Hidup Bagaikan Roda Pedati

Mutiara Weda
Yogyakarta, 17/04/2026

Umat sedharma, dalam pustaka suci disebutkan: sukhasyānantaraṃ duḥkham, duḥkhasyānantaraṃ sukham — setelah kebahagiaan datang penderitaan, dan setelah penderitaan datang kebahagiaan. Ajaran ini menunjukkan bahwa ada kekuatan yang lebih tinggi yang mengatur kehidupan, yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Tatkala manusia berbuat baik, ia akan dianugerahi kedudukan yang mulia. Sebaliknya, jika berbuat jahat, Hyang Widhi pula yang memberikan konsekuensinya. Suka maupun duka, surga ataupun neraka, semuanya merupakan bagian dari hukum kehidupan.

Oleh karena itu, marilah sebagai umat Hindu senantiasa menyadari bahwa hidup di alam saṃsāra ini dipenuhi oleh dualitas: kesenangan dan kesedihan yang datang silih berganti dan tidak pernah terpisah. Kedukaan datang setelah kesukaan, dan kesukaan mengikuti kedukaan. Seluruh makhluk, baik hidup maupun mati, berada dalam siklus perputaran kehidupan, bagaikan roda pedati.

Niscaya, dengan pemahaman ini, seseorang akan mengerti hakikat hidup yang sebenarnya.
(Ślokāntara 84.76)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Sentuhan Pancaran Sinar Suci

    Mutiara Weda Yogyakarta, 5 Juli 2026 Umat Se-dharma, tujuan utama berbhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sesungguhnya adalah untuk mendapatkan rasa cinta kasih sayang dari-Nya yang senantiasa terpancar kepada seluruh ciptaan-Nya. Pancaran kasih sayang Ida Sang Hyang Widhi Wasa bagaikan sinar matahari yang menyinari bumi beserta seluruh alam semesta dan segala isinya. Mereka…

  • Filosofi Saṁbandhinaḥ

    Disajikan sebuah topik tentang Saṁbandhinaḥ artinya sanak keluarga atau sanak kandung. Mari dipahami anggota keluarga besar sebagaimana diajarkan dalam pustaka suci Bhagavad Gītā I.34 yang dikutip sebagai berikut: “आचार्याः पितरः पुत्राः तथैव च पितामहाः ।मातुलाः श्वशुराः पौत्राः स्यालाः सम्बन्धिनस्तथा ॥ १-३४॥ācāryāḥ pitaraḥ putrās tathāiva ca pitāmahāḥ,mātulāḥ śvaśurāḥ pautrāḥ śyālāḥ saṁbandhinas tathā.” Artinya:Guru, bapa, anak-anak dan…

  • Tri Mala Pakṣa

    Mutiara WedaYogyakarta, 14/04/2026 Umat sedharma, jika dicermati dari ajaran etika Hindu, terdapat tiga sifat buruk atau kotor yang kerap melekat dalam diri manusia sebagai akibat dari pengaruh indriya (nafsu) yang tidak terkendali. Sifat-sifat ini dapat mengganggu soliditas, kenyamanan, kerukunan, dan kedamaian. Oleh karena itu, pengendalian gerak pikiran menjadi faktor penting dalam kehidupan, yang dikenal sebagai…

  • Karma & Hukum Yajña

    Mutiara WedaYogyakarta, 7 Juni 2026 Umat se-dharma, hakikat hidup menjelma menjadi manusia sesungguhnya adalah untuk bekerja. Bekerja merupakan suatu kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap umat Hindu, karena tidak sekejap pun manusia dapat diam tanpa bekerja. Melaksanakan tugas, kewajiban, dan tanggung jawab sendiri (svadharma), walaupun tidak sempurna, lebih mulia daripada melaksanakan tugas orang lain. Menjalankan…

  • Orang Jahat Seluruh Tubuhnya Beracun

    Mutiara WedaYogyakarta, 12/07/2025 Umat Se-dharma, dalam sesanti ada menyebutkan: binatang kalajengking memiliki racun yang terletak di ekornya, begitu pula binatang ular memiliki racun berbisa yang terletak di taringnya. Berbeda halnya dengan orang yang licik, picik, dan jahat — seluruh tubuhnya diliputi oleh racun yang sangat berbisa. Melakukan tindakan kejahatan atau perbuatan buruk (Asubha Karma) dapat…

  • Kanyācora (Slokantara 75)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI(MUTIARA KATA DHARMA) 12 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Kanyācora (Slokantara 75) Kanyācora adalah orang yang mencuri atau melarikan secara paksa seorang gadis perawan. Perlu diingat, apabila seseorang melarikan seorang gadis, kemudian gadis tersebut garbhata atau hamil, lalu pelakunya lari dari tanggung jawab, perbuatan itu tergolong paradara. Jika setelah gadis itu hamil kemudian…