Pendidikan Hindu Dimulai Sejak Dalam Kandungan

Mutiara Weda
Yogyakarta, 12/11/2025

Umat se-dharma, jika dilihat dari konsep pendidikan, sesungguhnya pendidikan dalam ajaran Hindu telah dimulai sejak adanya benih bayi dalam kandungan melalui rangkaian upacara śarīra-saṁskāra: garbhādhāna-saṁskāra, puṁsavana-saṁskāra, dan sīmantonnayana-saṁskāra.

Upacara garbhādhāna-saṁskāra dilaksanakan pada saat terjadinya pembuahan benih bayi dalam kandungan. Upacara puṁsavana-saṁskāra dilakukan ketika usia kandungan memasuki tiga bulan. Sedangkan sīmantonnayana-saṁskāra dilaksanakan saat kandungan berusia lima sampai enam bulan, yang dalam tradisi lokal dikenal sebagai upacara pagedong-gedongan (ritus penyucian dan perlindungan ibu hamil).

Oleh karena itu, sebagai umat Hindu sudah menjadi kewajiban untuk melaksanakan seluruh rangkaian śarīra-saṁskāra, sehingga bayi dalam kandungan tumbuh sehat, subur, dan selamat. Niscaya, hal ini akan membentuk karakter, moral, dan budhi pekerti (budi pekerti) luhur sang anak, yang terlahir sehat serta menjadi anak suputra (anak baik dan berbudi).

(Yajur Veda XII.4 & Ṛgveda II.32.4)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Sanggraha Nusantara
(PSN) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Kīrti (Slokāntara 7)

    DHARMAŚABDĀNĀṂ MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA)8 Juli 2026 Oleh: I Ketut Subagiasta Kīrti (Slokāntara 7) Kīrti adalah orang bijaksana dan budiman. Kīrti memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a. tidak dendam atau adveṣa terhadap orang lain;b. selalu jujur atau ārjava terhadap siapa pun;c. tidak marah atau akrodha kepada orang lain;d. tidak curang atau na coraḥ terhadap siapa pun…

  • Mebrata: Bentuk Janji atas Diri

    Mutiara Weda16/03/2025 Umat Sedharma, jika kita renungkan, selama ketidakjujuran menjadi dasar dalam melakukan perbuatan, maka dapat dipastikan bencana dan malapetaka akan menimpanya sehingga tidak mampu melepaskan diri dari belenggu ikatan duniawi. Akan tetapi, manakala ketulusan hati (Arjawa) menjadi dasar dalam berpikir, bertutur kata, dan berperbuatan, dapat dipastikan akan mendapatkan kekuatan pikiran. Sesungguhnya, tidak mementingkan diri…

  • Dharma Intisari Dunia

    Mutiara Weda Yogyakarta, 16/10/2025 Umat sedharma, dalam śāstra Hindu disebutkan: Satyān nāsti paro dharmaḥ, nānṛtaṁ pāpakaṁ param“Tidak ada Dharma yang lebih tinggi daripada kebenaran (Satya), dan tidak ada dosa yang lebih rendah daripada dusta.” Dimana ada Satya, di sana pasti ada Dharma. Kebenaran dan kebajikan tidak dapat dipisahkan, keduanya selalu berdampingan sebagai Satya–Dharma. Hilang dan…

  • Sinergis Dalam Berpikir

    Mutiara WedaYogyakarta, 03/08/2025 Umat Sedharma, dalam pustaka suci Weda ada mengungkapkan: Wahai umat manusia, berhimpunlah, duduklah bersama-sama, pikirkan bersama-sama dan rumuskan sesuatu untuk tujuan bersama, mengajarkan kepada kita, umat sedharma, untuk selalu bersinergis dan bersatu guna mencapai tujuan bersama. Sahrdayam sammanasyam, avidvesam krnomi vah… dst. Ida Sang Hyang Widhi Wasa memberikan sifat-sifat ketulusikhlasan, mentalitas atau…

  • Asatyam (BG XVI.8)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)1 Agustus 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Asatyam (BG XVI.8) Asatyam berarti ketidakjujuran, yaitu tidak jujur, tidak berintegritas, tidak nyata, tidak faktual, tidak benar, berbohong, dan tidak dapat dipercaya. Idep asatyam adalah pikiran yang dilandasi kebohongan. Sabda asatyam adalah perkataan yang tidak jujur. Bayu asatyam adalah perilaku yang dilandasi kebohongan. Sifat…