Filosofi Yajñàrtham Nidhanam

Palangka Raya, 24.9.2025
Oleh I Ketut Subagiasta

Disajikan sajian Yajñàrtha Nidhanam artinya tumbuhan yang dipakai untuk upacara agama, sesuai pustaka suci MĀNAVA DHARMAŚĀSTRA – SLOKA V-40 yang dikutip berikut ini:

“ओषध्यः पशवो वृक्षास्तिर् यञ्चः पक्षिणस् तथा
यज्ञार्थं निधनं प्राप्ताः प्राप्नु वन्त्युच्छ्रितीः पुनः
oṣadhyaḥ paśavo vṛkṣāstir yañcaḥ pakṣiṇas tathā
yajñārthaṁ nidhanaṁ prāptāḥ prāpnu vantyucchritīḥ punaḥ”

Terjemahan:
Tumbuh-tumbuhan, semak, pepohonan, ternak, burung-burung lain yang telah dipakai untuk upacara, akan lahir pada tingkat yang lebih tinggi pada kelahiran yang akan datang.

Makna secara ekoteologi adalah bahwa tumbuhan, pohon, hewan, dan binatang yang dipakai dalam upacara agama memberikan manfaat untuk peningkatan kehidupan atau kelahiran yang lebih tinggi (uccharatam) pada kelahiran yang akan datang (jatasya prāptah prāṇu).

Intinya, segala isi bumi ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, dalam murti sebagai Sang Hyang Pasupati atau Swayambhu, memberikan anugerah kelahiran yang lebih tinggi pada kehidupan berikutnya. Tumbuhan, pohon, hewan, dan binatang yang dipakai sebagai sarana yajña memberikan manfaat secara niskala (spiritual) dan sakala (material). Lingkungan perlu dilestarikan untuk kelangsungan pelaksanaan upacara agama Hindu.

Semoga semua rahayu. Svaha. Ksama ca Ksami.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Tri Pramana: Bekal Manusia Hidup

    Mutiara Weda Umat Se-Dharma,Sesungguhnya hidup menjelma menjadi manusia di maya pada (alam dunia) ini adalah untuk menjalankan proses samsara. Hidup sebagai manusia sesungguhnya mengandung penderitaan, yang disebabkan oleh karma wasana (dosa dari perbuatan masa lampau). Namun demikian, menjelma menjadi manusia adalah sebuah anugerah mulia, utama, dan sempurna, karena manusia dibekali dengan Tri Pramana, yaitu: Manakala…

  • Orang Tua: Dewa dalam Keluarga

    Mutiara WedaYogyakarta, 24/07/2025 Umat se-Dharma, dalam ajaran agama Hindu, kedua orang tua (bapak dan ibu) memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan mulia. Seorang ibu yang melahirkan, membesarkan, dan membimbing sang anak diibaratkan sebagai Dewa dalam keluarga — Pitṛ Deva Bhava. Orang tua merupakan sarana terciptanya tubuh ini dan menjadi Dewa sekala bagi sang anak. Maka,…

  • Suluh Kehidupan

    Mutiara WedaYogyakarta, 10/06/2025 Umat Se-Dharma, Di dalam sastra suci Hindu diungkapkan bahwa tidak ada sahabat yang lebih tinggi daripada pengetahuan, dan tidak ada musuh yang lebih berbahaya daripada nafsu jahat. Demikian pula, tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatan nasib, karena nasib tidak tertahankan oleh siapa pun. Melakukan perbuatan baik (Subha Karma) dan mensinergikan antara pikiran,…

  • Bangun Kesadaran

    Mutiara WedaYogyakarta, 1 Juni 2026 Umat sedharma, orang bijak pernah mengatakan bahwa sesungguhnya orang yang disebut mandi bukan hanya tubuhnya yang dibasahi atau dibersihkan, melainkan orang yang memiliki kesadaran akan dirinya sendiri (dama) serta kesucian lahir dan batin, jasmani dan rohani, sekala maupun niskala (dānta). Orang yang suci secara lahir maupun batin (dānta) tidak akan…

  • Sucikan Pikiran

    Mutiara WedaYogyakarta, 05/05/2026 Umat Sedharma, dalam susastra disebutkan: Dve karmāṇi naraḥ kurvan iha loke mahīyate; ada dua macam perbuatan yang menyebabkan seseorang menjadi bijak dan mulia, yaitu tidak sekali-kali mengucapkan perkataan kasar (tan ujar ahala) dan tidak sekali-kali berpikiran untuk melakukan perbuatan jahat serta tercela. Perbuatan dan perkataan yang mengandung niat jahat tiada bedanya dengan membidik…

  • Himsa Karma yang Diperbolehkan

    Mutiara WedaYogyakarta, 12/12/2025 Umat sedharma, dalam susastra suci agama Hindu diajarkan bahwa ahiṁsā berarti tidak menyakiti dan tidak membunuh makhluk hidup secara sewenang-wenang. Tindakan menyakiti atau membunuh tanpa alasan yang benar tidak dibenarkan dalam ajaran Hindu. Namun demikian, melakukan hiṁsā karma—perbuatan membunuh dengan tujuan tertentu—diperbolehkan sebagai kewajiban suci apabila dilandasi niat kesucian dan dilaksanakan sesuai…