Filosofi Àtmasamstham Manah (BG. VI.25)

Mutiara Kata Dharma Sabdhanam Moukika
Tanggal 29.10.2026

Oleh I Ketut Subagiasta

Àtmasamstham Manah artinya dengan kecerdasan pikiran diri sendiri. Setiap orang memiliki kecerdasan diri sendiri. Manfaatkan dan kelola kecerdasan pikiran untuk mengontrol kecerdasan perkataan diri sendiri atau Àtmasamstham Wacanam, serta dikelola dengan bijak kecerdasan perbuatan atau Àtmasamstham Laksanam.

Dengan kelebihan kecerdasan pikiran, kecerdasan perkataan, dan kecerdasan perbuatan, bisa diimplementasikan untuk solusi kondisi kemarau panjang, kondisi musim penghujan, kondisi tugas tata kelola tugas kedinasan yang terkontrol, dan kondisi tata kehidupan yang riskan risiko kondisi alam yang penuh dinamika kondisi transformasi.

Semoga rahayu semua.

Svaha. Svasti. Ksama ca Ksami. Santah Jagadhita.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Filosofi Om Tat Sat

    Palangka Raya, 13.5.2025 Oleh I Ketut Subagiasta Disajikan sebuah topik Filosofi Om Tat Sat, yang berarti tiga aspek lambang Brahman, Tuhan Yang Maha Esa. Mari dipahami ajaran luhur tentang ketuhanan Hindu pada pustaka suci Bhagavad Gītā XVII-23 yang dikutip sebagai berikut: “ओं तत्सदिति निर्देशः ब्रह्मणस्त्रिविधः स्मृतः ।ब्राह्मणास्तेन वेदाश्च यज्ञाश्च विहिताः पुरा ॥ १७-२३॥oṁ tat sad…

  • |

    Rahajeng Hari Suci Sugihan Jawa dan Sugihan Bali

    Mutiara WedaYogyakarta, 17/04/2025 Umat sedharma, setiap umat Hindu haruslah menyadari bahwa menjelang perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan, umat Hindu merayakan Hari Suci Sugihan sebagai rangkaian dari Hari Raya Galungan. Sugihan Jawa dan Sugihan Bali bermakna pensucian Bhuana Agung dan Bhuana Alit. Sugihan Jawa dilaksanakan pada Kamis, Wage wuku Sungsang sebagai perlambang pensucian Makrokosmos /…

  • Bunga Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 12/03/2026 Umat se-dharma, kebahagiaan, kenikmatan, dan kesenangan yang penuh tanpa gangguan akan membawa ātman mencapai kebahagiaan sejati menuju kelahiran yang disebut kelahiran Deva-yoni (kelahiran sebagai makhluk dewa). Keadaan ini disebut sebagai aiśvarya (kemuliaan rohani) dan menjadi buah atau bunga-bunga Dharma. Demikian pula sebaliknya, manakala pikiran selalu diselimuti oleh bibit adharma (kejahatan) dan menentang…

  • Pūrvāgama Śāsana

    Mutiara Weda Yogyakarta, 1 Juli 2026 Umat Se-dharma, umat Hindu dalam menjalankan dharmaning hidup memiliki kewajiban suci yang disebut dharmaning agama, yaitu berkewajiban mempelajari, memahami, dan memancarkan isi Kitab Suci Weda, Dharma Vāhinī, serta memahami berbagai ilmu pengetahuan suci, yaitu Āndrayuga atau Vruh Ring Sarva Jñāna (pengetahuan tentang segala ilmu), sehingga dapat menjalankan wiweka (kemampuan…

  • Janādhipāḥ (BG II.12)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)4 Agustus 2026Oleh I Ketut Subagiasta Janādhipāḥ (BG II.12) Janādhipāḥ berarti penguasa manusia. Sarvabhūteṣu, yakni seluruh makhluk hidup di jagat raya, berada di bawah kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Semua ciptaan pada hakikatnya tetap ada, meskipun telah mengalami kematian (mṛtyu) atau peleburan (pralina). Yang mengalami kematian hanyalah śarīra (badan jasmani), sedangkan…

  • Tumbuhkan Rasa Damai di dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 03/05/2026 Umat se-dharma, dalam susastra tersurat bahwa tatkala seseorang memiliki rasa benci kepada orang lain, hal itu sama nilainya dengan meminum racun. Kebencian akan membuat hidup terbebani secara terus-menerus selama belum mampu memaafkan, bahkan akan terus menempati ruang di hati secara cuma-cuma sehingga mengganggu proses berpikir, bertindak, dan menyebabkan seseorang tidak mampu mengeluarkan…