Kebahagiaan Sāttvika

Mutiara Weda
Yogyakarta, 24/02/2026

Umat Sedharma, tujuan hidup menjelma menjadi manusia sesungguhnya adalah untuk mendapatkan kebahagiaan, baik kebahagiaan sekala (nyata) maupun kebahagiaan niskala (rohani) nantinya, dengan menempatkan kesucian pikiran menjadi barometer dalam mencapainya.

Kebahagiaan jika dilihat dari sifatnya dapat diklasifikasikan dalam tiga bentuk yaitu: kebahagiaan yang timbul dari hubungan antara indra dengan objek duniawi disebut dengan kebahagiaan yang bersifat rājasa; sedangkan kebahagiaan yang mengakibatkan penderitaan, kesesatan jiwa disebut dengan kebahagiaan tāmasa; begitu pula kebahagiaan dengan landasan tanpa keterikatan, keteguhan hati, tidak mudah goyah, selalu berada dalam jalan dharma, inilah yang disebut dengan kebahagiaan yang sāttvika.

Oleh karena itu, sebagai umat Hindu bangun kebahagiaan dalam diri baik manah śāntiḥ (kedamaian pikiran) maupun parama śāntiḥ (kedamaian tertinggi) dengan jalan selalu menjaga dan membersihkan pikiran sehingga dapat menjalankan viveka (kebijaksanaan membedakan) dengan baik, terkendali serta terbebas dari berbagai bentuk keterikatan menuju kebahagiaan yang sāttvika. Niscaya, tujuan hidup menjelma menjadi manusia akan dapat diwujudkan, yaitu Catur Puruṣārtha (empat tujuan hidup), Jagadhita (kesejahteraan dunia) lan Kamokṣan (pembebasan rohani) nantinya.
(BG XVIII.25–37)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Sanggraha Nusantara
Daerah Istimewa Yogyakarta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Śraddhā & Bhakti, Landasan dalam Beragama

    Mutiara Weda Yogyakarta, 15/05/2026 Umat se-dharma, kesucian batin akan dapat terwujud manakala seseorang memiliki kemampuan untuk mengintrospeksi dan mengendalikan diri. Demikian pula, kesucian diri akan mampu membangun kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan, yang selanjutnya melalui keyakinan spiritual dapat mewujudkan kebenaran sejati, yaitu Sanātana Dharma. Hakikat kebenaran sesungguhnya merupakan hukum yang abadi, yaitu Ṛta ataupun Hukum…

  • Purwagama Sesana

    Mutiara WedaYogyakarta, 08/06/2025 Umat Se-dharma,Umat Hindu dalam menjalankan Dharmaning hidup memiliki kewajiban suci yang disebut Dharmaning Agama, yaitu berkewajiban untuk mempelajari, memahami, dan memancarkan isi kitab suci Weda Dharma Vahini serta memahami berbagai ilmu pengetahuan suci Andrayuga atau Vruh ring sarva Jnana sehingga dapat menjalankan Wiweka dengan baik. Umat Hindu dalam berpikir, bertutur kata, serta…

  • Beragama Jangan Lepas dari Ageman

    Mutiara Weda30/07/2025 Umat Se-dharma, faktor yang sangat penting dan menjadi benih atau cikal bakal dalam penguatan beragama bagi umat Hindu sesungguhnya adalah agem ageman dalam bentuk Śraddhā. Manakala kurangnya keyakinan, kebingungan, bahkan keraguan terhadap agamanya, dapat dipastikan akan merapuhkan pondasi agama yang berdampak pula pada rapuhnya pemahaman inti sari dari ajaran agama. Pemahaman ajaran agama…

  • Daivasura Sampad

    Mutiara Weda Yogyakarta, 18/10/2025 Umat se-dharma, ada dua macam makhluk ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa di dunia ini, yaitu yang bersifat mulia dan yang bersifat jahat. Ciptaan yang bersifat bijak dan mulia disebut Daivī Sampad. Karakternya adalah penuh kebijaksanaan, memiliki kemurnian hati, serta mampu menguasai dan mengendalikan indriya. Sedangkan ciptaan yang berperilaku jahat disebut…

  • Jadikan Ketulusan dan Keuletan sebagai Roh Kehidupan

    Rahajeng Rahina Penampahan Kuningan Mutiara Weda Yogyakarta, 26 Juni 2026 Umat sedharma, perlu direnungkan bahwa selama ketidakjujuran menjadi dasar dalam melakukan perbuatan, maka dapat dipastikan bencana dan malapetaka akan menimpa, sehingga seseorang tidak mampu melepaskan diri dari belenggu ikatan duniawi. Sebaliknya, apabila ketulusan hati (Ārjava) dijadikan dasar dalam berpikir, bertutur kata, dan berbuat, maka seseorang…

  • Filosofi Pùjayitvà Grhasthah

    Oleh I Ketut Subagiaata Disajikan sebuah uraian dengan Pùjayitvà Grhasthah, artinya kewajiban kepala rumah tangga melakukan pemujaan suci berupa panca yajña. Mari dimaknai dengan bijak ajaran luhur pada pustaka suciMĀNAVADHARMAŚĀSTRA – SLOKA III-117, yang dikutip sebagai berikut: “देवानृषीन् मनुष्यांश्च पितन् गृह्याश्च देवताःपूजयित्वा ततः पश्चाद् गृहस्थः शेषभुग्भवेत्”devānṛṣīn manuṣyāṁśca pitan gṛhyāśca devatāḥpūjayitvā tataḥ paścād gṛhasthaḥ śeṣabhugbhavet Artinya:Setelah…