Filosofi Dharmādharmā

Oleh I Ketut Subagiasta

Diuraikan bahwa filosofi dharmādharmā berarti ajaran tentang kebenaran dan ketidakbenaran. Marilah kita memahami ajaran luhur dalam pustaka suci Mānava Dharmaśāstra I.26 berikut:

karmaṇāṃ ca vivekārthaṃ dharmādharmau vyavecayat, dvandvair ayojayac cemāḥ sukha-duḥkhādibhiḥ prajāḥ.

Terjemahan: “Lagi pula, untuk membedakan tingkah laku ciptaan-Nya, Ia membedakan tujuan antara dharma dan adharma, serta menjadikan makhluk mengalami pasangan berlawanan, seperti suka dan duka (sukha–duḥkha).”

Adapun makna filosofis dharmādharmā dalam konteks masa vānaprastha dapat dipahami sebagai berikut.

  1. Dharma berarti kebenaran; bermakna bahwa pada masa vānaprastha, seseorang tetap berperilaku benar, bertindak mulia, serta bijaksana.
  2. Adharma berarti ketidakbenaran; bermakna bahwa pada masa vānaprastha, perbuatan salah hendaknya ditinggalkan. Jauhi tindakan keliru dan hindari ulah yang tidak bijaksana.
  3. Sukha berarti kesenangan; bermakna bahwa masa vānaprastha diisi dengan upaya mengontrol diri, mulat sarira (introspeksi diri), menahan diri, dan senang menasihati diri sendiri.
  4. Duḥkha berarti kesedihan; bermakna bahwa masa vānaprastha diisi dengan kemampuan mengesampingkan rasa sedih. Hindari diri dari penderitaan, jangan menampilkan lara, roga, atau saṃsāra, dan kendalikan rasa derita dari dalam diri.
  5. Prajā berarti manusia; bermakna bahwa manusia pada masa vānaprastha hendaknya stabil lahir batin, mampu menahan diri, dan menjaga keseimbangan hidup.

Pada intinya, filosofi dharmādharmā mengajarkan bahwa benar–salah hadir berpasangan, demikian pula sukha–duḥkha selalu berdampingan. Masa vānaprastha adalah tahap untuk menguatkan kontrol diri sebagai uttama prajā (manusia utama) yang mulia dan seimbang. Semoga serasi dalam menjalani masa vānaprastha dan siap memasuki masa bhikṣuka, melaksanakan sāsana bhikṣu. Svāhā. Kṣamā ca kṣami.

Palangka Raya, 19.10.2025

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Filosofi Ātmanastya

    Palangka Raya, 29.9.2025Oleh I Ketut Subagiasta Sangat penting diuraikan mengenai filosofi Ātmanastya (bunuh diri). Mari dipahami ajaran dalam pustaka suci Mānava Dharmaśāstra, sloka V.89 tentang bunuh diri dikaji secara ekoteologi yang mengandung nilai pendidikan Hindu, dikutip sebagai berikut: “वृथासंकर जातानां प्र व्रज्यासु च तिष्ठताम्आत्मनस्त्य् आगिनां चैव निर्वर्तेत् ओदक क्रिया” vṛthāsaṁkara jātānāṁ pra vrajyāsu ca tiṣṭhatāmātmanastya…

  • Pentingnya Menjaga Keseimbangan dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 24/09/2025 Umat sedharma, tujuan utama berbhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sesungguhnya adalah untuk mendapatkan rasa cinta kasih sayang dari-Nya yang selalu terpancar pada seluruh ciptaannya. Pancaran rasa kasih sayang dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa bagaikan sinar matahari yang menyinari bhumi (bumi) kepada seluruh alam semesta beserta isinya. Mereka yang…

  • Harmoniskan Unsur Triguṇatattva dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 15/04/2026 Umat sedharma, para bijak mengatakan bahwa di zaman kaliyuga ini, musuh utama bukanlah orang lain, melainkan diri sendiri, akibat ketidakmampuan mensinergikan unsur triguṇa, yaitu sattva, rajas, dan tamas dalam diri. Kesabaran, kedamaian, serta ketabahan (kṣamā) merupakan sifat bijak dan mulia yang harus tertanam dalam diri setiap umat Hindu guna meningkatkan kualitas rohani…

  • Filosofi Àmbhasā

    Palangka Raya, 8.6.2025 Oleh I Ketut Subagiasta Disajikan topik Àmbhasā, artinya oleh air. Mari dimaknai ajaran luhur tentang Àmbhasā secara ekoteologi dalam pustaka suci Bhagavad Gītā V-10 yang dikutip sebagai berikut: “ब्रह्मण्याधाय कर्माणि सङ्गं त्यक्त्वा करोति यः ।लिप्यते न स पापेन पद्मपत्रमिवाम्भसा ॥ ५-१०॥brahmaṇy ādhāya karmāṇi saṅgaṁ tyaktvā karoti yaḥlipyate na sa pāpena padma-patram ivāmbhasā…

  • Kesucian Pangkal dari Kebenaran

    Mutiara WedaYogyakarta, 23/05/2025 Umat sedharma, seva atau pengabdian merupakan bagian dari kerja atau Karma dan dari pengabdian itu pula akan dapat terbangunnya kesucian dalam diri sebagai pondasi dalam mengarungi kehidupan bagi setiap umat Hindu. Dari kesucian diri (Sauca) akan mendapatkan kemuliaan, dengan kemuliaan akan mendapatkan kehormatan, dan dengan kehormatan pula akan dapat memperoleh kebenaran atau…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *