Nilai Praksis & Nilai Dasar dalam Penerapan Ajaran Hindu

Mutiara Weda
Yogyakarta, 2 Juni 2026

Umat se-dharma, dalam pustaka suci disebutkan:

“Śrutis tu vedo vijñeyo dharmaśāstraṃ tu vai smṛtiḥ, te sarvārtheṣv amīmāṃsye tābhyāṃ dharmo hi nirbabhau.”

Artinya: Yang dimaksud dengan Śruti adalah Weda dan yang dimaksud dengan Smṛti adalah Dharmaśāstra. Kedua pustaka suci ini tidak boleh diragukan kebenaran ajarannya, karena keduanya merupakan sumber Dharma.

Hindu yang membumi dalam kebinekaan bukan berarti memiliki kitab suci yang berbeda-beda atau perbedaan yang tanpa dasar. Bukan pula suatu kebebasan yang tanpa batas, melainkan kebinekaan yang tetap bersumber pada Dharma. Śiṣṭācāra maupun Ātmanastuti merupakan nilai praksis, sedangkan pustaka suci Weda menjadi bingkai atau nilai dasarnya, baik Weda Śruti maupun Weda Smṛti, yang diyakini sebagai suatu kebenaran mutlak. Demikian pula dasar keyakinan berupa Pañca Śraddhā serta pokok-pokok ajaran dalam Tri Kerangka Agama Hindu menjadi pedoman dasarnya.

Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi setiap umat Hindu untuk memantapkan kualitas śraddhā-nya melalui pemahaman yang benar terhadap pokok-pokok ajaran Hindu dengan berfalsafahkan Bhinneka Tunggal Ika. Meskipun berbeda suku, budaya, deśa, kāla, dan pātra, termasuk dalam pelaksanaan Śiṣṭācāra maupun Ātmanastuti, umat Hindu tetap berlandaskan pada pustaka suci Weda sebagai nilai dasarnya. Niscaya akan terbangun umat Hindu yang damai, rukun, dan harmonis.

(MDS. II.10)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU.

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Jangan Sepotong-Sepotong dalam Beragama

    Mutiara WedaYogyakarta, 04/08/2026 Umat Sedharma, faktor yang sangat penting dan menjadi benih atau cikal bakal dalam penguatan kehidupan beragama bagi umat Hindu terletak pada kuatnya agem-ageman dalam bentuk Śraddhā. Apabila keyakinan mulai berkurang, timbul kebingungan bahkan keraguan terhadap agama yang dianut, maka dapat dipastikan pondasi keagamaan menjadi rapuh. Dampaknya adalah lemahnya pemahaman terhadap inti sari…

  • Filosofi Prahrṣṭayā Bhāvyaṁ

    Disajikan sebuah topik Prahrṣṭayā Bhāvyaṁ yang berarti “istri berwajah cerah”. Mari dimaknai ajaran luhur bagi keluarga dalam pustaka suci Mānava Dharmaśāstra sloka V.150 yang dikutip sebagai berikut: “सदा प्रहृष्टया भाव्यं गृह कार्येषु दक्षयासुसंस्कृतो पस्करया व्यये चामुक्त हस्तयाsadā prahṛṣṭayā bhāvyaṁ gṛha kāryeṣu dakṣayāsusaṁskṛto paskarayā vyaye cāmukta hastayā“ Artinya:“Ia hendaknya selalu berwajah cerah, pandai dalam mengatur urusan…

  • Sāttvika Yajña

    Mutiara WedaYogyakarta, 17/02/2026 Umat Se-dharma, melaksanakan Pañca Mahā Yajña (lima korban suci besar) merupakan kewajiban suci dari petunjuk pustaka suci Weda Saṃhitā sebagai penyangga bumi, alam semesta beserta isinya, karena alam dan manusia diciptakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui yajña. Ada lima unsur penting dalam meyajña (melaksanakan yajña): Oleh karena itu, sebagai umat Hindu…

  • Bhoga-Svātantrya

    Mutiara WedaYogyakarta, 28 Mei 2026 Umat se-dharma, dalam sesanti Hindu disebutkan: “Ala ulah ala tinemu, ayu kinardi ayu pinanggih.” Benih padi yang ditanam akan menghasilkan padi, demikian pula benih jagung yang ditanam akan menghasilkan jagung. Demikianlah hakikat Hukum Karma Phala, bahwa setiap perbuatan akan melahirkan akibat yang sepadan dengan sebab yang ditimbulkannya. Manusia tidak memiliki…

  • Tri Kaya Sandhi

    Mutiara Weda20/12/2025 Umat sedharma, di dalam susastra suci agama Hindu diajarkan bahwa umat Hindu, dalam menjalankan proses berpikir, melakukan perbuatan, maupun ketika akan mengeluarkan perkataan, hendaknya selalu berhati-hati serta mempertimbangkan akibatnya, baik maupun buruk dampaknya. Umat Hindu memiliki keyakinan bahwa pahala atau hasil dari buah karma akan diterima oleh orang yang berbuat, demikian pula oleh…