Filosofi Bhūmiḥ Prakṛti

Palangka Raya, 12.9.2025

Disajikan uraian ekoteologi dengan topik Bhūmiḥ Prakṛti, artinya sifat alami tanah. Mari dipahami nilai luhur dalam pustaka suci Bhagavad Gītā VII.4 yang dikutip sebagai berikut:

“यततामपि सिद्धानां कश्चिन्मां वेत्ति तत्त्वतः ॥ ७-३॥
भूमिरापोऽनलो वायुः खं मनो बुद्धिरेव च ।
bhūmir āpo ‘nalo vāyuḥ khaṁ mano buddhir eva ca,
ahaṅkāra itīyaṁ me bhinnā prakṛtir aṣṭadhā.

Artinya:
Tanah, air, api, udara, ākāśa (eter), pikiran, buddhi, dan ahaṅkāra merupakan delapan unsur alam-Ku yang terpisah.”

Adapun makna ekoteologi filosofi Bhūmiḥ Prakṛti antara lain sebagai berikut.

Mengenai sifat bhūmiḥ yakni tanah. Maknanya, tanah harus dilestarikan jangan sampai tandus. Tanah wajib dirawat supaya subur dan menghasilkan. Tanah dilindungi supaya tidak longsor, tidak abrasi, tidak tandus, tidak menjadi lahan tidur, tidak gersang, dan tidak berubah menjadi lahan tidak produktif. Tanah tidak boleh ditelantarkan pemiliknya, tidak menjadi rebutan penjarah, tidak dijadikan ladang berpindah-pindah, tidak menjadi lahan tak bertuan, tidak berubah fungsi dari persawahan menjadi permukiman. Tanah jangan dijual semata ke investor, jangan berubah menjadi kawasan elit yang menyingkirkan rakyat, atau dijadikan lahan tambang yang setelah dikeruk hanya menyisakan kubangan dan bopeng di bumi.

Tanah juga jangan dieksploitasi berlebihan untuk proyek infrastruktur, jangan menjadi sumber sengketa antara masyarakat dan investor, jangan diklaim sepihak sebagai tanah adat tanpa penyelesaian hukum. Tanah jangan dijual serampangan untuk kebutuhan material dari daratan hingga jurang. Tanah jalur hijau jangan berubah menjadi jalur hunian. Tanah jangan menjadi pemicu tawuran antarwarga. Reklamasi pantai jangan sampai merusak ekosistem, tanah pesisir jangan punah tanpa hutan bakau. Pulau terluar jangan dipatok asing. Tanah harus jelas statusnya: bersertifikat hak milik, tidak hanya SKT, tidak bermasalah balik nama, tidak menjadi tanah gambut terbengkalai, tidak memiliki sertifikat ganda yang rawan sengketa. Tanah jangan diperjualbelikan melalui calo sehingga harga melambung. Semua persoalan ini memerlukan penanganan profesional serta pengaturan sesuai peraturan pemerintah yang berlaku.

Mengenai tanah, ada kesadaran warga masyarakat untuk menjaga kelestariannya dengan upaya positif, antara lain:
a) Mensertifikatkan tanah milik melalui jalur prona atau instansi terkait sehingga kepemilikan sah.
b) Melakukan penghijauan di daerah perbukitan agar tidak gersang.
c) Memanfaatkan tanah secara positif agar produktif.
d) Merawat tanah dengan baik supaya menjadi lahan yang asri, indah, subur, dan makmur.
e) Memproses status tanah tak bertuan, tanah adat, tanah hibah agar jelas legalitasnya dan tidak menimbulkan sengketa sosial.
f) Menjadikan tanah sebagai sumber rejeki dan sumber daya alam yang memberi manfaat positif sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Intinya, bhūmiḥ artinya tanah, bumi, alam semesta. Semuanya wajib dirawat dengan baik demi kebahagiaan dan kesejahteraan umat manusia di jagat raya. Mari dimaknai filosofi bumi secara ekoteologi: bumi dan tanah adalah kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Tanah harus dilestarikan, keasrian dan keindahan alam dijaga, demi bumi yang damai, lestari, dan indah bagi semuanya.

Rahayu. Svāhā. Kṣama ca Kṣami.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Sevaka Dharma

    Mutiara Weda Yogyakarta, 14/05/2026 Umat se-dharma, dalam susastra tersurat bahwa manusia yang dilahirkan ke dunia namun ingkar terhadap pelaksanaan Dharma, bahkan bingung terhadap agamanya sendiri, terlebih hanya mengejar kenikmatan dan kepuasan duniawi serta berhati tamak, disebut sebagai jadma kesasar atau manusia sesat. Sesungguhnya, hidup menjelma menjadi manusia merupakan kesempatan yang sangat utama untuk memperbaiki dan…

  • Karma & Hukum Yajña

    Mutiara WedaYogyakarta, 7 Juni 2026 Umat se-dharma, hakikat hidup menjelma menjadi manusia sesungguhnya adalah untuk bekerja. Bekerja merupakan suatu kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap umat Hindu, karena tidak sekejap pun manusia dapat diam tanpa bekerja. Melaksanakan tugas, kewajiban, dan tanggung jawab sendiri (svadharma), walaupun tidak sempurna, lebih mulia daripada melaksanakan tugas orang lain. Menjalankan…

  • Kesiapan akan Kebangkitan Hindu

    Mutiara Weda Yogyakarta, 10/07/2026 Umat Se-dharma, faktor yang sangat penting dalam menyongsong kebangkitan Hindu adalah kesiapan akan penguatan agem-ageman dalam beragama Hindu. Adapun yang menjadi benih atau cikal bakal penguatan tersebut terletak pada kuatnya agem-ageman dalam bentuk Śraddhā. Manakala kurangnya keyakinan, bingung, bahkan ragu terhadap agamanya, dapat dipastikan rapuhnya pondasi agama yang berdampak pada rapuhnya…

  • Berbuat dengan Ketanpaakuan

    Mutiara WedaYogyakarta, 20/03/2026 Umat sedharma, dalam susastra diungkapkan bahwa orang yang berkeinginan untuk berbuat tanpa keakuan (ahaṃkāra) akan memperoleh kedamaian serta keharmonisan dalam hidupnya. Orang yang berjiwa sabar, tenang, dan tulus diibaratkan seperti air yang mengalir ke dalam samudra. Walaupun terus-menerus mengalir, samudra tetap tenang dan tidak meluap. Demikian pula orang yang berjiwa sabar dan…

  • Menjaga Kesucian Budhi

    Mutiara Weda15/01/2025 Umat se-dharma, dalam susastra Hindu ada menyebutkan tresna hi sarvapapista nityodvegakari mata; sifat rakus, loba, dan serakah merupakan sumbernya bencana. Segala macam bentuk bencana atau kejahatan yang ditimbulkan oleh sifat rakus dan sejenisnya yang menyebabkan kebencian dan ketakutan orang lain disebut tresna. Tak ada sesuatu di dunia ini yang dapat memenuhi tresna, orang…

  • Dhūrtalakṣaṇam/Dustalakṣana (Slokantara, 73)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)22 Agustus 2026Oleh I Ketut Subagiasta Dhūrtalakṣaṇam/Dustalakṣana artinya perbuatan jahat atau penjahat. Dalam kehidupan terdapat dualisme perbuatan, yaitu perbuatan baik (sukerta, subhakarma) dan perbuatan tidak baik (duskerta, asubhakarma). Perbuatan jahat atau perilaku penjahat memiliki berbagai bentuk, antara lain: Tanda-tanda penjahat secara umum, antara lain bermuka manis, berbicara simpatik, penjilat, suka memfitnah,…