Filosofi Paksinam

Palangka Raya, 12 Juni 2025

Oleh: I Ketut Subagiasta

Disajikan topik Paksinam, yaitu nama-nama burung. Secara ekoteologis, burung memiliki peran sebagai penolong kehidupan. Makna ajaran luhur ini juga tercermin dalam pustaka suci Bhagavad Gītā X.30 yang dikutip sebagai berikut:

“प्रह्लादश्चास्मि दैत्यानां कालः कलयतामहम् ।
मृगाणां च मृगेन्द्रोऽहं वैनतेयश्च पक्षिणाम् ॥ १०-३०॥
prahlādaś cāsmi daityānāṁ kālaḥ kalayatām aham,
mṛgāṇāṁ ca mṛgendro ‘haṁ vainateyaś ca pakṣiṇām

Artinya:
“Di antara para Daitya Aku adalah Prahlāda; di antara para penghitung waktu Aku adalah Waktu itu sendiri; di antara semua binatang Aku adalah Singa; dan di antara segala burung Aku adalah Garuda.”

Makna filosofi Paksinam secara ekoteologis adalah bahwa nama-nama burung merupakan simbol penolong kehidupan. Burung Jatayu yang dikenal sebagai Garuda memiliki kekuatan luhur terhadap manusia dan alam. Burung harus dilindungi agar tidak punah. Garuda juga menjadi lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam Itihasa Ramayana diajarkan bahwa burung Garuda bernama Jatayu adalah penolong Dewi Sita saat upaya paradara oleh Rahwana. Ada berbagai jenis burung pelestari lingkungan, seperti:

  • Burung Tingang di Kalimantan
  • Burung Jalak Putih
  • Burung Perkutut
  • Burung Beo
  • Burung Gagak
  • Burung Merpati
  • Burung Bangau
  • Burung Pipit
  • Burung Gelatik
  • Burung Siung
  • Burung Tekukur
  • Burung Cendrawasih
  • Burung Dara
  • Burung Murai
  • Burung Walet
  • Burung Dasih, dan lain sebagainya.

Manusia wajib melindungi habitat burung demi kelestarian alam semesta. Alam akan terasa indah bila terdengar suara merdu yang berkicau dari burung-burung di alam raya. Burung jangan diburu, apalagi ditembak. Burung adalah penghibur semesta, penolong lingkungan, penyelamat kehidupan tumbuhan, bahkan manusia — seperti burung Jatayu. Garuda menjadi simbol suci dan nasional yang harus dihormati.

Intinya, Paksinam atau nama-nama burung yang terbang di udara memperindah semesta. Ayo lindungi burung! Semoga alam makin indah dan lestari. Janganlah manusia menjadi Sudurācāraḥ — orang yang paling kejam terhadap burung.

Semoga burung Rahayu. Svaha. Kṣamā ca kṣāmi.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Filosofi Asta Prakrti

    Disajikan topik filosofi Asta Prakrti artinya delapan sifat alami. Mari dimaknai delapan sifat alami pada pustaka suci Bhagavad Gītā VII-4 yang dikutip sebagai berikut: “यततामपि सिद्धानां कश्चिन्मां वेत्ति तत्त्वतः ॥ ७-३॥भूमिरापोऽनलो वायुः खं मनो बुद्धिरेव चbhūmir āpo ‘nalo vāyuḥ khaṁ mano buddhir eva ca,ahaṅkāra itīyaṁ me bhinnā prakṛtir aṣṭadhā.“ Artinya:Tanah, air, api, udara, ether, pikiran,…

  • Ātmanastuti

    Mutiara WedaYogyakarta, 20 Juli 2025 Umat Se-Dharma, Memperkokoh keyakinan dalam beragama melalui Śraddhā dan Bhakti, serta selalu merawat dan menjaga anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, merupakan suatu kewajiban bagi setiap umat Hindu. Kebenaran dan kebajikan dijaga melalui perilaku yang baik. Demikian pula, śāstra-śāstra suci dijaga dengan keteguhan hati dan kesucian pikiran. Kelahiran sebagai…

  • Medharmasanti

    Mutiara Weda21/03/2026 Umat sedharma, dalam pustaka suci Weda diungkapkan: “Wahai umat manusia, berhimpunlah, duduklah bersama-sama, berpikirlah bersama, dan rumuskan sesuatu untuk tujuan bersama.” Ajaran ini mengingatkan kita sebagai umat sedharma untuk selalu bersinergi dan bersatu guna mencapai tujuan bersama.Sahṛdayaṃ saṃmanasyam avidveṣaṃ kṛṇomi vaḥ. Ida Sang Hyang Widhi Wasa menganugerahkan sifat ketulusan, kesamaan batin, serta perasaan…

  • Śubhakarma (Bhagavadgītā XIII.7)

    DHARMAŚABDĀNĀṂ MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA)2 Juli 2026 Oleh: I Ketut Subagiasta Śubhakarma (Bhagavadgītā XIII.7) Śubhakarma adalah melakukan perbuatan mulia. Ada sembilan yang disebut Nava Śubhakarma, sebagai berikut: Asubhakarma adalah menghindari perbuatan kejam. Ada lima yang disebut Pañca Hiṃsā Karma, sebagai berikut: Pañca Hiṃsā Karma atau Pañca Aśubhakarma adalah lima perbuatan kejam yang tidak boleh dilakukan…

  • Pentingnya Pengendalian Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 28 Juli 2026 Umat Sedharma, Kesucian batin akan terwujud apabila seseorang memiliki kemampuan untuk mengintrospeksi dan mengendalikan diri. Kesucian diri juga akan membangun kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan. Selanjutnya, dengan keyakinan spiritual, seseorang akan mampu mewujudkan kebenaran sejati, yaitu Sanatana Dharma. Hakikat kebenaran sesungguhnya merupakan hukum yang abadi, yakni Hukum Ṛta maupun Hukum…

  • Pendidikan Anak Siswa Gunamantha

    Palangka Raya, 24.11.2024 Dalam pendidikan terhadap anak siswa, penting ditanamkan nilai luhur tentang pribadi yang bijaksana. Upaya pendidikan anak siswa Gunamantha terus dilakukan dalam komponen jenjang pendidikan. Disadari bahwa pendidikan anak siswa Gunamantha adalah pendidikan yang bertujuan menjadikan anak siswa bijaksana. Dalam referensi Itihasa, terutama pada Kakawin Ramayana, terdapat Wirama Sronco, yang dikutip berikut ini:“Gunamantha…