Filosofi Saṁbandhinaḥ

Disajikan sebuah topik tentang Saṁbandhinaḥ artinya sanak keluarga atau sanak kandung. Mari dipahami anggota keluarga besar sebagaimana diajarkan dalam pustaka suci Bhagavad Gītā I.34 yang dikutip sebagai berikut:

“आचार्याः पितरः पुत्राः तथैव च पितामहाः ।
मातुलाः श्वशुराः पौत्राः स्यालाः सम्बन्धिनस्तथा ॥ १-३४॥
ācāryāḥ pitaraḥ putrās tathāiva ca pitāmahāḥ,
mātulāḥ śvaśurāḥ pautrāḥ śyālāḥ saṁbandhinas tathā.”

Artinya:
Guru, bapa, anak-anak dan kakek, serta paman, ipar, cucu, mertua, dan sanak keluarga lainnya.

Ada rasa bangga bahwa para keluarga di tingkat dunia memperingati Hari Anak-anak Sedunia. Keluarga Hindu ada dana-mana, saat Rabu Umanis Perangbakat tanggal 23 Juli 2025 bahwa segenap keluarga di tingkat dunia memperingati Hari Anak Sedunia. Satu tahapan masa hidup yakni Brahmacārī adalah masa anak yang tekun belajar, masa pertumbuhan, dan masa pembinaan melalui pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, menengah, atas, hingga pendidikan tinggi. Tanggung jawab memberikan perhatian pada anak sebagai generasi penerus keluarga sekaligus generasi penerus bangsa Indonesia merupakan tanggung jawab pihak keluarga di lini terdepan. Semua warga keluarga memiliki kewajiban besar untuk peduli terhadap para anak agar menjadi Suputra-Suputrī atau putra-putri yang berkualitas. Adapun pihak keluarga sebagai panutan mulia bagi anak-anak, antara lain disajikan singkat berikut ini.

  1. Ācāryāḥ, yakni guru besar. Maknanya tetua, sesepuh, pengelungsur, para vṛddha, para bākas, sebagai panutan luhur terhadap pendidikan anak. Di era kini, ada anak durhaka yang tidak santun terhadap tetua yang membesarkannya dengan susah payah. Ada yang salah dalam pendidikan anak. Anak tidak peduli dengan tetua, anak yang cuek bebek terhadap sesepuh keluarga, malah menjadi durhaka, lupa guru, dan tidak mau mendengar para sesepuh. Perlu śīla (susila) pada anak yang mulai bersikap asūśīla terhadap panutan keluarga.
  2. Pitaraḥ, artinya orang tua atau leluhur. Maknanya, orang tua dan leluhur adalah pendidik utama dan pertama dalam keluarga demi mutu pendidikan anak yang berdaya saing di era kini. Orang tua tidak boleh bertindak teledor atau memanjakan anak sesuka hati. Anak yang diperlakukan terlalu manja cenderung tidak disiplin terhadap orang tua.
  3. Mātulāḥ, artinya paman. Maknanya bahwa peran paman sangat penting sebagai panutan terhadap anak dalam keluarga. Cukup aneh jika ada anak yang tidak sopan atau tidak hormat pada paman, padahal paman telah berkontribusi membantu biaya pendidikan, memberi jalan sukses, dan membimbing keponakannya. Ada anak yang tidak tahu berterima kasih kepada paman, hanya mementingkan diri sendiri, padahal paman telah peduli sejak kecil. Inilah realita anak zaman sekarang.
  4. Śvaśurāḥ, artinya mertua. Maknanya, ada anak yang sejak kecil dididik dengan disiplin dalam keluarganya sendiri, tetapi setelah berkeluarga, lupa kepada mertua. Padahal anak tersebut masih bergantung pada mertua — rumah, alat rumah tangga, kendaraan, hingga warisan mertua digunakan oleh anak. Namun, anak itu hanya asik dengan pasangan hidupnya sendiri, lupa jasa dan perhatian mertua. Ini adalah kenyataan keluarga modern: anak mencintai pasangan tetapi tidak mencintai mertua, padahal mertua adalah orang tua sendiri juga. Anak yang santun pada mertua patut dijadikan teladan.
  5. Pautrāḥ, artinya cucu. Maknanya, anak dari seorang anak disebut cucu. Cucu adalah penerus anak dalam keluarga, penyelamat kakek-neneknya, dan pewaris dari orang tua serta kakek-neneknya. Cucu tetap disayangi dan dicintai oleh kakek-nenek. Lengkaplah rasa keluarga jika sudah punya cucu. Cucu juga wajib dibina dan dididik oleh kakek-nenek. Sayangnya, ada cucu yang tidak peduli, asik dengan dunianya sendiri. Cucu perlu diperhatikan bersama oleh orang tuanya dan oleh kakek-neneknya supaya sukses di masa depan. Pendidikan cucu harus diarahkan agar bisa berpikir, berkata, dan berbuat cerdas serta terampil. Cucu wajib peduli kepada kakek-nenek.
  6. Śyālāḥ, artinya ipar. Maknanya bahwa ipar sangat berperan dalam keberlangsungan anak di dalam keluarga. Dalam keluarga besar, saudara yang lebih muda sering turut dalam pengasuhan anak-anak dari kakaknya. Peran ipar tidak bisa dipandang sebelah mata. Ipar juga turut menuntun anak-anak dari saudaranya agar terasuh, terdidik, dan terselamatkan.

Intinya bahwa Saṁbandhinaḥ adalah sanak keluarga atau sanak kandung dalam keluarga yang keadaannya saling membantu dan saling menghormati dengan rasa suka cita. Kondisi keluarga jangan sampai berantakan. Semua keluarga harus rukun, damai, harmonis, dan memiliki toleransi internal. Hidup bahagia dan sejahtera (sukhinah kulawarga) dimulai dari sesepuh, kakek-nenek, orang tua, paman, bibi, ipar, sepupu, ibu, ayah, mertua, dan seluruh kerabat keluarga. Selamat Hari Anak Sedunia. Binalah anak untuk menjadi Suputra-Suputrī, yaitu anak-anak berkualitas dan berdaya saing untuk meraih kemajuan, kini dan di masa depan. Semoga rahayu. Svāhā. Kṣamā ca Kṣāmi.

Palangka Raya, 23 Juli 2025

Oleh I Ketut Sunagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Bangun Soliditas Umat Hindu

    Mutiara WedaYogyakarta, 04/08/2025 Umat Se-Dharma, dalam pustaka suci Weda ada mengungkapkan:Wahai Umat Manusia, berhimpunlah, duduklah bersama-sama, pikirkan bersama-sama dan rumuskan sesuatu untuk tujuan bersama,yang mengajarkan kepada kita umat se-Dharma untuk selalu bersinergi dan bersatu guna mencapai tujuan bersama.Sahrdayam sammanasyam, avidvesam kṛṇomi vaḥ. Ida Sang Hyang Widhi Wasa memberikan sifat-sifat ketulusan, keikhlasan, mentalitas atau kejiwaan yang…

  • Filosofi Dvividhā Proktā

    Palangka Raya, 8.11.2025 Diuraikan tentang filosofi Dvividhā Proktā, artinya dua hal disiplin pengetahuan diajarkan konteks brahmacārī āśrama (masa siswa). Mari dipahami ajaran mulia pada pustaka suci Bhagavad Gītā III.3 yang dikutip sebagai berikut. “श्रीभगवानुवाचलोकेऽस्मिन्द्विविधा निष्ठा पुरा प्रोक्ता मयानघ ।ज्ञानयोगेन साङ्ख्यानां कर्मयोगेन योगिनाम् ॥३–३॥ śrī-bhagavān uvāca:loke ’smin dvi-vidhā niṣṭhā purā proktā mayā’naghajñāna-yogena sāṅkhyānāṁ karma-yogena yoginām Artinya:Śrībhagavān…

  • Beragama Jangan Lepas dari Ageman

    Mutiara Weda05/01/2026 Umat se-dharma,faktor yang sangat penting dan menjadi benih atau cikal bakal dalam penguatan kehidupan beragama bagi umat Hindu sesungguhnya adalah agem-ageman (pegangan/keyakinan) dalam bentuk śraddhā (iman/keyakinan). Apabila keyakinan melemah—muncul kebingungan bahkan keraguan terhadap agama—dapat dipastikan rapuhnya pondasi beragama yang berdampak pula pada lemahnya pemahaman inti sari ajaran agama. Pemahaman ajaran agama secara benar…

  • Filosofi Dhirah

    Palangka Raya, 22.10.2025 Disajikan topik filosofi Dhirah, artinya orang bijaksana. Mari dipahami ajaran luhur pada pustaka suci Bhagavad Gītā II-13 yang dikutip sebagai berikut: “देहिनोऽस्मिन्यथा देहे कौमारं यौवनं जरा ।तथा देहान्तरप्राप्तिर्धीरस्तत्र न मुह्यति ॥ २-१३॥dehino ‘smin yathā dehe kaumāraṁ yauvanaṁ jarātathā dehāntara-prāptir dhīras tatra na muhyati“Artinya:Sebagaimana halnya sang roh itu ada pada masa kecil, masa…

  • Pentingnya Menjaga Kesucian Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 17/07/2025 Umat Se-dharma, kesucian batin itu akan dapat terwujud manakala memiliki kemampuan untuk mengintrospeksi dan mengendalikan diri. Demikian pula, dengan kesucian diri akan dapat membangun kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan, yang selanjutnya dengan keyakinan spiritual akan dapat mewujudkan kebenaran sejati Sanatana Dharma. Hakikat kebenaran sesungguhnya merupakan hukum yang abadi atau Hukum Ṛta ataupun…

  • Bangun Jiwa yang Indah

    Mutiara WedaYogyakarta, 27/06/2025 Bangun Jiwa yang Indah Umat Se-Dharma,Dalam susastra Hindu diungkapkan bahwa manakala umat manusia dalam hidupnya hanya memikirkan hal-hal yang bersifat duniawi, maka dapat dipastikan hanya keinginan-keinginanlah yang akan muncul. Dari keinginan inilah akan timbul nafsu-nafsu, dan dari nafsu yang tidak terkontrol dan tidak terkendali akan muncul sifat-sifat amarah (krodha). Nafsu merupakan keinginan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *