Rāga-Dveṣa (Bhagavadgītā II.64)

DHARMAŚABDĀNĀṂ MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA)
1 Juli 2026

Oleh: I Ketut Subagiasta

Rāga-Dveṣa (Bhagavadgītā II.64)

Rāga-dveṣa adalah cinta dan benci, kesenangan dan kebencian. Manusia wajib mampu mengendalikan rāga-dveṣa. Cinta dan benci yang terkendalikan akan mengantarkan seseorang memperoleh kedamaian hidup yang tertinggi, yaitu parama śāntiḥ (kedamaian tertinggi).

Sebaliknya, apabila cinta dan benci tidak dapat dikendalikan, maka yang diperoleh adalah penderitaan atau saṃsāra (siklus penderitaan), bahkan dapat berujung pada kesengsaraan yang mendalam atau parama saṃsāra.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Pūrvāgama Śāsana

    Mutiara Weda Yogyakarta, 1 Juli 2026 Umat Se-dharma, umat Hindu dalam menjalankan dharmaning hidup memiliki kewajiban suci yang disebut dharmaning agama, yaitu berkewajiban mempelajari, memahami, dan memancarkan isi Kitab Suci Weda, Dharma Vāhinī, serta memahami berbagai ilmu pengetahuan suci, yaitu Āndrayuga atau Vruh Ring Sarva Jñāna (pengetahuan tentang segala ilmu), sehingga dapat menjalankan wiweka (kemampuan…

  • Orang Jahat Seluruh Tubuhnya Beracun

    Mutiara WedaYogyakarta, 13/01/2025 Umat Se-Dharma, Dalam sesanti ada menyebutkan, binatang kalajengking memiliki racun yang terletak di ekornya. Begitu pula binatang ular, memiliki racun berbisa yang terletak di taringnya. Berbeda halnya dengan orang yang licik, picik, dan jahat, seluruh tubuhnya diliputi oleh racun yang sangat berbisa. Melakukan tindakan kejahatan atau perbuatan buruk (Asubha Karma) dapat dipastikan…

  • Suluh Kehidupan

    Mutiara WedaYogyakarta, 03/11/2025 Umat Sedharma, di dalam pustaka suci Weda tersurat bahwa tidak ada sahabat yang lebih tinggi daripada pengetahuan (jñāna), dan tidak ada musuh yang lebih berbahaya daripada nafsu jahat (kāma durbhāva). Demikian juga, tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatan nasib (daiva) karena nasib tidak tertahankan oleh siapa pun. Melakukan perbuatan baik (śubha karma)…

  • Filosofi Grhasthe Saṁsthitim

    Disajikan sebuah topik Grhasthe Saṁsthitim, artinya semua tahapan kehidupan mendapat perlindungan pada tahap berumah tangga. Mari dipahami ajaran luhur dalam pustaka suci Mānava Dharmaśāstra – Sloka VI.90 yang dikutip sebagai berikut ini: “यथा नदीनदाः सर्वे सागरे यान्ति संस्थितिम्तथैवाश्रमिणः सर्वे गृहस्थे यान्ति संस्थितिम्yathā nadīnadāḥ sarve sāgare yānti saṁsthitimtathaivāśramiṇaḥ sarve gṛhasthe yānti saṁsthitim“ Artinya:Sebagaimana semua sungai, baik…

  • Filosofi Punyakarmanam

    Palangka Raya, 3/6/2025 Oleh I Ketut Subagiasta Disajikan topik Punyakarmanam yang artinya manusia yang berbuat kebajikan. Ajaran ekoteologi ini dimaknai dari pustaka suci Bhagavad Gītā XVIII.71, dikutip sebagai berikut: “श्रद्धावाननसूयश्च श‍ृणुयादपि यो नरः ।सोऽपि मुक्तः शुभांल्लोकान्प्राप्नुयात्पुण्यकर्मणाम् ॥ १८-७१॥”śraddhāvān anasūyaś ca śṛṇuyād api yo naraḥ,so ‘pi muktaḥ śubhāṁl lokān prāpnuyāt puṇya-karmaṇām. Artinya:Orang yang mempunyai keyakinan dan…

  • Tunggalang Idep

    Rahajeng Rahina Suci KuninganDumogi Irage Ajeg Dalam Mengemban Dharma Mutiara WedaYogyakarta, 27 Juni 2026 Umat sedharma, dalam ajaran Tattva diungkapkan bahwa ketika seluruh tattva menyatu, maka seluruh objek tidak lagi tampak, sehingga citta (pikiran) dapat dipusatkan dalam dhyāna (meditasi). Menyatukan seluruh tattva yang berada di bawah kendali buddhi disebut eka citta atau eka buddhi, yang…