Filosofi Gatāgatam

Palangka Raya, 01/10/2025

oleh I Ketut Subagiasta

Filosofi gatāgatam berarti “datang dan pergi”. Ajaran luhur ini termuat dalam pustaka suci Bhagavadgītā X.21 sebagai berikut:

“आदित्यानामहं विष्णुः ज्योतिषां रविरंशुमान् ।
मरीचिर्मरुतामस्मि नक्षत्राणामहं शशी ॥ १०-२१॥

ādityānām ahaṁ viṣṇur jyotiṣāṁ ravir aṁśumān,
marīcir marutām asmi nakṣatrāṇām ahaṁ śaśi.

Artinya:
Dari para Āditya (dewa matahari), Aku adalah Viṣṇu; dari benda-benda yang bersinar Aku adalah Matahari; dari para Marut (dewa angin) Aku adalah Marīci; dan dari gugusan nakṣatra (bintang) Aku adalah Bulan.”

Makna luhur filosofi gatāgatam (datang dan pergi) dikaji secara ekoteologi yang sarat makna pendidikan Hindu. Disadari kondisi kehidupan ini selalu datang (gata = pergi) atau gatam (telah pergi) dan saatnya agata atau agatam (datang). Mari direnungkan kondisi hidup ini realitanya ada dua berikut ini.

  1. Martyalokam (dunia manusia, dunia makhluk hidup). Maknanya bahwa kuasa Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabhāva (kekuatan) Sang Hyang Paśupati menganugerahi ciptaan ada di alam nyata atau sakala (nyata), bertempat di bumi Bhūrloka (alam bumi) dan Bhuvarloka (alam antara). Pada alam Martyalokam semua manusia melakukan revisi hidup dengan berbuat dharma (kebenaran), śīla (moral), dhārmika (ketaatan pada dharma), śubhakarma (perbuatan baik), karmāṇi (tindakan), serta berbuat kebajikan. Kelak saat mṛtyu (kematian) dapat diterima di Svargalokam (dunia surga). Sebaliknya, jika bahu paraka (bahu pāpa = banyak dosa), maka diterima di alam Narakalokam (neraka) oleh Sang Hyang Yama atas kuasa Sang Hyang Śiva, yang mengeksekusi untuk dihukum di kawah Candradimuka — sangsi hukum terberat, sedang, dan ringan sesuai karma pelakunya. Semua jenis hukuman diberikan karena sudah dicatat secara manajemen niskala (tak kasatmata) oleh Sang Hyang Suratma. Rela tak rela semua hukuman diterima dengan legawa (ikhlas). Saatnya dianugerahi kembali menjelma ke alam sakala (nyata) di Martyalokam (dunia manusia) untuk kembali berkarma dengan tujuan kebaikan, untuk berbuat śīla (moral) dan dharma (kebenaran) di alam sakala serta bersosialisasi melalui punarbhāva atau punarjanma (kelahiran kembali) secara gatam–agatam (datang dan pergi). Manusia wajib berbuat kebajikan di lingkungan alam semesta ini.
  2. Svargalokam (dunia surga). Maknanya Tuhan Yang Maha Esa atau Sang Hyang Paśupati menciptakan kehidupan di alam niskala (tak kasatmata), alam maya, alam Svah-loka (alam surga), alam bahagia, alam kedewataan, alam luhur, alam ganjaran, alam cemerlang, alam mulia, alam nikmat berpahala kebajikan. Tempat pada Svargalokam diterangi sūrya (matahari), śaśi (bulan), dan tārā (bintang). Perbuatan kebajikan atau śubhakarma (amal baik) ganjarannya diterima di sorga oleh Sang Hyang Śiva untuk tinggal di Śivaloka (alam Śiva) yang menyatu dengan Paramātman (Roh Tertinggi) atau Brahman (Kenyataan Mutlak).

Intinya, bahwa kehidupan ini ada dua tempat yang datang dan pergi (gatāgatam), yakni bergiliran antara Martyalokam (alam manusia, alam makhluk hidup di alam nyata) dan alam niskala di Svargalokam (alam surga, alam dewata). Semoga umat manusia diterima dengan bijak di dua alam tersebut atas kuasa Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Sang Hyang Paśupati.

Rahayu. Svāhā. Kṣamā ca kṣāmi.

Kosakata:

  • te = mereka
  • taṁ = ini
  • bhuktvā = menikmati
  • svargalokam = dunia surga
  • viśālam = luas
  • kṣīṇe = dalam menghabiskan
  • puṇye = kebajikannya
  • martyalokam = dunia manusia, dunia makhluk hidup ini
  • viśanti = masuk
  • evam = demikian
  • trayi dharmam = dari tiga Veda
  • anuprapannāḥ = yang dipatuhi
  • gatāgatam (gata + agata) = datang dan pergi (keadaan)
  • kāmakāmāḥ = menginginkan obyek keinginan
Bagikan ke:

Similar Posts

  • Kendalikan Indriya

    Mutiara WedaYogyakarta, 11/09/2025 Umat se-dharma, kesucian batin akan dapat terwujud manakala memiliki kemampuan untuk mengintrospeksi dan mengendalikan diri. Demikian pula, kesucian diri akan dapat membangun kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan, yang selanjutnya dengan keyakinan spiritual akan dapat mewujudkan kebenaran sejati Sanatana Dharma. Hakikat kebenaran sesungguhnya merupakan hukum yang abadi, yaitu hukum Rta ataupun hukum Karma,…

  • Purwagama Sesana

    Mutiara WedaYogyakarta, 08/06/2025 Umat Se-dharma,Umat Hindu dalam menjalankan Dharmaning hidup memiliki kewajiban suci yang disebut Dharmaning Agama, yaitu berkewajiban untuk mempelajari, memahami, dan memancarkan isi kitab suci Weda Dharma Vahini serta memahami berbagai ilmu pengetahuan suci Andrayuga atau Vruh ring sarva Jnana sehingga dapat menjalankan Wiweka dengan baik. Umat Hindu dalam berpikir, bertutur kata, serta…

  • Subhāsubha (BG XII.17)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)21 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Subhāsubha (BG XII.17) Subhāsubha adalah kebaikan dan kebatilan. Dalam diri setiap manusia terdapat kecenderungan pada kebaikan maupun kebatilan. Demikian pula, rasa senang dan sedih selalu menyertai kehidupan. Pujian dapat menimbulkan rasa senang, sedangkan kebencian dapat menghadirkan kesedihan. Oleh karena itu, hendaknya seseorang mampu melepaskan…

  • Ilmu & Racun dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 25/11/2025 Umat sedharma, jika direnung-renungkan dalam sebuah paribasa (peribahasa), pengetahuan yang tidak digunakan itu sesungguhnya adalah racun dalam diri. Begitu pula halnya makanan akan menjadi racun tatkala pencernaannya kurang baik. Demikian juga dalam hal berdiskusi, Tarkavāda (perdebatan logis) dapat menjadi racun bagi orang yang miskin atau kurang ilmunya. Orang yang tahu, tetapi tidak…

  • Sumber-Sumber Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 02/07/2025 Umat Sedharma,Dalam pustaka suci Weda diuraikan:“Idānīṁ dharma pramāṇānyāha, vedo ‘khilo dharma-mūlam…” dan seterusnya.Seluruh pustaka suci Weda adalah sumber utama Dharma, kemudian dilanjutkan dengan adat istiadat, tingkah laku yang terpuji dari orang-orang bijak yang mendalami ajaran Weda, serta tata kehidupan para ṛṣi atau orang-orang suci. Pada akhirnya, hal itu menuju pada kepuasan batin…

  • Adveṣṭā Sarva Bhūtānām

    Mutiara Weda Yogyakarta, 17/05/2026 Umat se-dharma, jika disadari, sesungguhnya segala bentuk pemujaan ataupun tapa hanyalah untuk mengendalikan pikiran. Pikiran merupakan penyebab keterikatan ataupun kebebasan. Demikian pula, pikiran adalah rajanya nafsu (rājendriya). Oleh sebab itu, setiap manusia hendaknya mengarahkan pikirannya agar tetap tenang dan terkendali (nirodha), sehingga dapat terpusat kepada-Nya melalui dhyāna. Orang yang disayang Tuhan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *