajño ’sya bhūtyai…

  • Pentingnya Menjaga Kesucian Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 9 Juli 2026 Umat Se-Dharma, kesucian batin akan dapat terwujud apabila kita memiliki kemampuan untuk mengintrospeksi dan mengendalikan diri. Demikian pula, kesucian diri akan mampu membangun kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan. Selanjutnya, dengan keyakinan spiritual, kita akan dapat mewujudkan kebenaran sejati, yaitu Sanatana Dharma. Hakikat kebenaran sesungguhnya merupakan hukum yang abadi, yaitu Ṛta…