Rāgadveṣau (BG III.34)

DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)
17 Agustus 2026
Oleh I Ketut Subagiasta

Rāgadveṣau (BG III.34)

Rāgadveṣau berarti cinta dan tidak membenci. Marilah menumbuhkan rāga svadeśau, yaitu rasa cinta terhadap negeri sendiri, serta adveṣau deśi, yaitu tidak membenci negeri sendiri.

Cintailah bangsa. Cintailah negara. Tumbuhkan rasa cinta terhadap negeri sendiri.

Selamat Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Perkokoh persatuan di antara sesama, tingkatkan semangat kebersamaan, dan bersama-sama membela tanah air Indonesia agar semakin maju, aman, dan sejahtera.

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Svaha.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Hidup dalam Rwa Bhineda

    Mutiara WedaYogyakarta, 13 Juli 2026 Umat Se-Dharma, jika direnungkan, nasib atau takdir yang dialami oleh setiap umat manusia merupakan pengingat dan pertanda bahwa ada kekuatan yang lebih tinggi yang mengatur segala sesuatu, yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Ida Sang Hyang Parama Kawi. Demikian pula dalam menjalani kehidupan di dunia ini, Rwa Bhineda senantiasa…

  • Panca Vidha dalam Agama Hindu

    Mutiara WedaYogyakarta, 17/07/2026 Umat Se-Dharma, dalam ajaran agama Hindu, taat dan patuh kepada orang tua atau Guru Rupaka, serta berbhakti kepada para leluhur merupakan kewajiban bagi sang anak dalam membangun keluarga Hindu yang bahagia, Sukino Bhawantu, nantinya. Ada lima hal yang menyebabkan sang anak wajib berbhakti kepada orang tua (Guru Rupaka) dan para leluhur, yang…

  • Ageng Yasa – Ageng Goda

    Mutiara WedaYogyakarta, 28/04/2026 Umat sedharma, dalam sebuah paribasa diungkapkan bahwa semakin tinggi pepohonan, semakin kencang angin yang menerpanya. Demikian pula dalam kehidupan, semakin banyak melakukan perbuatan atau karya, semakin besar pula godaan dan cobaan yang akan dihadapi. Inilah makna ageng yasa, ageng goda (semakin besar karya, semakin besar godaan). Ketaatan dan kepatuhan terhadap ajaran agama…

  • Satya-Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 08/08/2026 Umat Sedharma, dalam susastra Hindu disebutkan: Satyam nāsti paro dharmo, nānṛtaṁ pātakaṁ param: tidak ada Dharma atau kewajiban suci yang lebih tinggi daripada kebenaran (Satya), dan tidak ada dosa yang lebih rendah daripada dusta. Di mana ada Satya, di sanalah pasti ada Dharma. Kebenaran dan kebajikan tidak dapat dipisahkan serta senantiasa berdampingan…

  • Filosofi Gatāgatam

    Palangka Raya, 01/10/2025 oleh I Ketut Subagiasta Filosofi gatāgatam berarti “datang dan pergi”. Ajaran luhur ini termuat dalam pustaka suci Bhagavadgītā X.21 sebagai berikut: “आदित्यानामहं विष्णुः ज्योतिषां रविरंशुमान् ।मरीचिर्मरुतामस्मि नक्षत्राणामहं शशी ॥ १०-२१॥ ādityānām ahaṁ viṣṇur jyotiṣāṁ ravir aṁśumān,marīcir marutām asmi nakṣatrāṇām ahaṁ śaśi. Artinya:Dari para Āditya (dewa matahari), Aku adalah Viṣṇu; dari benda-benda yang…

  • Trayodaśa Jīvan (Bhagavadgītā X.4)

    DHARMAŚABDĀNĀṂ MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA)5 Juli 2026 Oleh: I Ketut Subagiasta Trayodaśa Jīvan (Bhagavadgītā X.4) Trayodaśa Jīvan adalah tiga belas jenis kehidupan. Manusia wajib sadar diri. Ada tiga belas hal yang dialami dalam melakoni kehidupan di alam māyā, antara lain: Umat Hindu wajib melakoni tiga belas jenis kehidupan secara lahir dan batin dengan nirmala, yaitu…