Tiga Siklus Hidup Manusia

Mutiara Weda

Yogyakarta, 19/05/2026

Umat se-dharma, jika disadari, sesungguhnya setiap manusia tidak akan pernah lepas dari tiga siklus alur proses kehidupan, yaitu utpatti, sthiti, dan pralina; kelahiran, kehidupan, dan akhirnya menuju kematian atau kembali ke asal. Ketiga hal tersebut merupakan wujud kemahakuasaan Ida Saṅ Hyang Widhi Wasa dalam konsep Tri Kona.

Setiap manusia yang hidup di dunia ini memiliki tenaga atau kekuatan yang disebut udāna vāyu atau prāṇa halus. Udāna vāyu inilah yang menyebabkan manusia dapat melihat, merasakan, berpikir, berbuat, dan bernapas dalam menjalankan Tri Kāya Pariśuddha (kāyika, wācika, dan mānacika).

Oleh karena itu, sebagai umat Hindu hendaknya selalu membersihkan dan menyucikan udāna vāyu dengan cara meningkatkan kualitas rohani serta menjaga kesucian diri, baik lahir maupun batin, melalui pelaksanaan Yama dan Nyama. Mengingat, seluruh udāna vāyu adalah Hiraṇyagarbha atau Brahman yang berada di dalam diri. Demikian pula saat manusia akan kembali ke asal, meninggal, atau mengalami pralina, maka berkewajiban membisikkan nama-nama Ida Saṅ Hyang Widhi Wasa atau melakukan nāma smaraṇam. Aksara-aksara suci Tuhan yang dibisikkan pada telinga orang yang meninggal sangat menentukan kehidupan yang akan datang dalam proses kelahiran kembali (reinkarnasi/punarbhawa) sebagai sifat dasar yang paling kuat. Niscaya, mokṣa dan jīvan mukti akan dapat dicapai. (Sanātana Hindu Dharma, hal. 37–41)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Saṅgraha Nusantara
Daerah Istimewa Yogyakarta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Kṛtakṛtya-Ātmarati

    Mutiara Weda20/01/2025 Umat Se-dharma, dalam Susastra disebutkan bahwa untuk mengarungi kehidupan yang sempurna (Kṛtakṛtya) dengan limpahan kesenangan dan kebahagiaan (Ātmarati), penerapan nilai-nilai ajaran Dharma adalah hal yang tidak terpisahkan. Mengamalkan dan mengaplikasikan ajaran Dharma pada diri sendiri untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta disebut Dharma Sadhana atau Catur Dharma Sadhana, yang merupakan Sesarining Dharma….

  • Ahaṃkāra Jñāna

    Mutiara WedaYogyakarta, 29/04/2027 Umat sedharma, sesungguhnya pikiran atau manaḥ merupakan penyebab penderitaan dan kesengsaraan apabila dibelenggu oleh hawa nafsu, yaitu ahaṃkāra jñāna (ego yang diliputi ketidaktahuan). Sebaliknya, apabila pikiran bersih dan suci, tidak diliputi kekacauan, serta bebas dari berbagai kecemaran, maka keadaan tersebut mencerminkan sāttvika vidyā (pengetahuan yang murni). Inilah hakikat kedamaian dalam ajaran Hindu….

  • Filosofi Mahadewa

    Disajikan dengan topik Filosofi Mahadewa: artinya Dewa penganugerah Sarwa Bijaksana yang paling utama. Mari dipahami ajaran mulia pada pustaka suci Śiva Purāṇa – 1.24.89-90 yang dikutip sebagai berikut: “अकारो गार्हपत्याग्निर्भूधर्मश्च रजोगुणः ।ऋग्वेदश्च क्रियाशक्तिः प्रातःसवनमेव च ॥ ८९ ॥महदेवश्च रेखायाः प्रथमायाश्च देवता ।विज्ञेया मुनिशार्दूलाः शिवदीक्षापरायणैः ॥ ९० ॥akāro gārhapatyāgnirbhūdharmaśca rajoguṇaḥ |ṛgvedaśca kriyāśaktiḥ prātaḥsavanameva ca || 89…

  • Janādhipāḥ (BG II.12)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)4 Agustus 2026Oleh I Ketut Subagiasta Janādhipāḥ (BG II.12) Janādhipāḥ berarti penguasa manusia. Sarvabhūteṣu, yakni seluruh makhluk hidup di jagat raya, berada di bawah kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Semua ciptaan pada hakikatnya tetap ada, meskipun telah mengalami kematian (mṛtyu) atau peleburan (pralina). Yang mengalami kematian hanyalah śarīra (badan jasmani), sedangkan…

  • Sevaka Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 14/07/2025 Umat Sedharma, dalam sastra ada tersurat bahwa dilahirkan hidup menjelma menjadi manusia, ingkar akan pelaksanaan Dharma, bahkan bingung dengan agamanya, apalagi hanya mengejar kenikmatan, kepuasan duniawi, serta berhati tamak — orang semacam ini disebut Jadma Kesasar atau manusia sesat. Sesungguhnya hidup menjelma menjadi manusia sangatlah utama, suatu kesempatan untuk memperbaiki / membenahi…