Filosofi Aśvatthaṁ

Disajikan sebuah topik Aśvattha, yaitu pohon suci yang disebut sebagai tanaman abadi sejenis pohon beringin, yang akarnya ke atas dan dahannya ke bawah. Pemahaman ini berasal dari ajaran luhur dalam Bhagavad Gītā XV.1, yang dikutip sebagai berikut:

श्रीभगवानुवाच
ऊर्ध्वमूलमधःशाखमश्वत्थं प्राहुरव्ययम् ।
छन्दांसि यस्य पर्णानि यस्तं वेद स वेदवित् ॥ १५-१॥

śrī bhagavān uvāca:
ūrdhva-mūlam adhaḥ-śākham aśvatthaṁ prāhur avyayam,
chandāṁsi yasya parṇāni yas taṁ veda sa veda-vit.

Artinya:
Śrī Bhagavān bersabda:
Pohon abadi Aśvattha itu dibicarakan sebagai pohon yang akarnya di atas dan dahannya di bawah, daunnya adalah mantra-mantra suci Veda. Siapa yang memahami ini, dialah yang benar-benar memahami Veda.

Makna Filosofis dan Ekoteologis Aśvattha

Dalam perspektif ekoteologi Hindu, pohon Aśvattha atau pohon beringin memiliki makna yang sangat luhur. Pohon ini biasa disebut juga Bingin, dan diyakini sebagai tanaman suci yang mengandung nilai spiritual dan simbolis yang tinggi.

  1. Akar ke atas (ūrdhva-mūla) melambangkan asal ilahi atau Tuhan sebagai sumber segalanya.
  2. Dahan ke bawah (adhaḥ-śākha) menggambarkan dunia manifestasi atau ciptaan, yaitu alam semesta dan kehidupan.
  3. Daun-daunnya sebagai mantra Veda (chandāṁsi) menandakan bahwa dari pohon kehidupan ini tumbuh ilmu pengetahuan suci, sebagai sumber tuntunan hidup.

Pohon beringin memiliki taksu niskala, yaitu daya spiritual yang diyakini melindungi, menyucikan, dan menghubungkan antara alam niskala (tak kasat mata) dan alam sakala (nyata).
Umat Hindu sejak zaman dahulu telah mempraktikkan pelestarian lingkungan melalui penanaman dan pemeliharaan pohon ini, yang ditempatkan di lokasi suci, pusat desa, atau kawasan yang dianggap memiliki nilai spiritual tinggi.

Fungsi Sosial dan Ritual

Pohon beringin digunakan dalam berbagai upacara keagamaan, seperti:

  • Pitra Yajña (penghormatan kepada leluhur)
  • Ngaben (kremasi)

Selain itu, pohon ini menjadi tempat berlindung bagi satwa, menyumbang kesuburan ekologis, dan menjadi simbol keseimbangan kosmis.

Kesimpulan

Pohon Aśvattha atau Beringin adalah perlambang spiritual tentang keabadian, koneksi antara dunia dan Tuhan, serta harmoni ekologis.
Ia diyakini sebagai sthana (tempat bersemayam) Sang Hyang Śaṅkara, yang memberi berkah kepada semua makhluk hidup dan menjaga kesucian Sthavara (makhluk tak bergerak/tumbuh-tumbuhan).

Menjaga pohon ini berarti menjaga keberlanjutan bumi, kelestarian semesta, dan keutuhan nilai-nilai dharma dalam kehidupan.

Rahayu. Svaha. Ksama ca Ksami.

I Ketut Subagiasta
Palangka Raya, 26 Mei 2025

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Yajña Tiang Penyangga Pura

    Mutiara WedaYogyakarta, 24/04/2026 Umat sedharma, dalam susastra tersurat: yasyāṃ sadoha vṛdhane yūpo yasyāṃ nimīyate… yang mengandung makna bahwa di tempat suci (pura) tempat dipancangkannya yūpa (tiang upacara yajña), di sanalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa berkenan hadir menganugerahkan keselamatan jiwa dan ketenangan batin. Melaksanakan yajña suci, khususnya pañca mahā yajña, merupakan sarana bagi umat Hindu…

  • Singkirkan Rasa Benci & Jauhkan Niat-Niat Jahat dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 10/02/2025 Umat se-dharma, dalam susastra ada mengungkapkan: Papma hato na somah, singkirkan niat-niat jahat yang bersemayam dalam diri dan kejarlah selalu nilai-nilai perilaku kebajikan & kemuliaan. Menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan tercela & jahat terhadap sesama merupakan suatu keharusan untuk menuju kebaikan, kemuliaan, serta terbangunnya kesucian batin. Oleh karena itu, sebagai umat…

  • Cakra Dharma

    Mutiara Weda18/01/2025 Umat Se-Dharma, Sifat melayani akan nilai-nilai Dharma (Dharma Sevanam) merupakan bagian dari ethos kerja atau karma baik (Subha Karma) sesuai ajaran Etika Hindu. Sifat melayani terhadap nilai kebajikan pada sesama (Dharma Sevanam) akan dapat membangun kesucian diri serta menjadi pondasi dasar dalam mengarungi kehidupan bagi setiap umat Hindu. Dari kesucian akan mendapatkan kemuliaan,…

  • Rahasyajñāna

    Mutiara WedaYogyakarta, 19/06/2026 Umat sedharma, pustaka suci Weda yang menjadi pegangan, pedoman, dan tuntunan bagi umat Hindu sering juga disebut sebagai Kitab Rahasia karena di dalamnya banyak mengandung ajaran yang bersifat rahasia (rahasyajñāna). Untuk memudahkan memahami isi kandungan pustaka suci Weda, Mahaṛṣi Vālmīki melalui karya sastra Rāmāyaṇa dan Mahaṛṣi Vyāsa melalui epos besar Mahābhārata menyampaikan…

  • Orang Jahat Seluruh Tubuhnya Beracun

    Mutiara WedaYogyakarta, 12/07/2025 Umat Se-dharma, dalam sesanti ada menyebutkan: binatang kalajengking memiliki racun yang terletak di ekornya, begitu pula binatang ular memiliki racun berbisa yang terletak di taringnya. Berbeda halnya dengan orang yang licik, picik, dan jahat — seluruh tubuhnya diliputi oleh racun yang sangat berbisa. Melakukan tindakan kejahatan atau perbuatan buruk (Asubha Karma) dapat…

  • Bangun Pura di Dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 17/05/2025 Umat se-Dharma, jika dipahami bahwa belajar agama dan ajaran kedyatmikan spiritual bukanlah untuk menyakiti orang lain dan bukan pula untuk memerangi orang lain, melainkan sebagai pedoman dan tuntunan hidup untuk memperhalus jiwa dan memperkokoh Budhi. Jika ajaran agama dan ajaran kesucian spiritual digunakan untuk menyakiti orang lain, apalagi hanya sekadar memamerkan diri…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *