Filosofi Amṛtasnātaka

Disajikan sebuah topik tentang Amṛtasnātaka, artinya seorang yang tekun dalam brata dan taat menjalani brahmacārī. Mari dipahami ajaran suci dalam pustaka Sārasamuccaya, Sloka 255, yang dikutip sebagai berikut:

“amāvāsyāṁ caturdaśyāṁ pūrṇamāsyāṣṭamīṣu ca,
brahmacārī bhaven nityam amṛtasnātako dvijaḥ.”

Nihan tācāranikang sang brāhmaṇa, yan ring amāwāsyā, caturdaśī, ring pūrṇamā, ring aṣṭamīkāla kunēng, brahmacārya juga sira, haywa parēking strī, ngaraning brata mangkana, amṛtasnātaka.

Artinya:
“Inilah tingkah laku seorang brahmana, yaitu pada bulan mati (tilem), pada panglong keempat belas, hari purnama, maupun pada panglong ke delapan (dalam setiap paksa), ia benar-benar melakukan brahmacarya, tidak mendekati wanita. Nama brata yang demikian itu disebut amṛtasnātaka, yaitu seorang kepala rumah tangga yang hidup langgeng penuh kemegahan.”

Makna luhur Amṛtasnātaka adalah bahwa seorang dvija (brahmana atau umat Hindu) yang tekun menjalankan dharma dengan penuh kepatuhan, ketaatan, dan kedisiplinan, melaksanakan Amṛtasnātaka khususnya saat Amāvāsyā (tilem), Pūrṇimā (purnama), dan Aṣṭamī (panglong 8). Pada hari-hari suci tersebut, seorang brahmacārin hendaknya fokus pada brahmacarya, tidak mendekati strī (perempuan), dan tidak tergoda oleh smara ratih (keinginan ragawi).

Masa brahmacārī adalah masa disiplin dan penuh kesucian. Gaya hidup sederhana, taat brata, serta menjaga aśramika kāla adalah bentuk implementasi ajaran Amṛtasnātaka. Seorang brahmacārin wajib belajar dengan tekun dan ulet, menjalani satya dharma, satya adhyayanam, dan satya guru nābhe — yaitu belajar sungguh-sungguh kepada guru, sejak upacara upanayana (pengukuhan pelajar) hingga mencapai samāvartana (kelulusan spiritual).

Intinya, Amṛtasnātaka adalah pedoman disiplin bagi para brahmacārin — khususnya saat Amāvāsyā dan Pūrṇimā — sebagai śubhācāra, śubhadinaṁ, atau hari-hari suci. Taatilah filosofi Amṛtasnātaka agar masa belajar tidak ternoda dan pelajar tetap berjalan di jalan dharma.

Semoga rahayu. Svaha. Ksama ca Ksami.

Palangka Raya, 8.7.2025

Oleh I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Tri Guna dalam Tri Sarira

    Mutiara WedaYogyakarta, 12/06/2025 Umat Se-Dharma, Jika kita renungkan, dalam sastra Hindu, tubuh manusia sebenarnya dibentuk oleh tiga unsur lapisan yang memiliki fungsi serta kualitas berbeda-beda. Tiga unsur lapisan tersebut disebut: Tri Sarira. Tiga unsur lapisan dalam diri manusia (Tri Sarira) meliputi: A. Sthula Sarira / Raga SariraYaitu badan kasar atau jasmani yang terbentuk dari unsur…

  • Buddhi: Pijakan dalam Berpikir

    Mutiara Weda08/07/2025 Umat Se-Dharma,Jika direnungkan, sesungguhnya terjadinya karma diawali dari proses berpikir. Pikiran menjadi penentu ketika seseorang akan bertutur kata dan bertindak, agar menghasilkan karma baik (śubha karma) di kemudian hari. Mengarahkan dan memperbaiki pola pikir menjadi suatu keharusan, agar pikiran dapat terkendali dan terfokus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan demikian, akan lebih…

  • Yajña Tiang Penyangga Pura

    Mutiara WedaYogyakarta, 24/04/2026 Umat sedharma, dalam susastra tersurat: yasyāṃ sadoha vṛdhane yūpo yasyāṃ nimīyate… yang mengandung makna bahwa di tempat suci (pura) tempat dipancangkannya yūpa (tiang upacara yajña), di sanalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa berkenan hadir menganugerahkan keselamatan jiwa dan ketenangan batin. Melaksanakan yajña suci, khususnya pañca mahā yajña, merupakan sarana bagi umat Hindu…

  • Sucikan Pikiran

    Mutiara WedaYogyakarta, 05/05/2026 Umat Sedharma, dalam susastra disebutkan: Dve karmāṇi naraḥ kurvan iha loke mahīyate; ada dua macam perbuatan yang menyebabkan seseorang menjadi bijak dan mulia, yaitu tidak sekali-kali mengucapkan perkataan kasar (tan ujar ahala) dan tidak sekali-kali berpikiran untuk melakukan perbuatan jahat serta tercela. Perbuatan dan perkataan yang mengandung niat jahat tiada bedanya dengan membidik…

  • Filosofi Vidhi Guna

    Disajikan topik Vidhi Guna artinya sifat Ida Sang Hyang Vidhi Wasa. Mari dimaknai tentang sifat Ida Sang Hyang Vidhi Wasa dalam pustaka suci Bhagavad Gītā II-23 yang dikutip sebagai berikut: “नैनं छिन्दन्ति शस्त्राणि नैनं दहति पावकः ।न चैनं क्लेदयन्त्यापो न शोषयति मारुतः ॥ २-२३॥nainaṁ chindanti śastrāṇi nainaṁ dahati pāvakaḥna cainaṁ kledayanty āpo na śoṣayati mārutaḥ”…

  • Budhi Pijakan dalam Berpikir

    Mutiara WedaYogyakarta, 21/09/2025 Umat se-dharma, jika direnungkan, sesungguhnya terjadinya karma diawali dari proses berpikir. Pikiran menjadi penentu ketika akan bertutur kata dan bertindak, sehingga menghasilkan karma baik atau śubha karma nantinya. Mengarahkan dan memperbaiki pola pikir menjadi suatu keharusan agar pikiran dapat terkendali dan berkonsentrasi kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan demikian, akan lebih…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *