Jangan Pelihara Rasa Dengki dalam Diri

Mutiara Weda
Yogyakarta, 09/08/2026

Umat Sedharma, menjauhkan diri dari rasa dengki dan iri hati (mātsarya) merupakan kewajiban dasar dalam membangun tatanan kehidupan umat Hindu yang Satyam, Śivam, dan Sundaram. Kuatkan perbuatan, perasaan hati, serta cinta kasih kepada sesama melalui Prema Vahini. Jangan biarkan sifat iri hati dan dengki terlalu lama bercokol dalam diri.

Manakala batin selalu diselimuti oleh rasa iri hati dan dengki (mātsarya) terhadap sesama ketika melihat kelebihan orang lain, orang seperti ini sesungguhnya menjadi pribadi yang paling menderita dan sengsara dalam kehidupannya. Rasa iri dan dengki yang terus dipelihara akan membuat batin semakin sulit mencapai ketenangan dan kedamaian.

Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi umat Hindu untuk menjauhkan diri dari sifat iri hati dan dengki (mātsarya) dengan melakukan pengekangan diri (Tapa) serta pengendalian indra melalui Yama dan Nyama Brata. Niscaya, akan tercipta tatanan kehidupan yang Satyam, Śivam, dan Sundaram.

(Sarasamuscaya, 89–91)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU
Pinandita Sanggraha Nusantara DIY

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Trayodaśa Jīvan (Bhagavadgītā X.4)

    DHARMAŚABDĀNĀṂ MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA)5 Juli 2026 Oleh: I Ketut Subagiasta Trayodaśa Jīvan (Bhagavadgītā X.4) Trayodaśa Jīvan adalah tiga belas jenis kehidupan. Manusia wajib sadar diri. Ada tiga belas hal yang dialami dalam melakoni kehidupan di alam māyā, antara lain: Umat Hindu wajib melakoni tiga belas jenis kehidupan secara lahir dan batin dengan nirmala, yaitu…

  • Kebahagiaan Sāttvika

    Mutiara WedaYogyakarta, 23/04/2026 Umat sedharma, tujuan hidup menjelma menjadi manusia sesungguhnya adalah untuk mencapai kebahagiaan, baik kebahagiaan sekala (lahir) maupun niskala (batin), dengan menempatkan kesucian pikiran sebagai landasan utama. Kebahagiaan, jika ditinjau dari sifatnya, dapat diklasifikasikan menjadi tiga bentuk. Kebahagiaan yang timbul dari hubungan antara indria dengan objek duniawi disebut kebahagiaan rājasa. Kebahagiaan yang berujung…

  • Bangun Pura di dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 29/07/2025 Umat se-dharma, sesungguhnya belajar agama dan belajar ajaran kerohanian bukanlah untuk menyakiti orang lain, dan bukan pula untuk memerangi orang lain, melainkan sebagai pedoman dan tuntunan hidup untuk memperhalus jiwa dan memperkokoh buddhi. Jika ajaran agama dan ajaran kesucian spiritual digunakan untuk menyakiti orang lain, apalagi hanya sekadar memamerkan diri atau bersifat…

  • Paisunyam (SS.75)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)19.7.2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Paisunyam (SS.75) Paisunyam adalah fitnah. Umat Hindu jangan berkata fitnah atau melakukan Paisunyam (Ujar Pisuna). Fitnah adalah dosa besar. Fitnah adalah berkata dusta. Fitnah adalah berkata yang merusak martabat. Fitnah tidak perlu dibalas dengan dendam atau advesa. Fitnah hendaknya diklarifikasi dengan jujur atau arjawa. Dosa fitnah…

  • Perkuat Nurani dengan Nilai Dharma

    Mutiara Weda11/11/2025 Umat se-dharma, dalam susaastra tersurat: hendaknya ia mengatakan apa yang benar dan mengucapkan apa yang menyenangkan hati orang. Perkuatlah nurani dengan memperkuat nilai-nilai kebenaran (satyam). Demikian pula, jangan sekali-kali mengucapkan kebenaran semu yang menyakitkan, dan jangan pula mengucapkan kebohongan yang menyenangkan. Oleh karena itu, marilah sebagai umat Hindu kita perkokoh dan pertebal hati…

  • Bhoga-Svātantrya

    Mutiara WedaYogyakarta, 28 Mei 2026 Umat se-dharma, dalam sesanti Hindu disebutkan: “Ala ulah ala tinemu, ayu kinardi ayu pinanggih.” Benih padi yang ditanam akan menghasilkan padi, demikian pula benih jagung yang ditanam akan menghasilkan jagung. Demikianlah hakikat Hukum Karma Phala, bahwa setiap perbuatan akan melahirkan akibat yang sepadan dengan sebab yang ditimbulkannya. Manusia tidak memiliki…