Kesiapan akan Kebangkitan Hindu

Mutiara Weda

Yogyakarta, 10/07/2026

Umat Se-dharma, faktor yang sangat penting dalam menyongsong kebangkitan Hindu adalah kesiapan akan penguatan agem-ageman dalam beragama Hindu. Adapun yang menjadi benih atau cikal bakal penguatan tersebut terletak pada kuatnya agem-ageman dalam bentuk Śraddhā. Manakala kurangnya keyakinan, bingung, bahkan ragu terhadap agamanya, dapat dipastikan rapuhnya pondasi agama yang berdampak pada rapuhnya pemahaman akan inti sari ajaran agama.

Pemahaman ajaran agama secara benar menjadi suatu keharusan dan bersifat mutlak melalui Tattwa agama, Etika agama, maupun Upakara agama, dengan berpegang teguh pada sumber-sumber Dharma serta pokok-pokok dasar ajaran atau Tiga Kerangka Dasar Agama Hindu, yang menjadi roh atau jiwa ajaran Hindu Dharma dan wajib dilaksanakan secara sinergis melalui Tri Jnana Sandhi.

Oleh karena itu, marilah kita sebagai umat Hindu memegang teguh agem-ageman dalam beragama dengan mempelajari kembali pustaka suci Weda secara benar, utuh, dan sempurna, baik melalui Weda Śruti maupun Weda Smerti, dengan cara belajar Weda secara bertahap, berjenjang, dan komprehensif. Tidak dibenarkan mempelajari Weda melalui jalan pintas dengan dalih praktis, simpel, mudah, sederhana, dan sejenisnya yang cenderung menyesatkan. Niscaya, dengan demikian umat Hindu akan ajeg dalam Dharmanya, kuat Śraddhā-nya, serta kokoh dalam ajaran Sanatana Dharma, sehingga mampu mewujudkan kebahagiaan hidup, baik sekala maupun niskala, menuju Jagadhita dan Mokṣa.

(Kitab Swastika Rana dan Weda Sabda Suci)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Suśīla (Sārasamuccaya 159)

    DHARMAŚABDĀNĀṂ MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA)7 Juli 2026 Oleh: I Ketut Subagiasta Suśīla (Sārasamuccaya 159) Suśīla adalah perilaku yang baik. Suśīlawan yaitu orang yang unggul dalam berperilaku baik di tiga dunia atau triloka. Suśīlawan dan Suśīlawati mengutamakan suśīla untuk menundukkan triloka. Bangga dan bahagia menjadi Suśīlawan dan Suśīlawati, karena menjadi manusia teladan di jagat raya. Bagikan…

  • Rāga-Dveṣa (Bhagavadgītā II.64)

    DHARMAŚABDĀNĀṂ MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA)1 Juli 2026 Oleh: I Ketut Subagiasta Rāga-Dveṣa (Bhagavadgītā II.64) Rāga-dveṣa adalah cinta dan benci, kesenangan dan kebencian. Manusia wajib mampu mengendalikan rāga-dveṣa. Cinta dan benci yang terkendalikan akan mengantarkan seseorang memperoleh kedamaian hidup yang tertinggi, yaitu parama śāntiḥ (kedamaian tertinggi). Sebaliknya, apabila cinta dan benci tidak dapat dikendalikan, maka yang…

  • Berjiwa Konfrontasi: Sumber Malapetaka

    Mutiara WedaYogyakarta, 06/01/2026 Umat sedharma, dalam pustaka suci diungkapkan bahwa tidak ada kekayaan yang menyamai keluhuran pengetahuan. Demikian pula, tidak ada musuh yang lebih jahat daripada kemarahan; tidak ada kesengsaraan yang menyamai kelobaan; dan tidak ada kebahagiaan yang menyamai kemampuan diri dalam melepaskan ikatan hawa nafsu. Melepaskan diri dari cengkeraman hawa nafsu menjadi suatu keharusan…

  • Filosofi Asta Prakrti

    Oleh: I Ketut Subagiasta Disajikan uraian ekoteologi dengan topik Asta Prakrti, artinya delapan sifat alami, dalam pustaka suci Bhagavad Gītā VII.4 yang dikutip sebagai berikut: yatatām api siddhānāmkaścin mām vetti tattvataḥ ॥ 7.3 ॥bhūmir āpo ‘nalo vāyuḥkhaṁ mano buddhir eva ca,ahaṅkāra itīyaṁ mebhinnā prakṛtir aṣṭadhā ॥ 7.4 ॥ Artinya:“Tanah, air, api, udara, ether, pikiran, budhi,…

  • Bangun Pura dalam Diri

    Mutiara Weda26/09/2025 Umat sedharma, jika dipahami bahwa belajar agama dan ajaran kedyatmikan (spiritual) bukanlah untuk menyakiti orang lain dan bukan pula untuk memerangi orang lain, melainkan sebagai pedoman dan tuntunan hidup untuk memperhalus jiwa dan memperkokoh Budhi (kecerdasan spiritual). Jika ajaran agama dan ajaran kesucian spiritual digunakan untuk menyakiti orang lain, apalagi hanya sekadar memamerkan…

  • Ilmu & Racun dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 25/11/2025 Umat sedharma, jika direnung-renungkan dalam sebuah paribasa (peribahasa), pengetahuan yang tidak digunakan itu sesungguhnya adalah racun dalam diri. Begitu pula halnya makanan akan menjadi racun tatkala pencernaannya kurang baik. Demikian juga dalam hal berdiskusi, Tarkavāda (perdebatan logis) dapat menjadi racun bagi orang yang miskin atau kurang ilmunya. Orang yang tahu, tetapi tidak…