Filosofi Punyakarmanam

Palangka Raya, 3/6/2025

Oleh I Ketut Subagiasta

Disajikan topik Punyakarmanam yang artinya manusia yang berbuat kebajikan. Ajaran ekoteologi ini dimaknai dari pustaka suci Bhagavad Gītā XVIII.71, dikutip sebagai berikut:

“श्रद्धावाननसूयश्च श‍ृणुयादपि यो नरः ।
सोऽपि मुक्तः शुभांल्लोकान्प्राप्नुयात्पुण्यकर्मणाम् ॥ १८-७१॥”

śraddhāvān anasūyaś ca śṛṇuyād api yo naraḥ,
so ‘pi muktaḥ śubhāṁl lokān prāpnuyāt puṇya-karmaṇām.

Artinya:
Orang yang mempunyai keyakinan dan tidak mencela, walaupun sekadar hanya mendengar, ia juga terbebas dan mencapai dunia kebahagiaan manusia yang berbuat kebajikan.

Makna Filosofis Ekoteologis

Makna Punyakarmanam adalah manusia yang berbuat kebajikan, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

a) Śraddhāvān: artinya orang yang mempunyai keyakinan.
Manusia wajib percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mencintai lingkungan sekitarnya.

b) Anasūyah: artinya orang yang tidak mencela.
Manusia jangan mencela orang yang tidak bersalah. Dilarang merusak lingkungan dan menebang pohon secara liar.

c) Śṛṇuyāt: walaupun hanya mendengar ajaran kebajikan, namun bila dipatuhi, itu juga tergolong perbuatan bajik.

d) Naraḥ: artinya orang. Dalam konteks ini, yang mendengarkan dan menjalankan ajaran bajik itu adalah manusia kebajikan juga.

e) Muktaḥ: artinya terbebaskan, yakni dari penderitaan atau dari samsara.

f) Śubhān: artinya baik, bahagia.
Orang yang subha adalah orang yang mencapai kebahagiaan sejati.

Intisari

Intinya, orang yang berbuat kebajikan atau Punyakarmanam, akan memperoleh prāpnuyāt — yaitu mencapai kebebasan dari samsara untuk menuju mukta.
Semua umat manusia sepatutnya memaknai filosofi Puṇyakarmaṇaṁ sebagai ajaran bahwa orang yang berbuat bajik, mulia, dan luhur akan mencapai kebahagiaan.

Memelihara lingkungan yang asri, indah, bersih, dan harmonis adalah bagian dari perbuatan kebajikan.

Rahayu. Svaha. Ksama ca Ksami.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Bangun Keseimbangan di Dalam Diri

    Mutiara WedaJogjakarta, 07/05/2026 Umat Sedharma, pemusatan dan pengendalian pikiran dari pengaruh indria atau hawa nafsu, yaitu Citta Vṛtti Nirodha, menjadi faktor penting dalam menjalankan proses kehidupan di dunia ini, di alam saṁsāra ini. Orang yang dapat mengendalikan dirinya dari pengaruh-pengaruh indria atau hawa nafsunya bagaikan seekor penyu yang sedang menarik seluruh anggota badannya ke dalam cangkangnya. Orang yang…

  • Bhavana (BG. II.66)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)16.7.2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Bhavana (BG. II.66) Bhavana adalah ketenangan pikiran. Konsentrasi dan ketenangan pikiran memerlukan kecerdasan atau buddhi, memerlukan kedamaian atau śānti (santih), serta memerlukan konsentrasi atau dhyana, demi meraih sukham sakala niskala, yaitu kebahagiaan lahir dan batin. Bagikan ke:

  • Widvaangga: Berperilaku Semu

    Mutiara WedaYogyakarta, 15/07/2026 Umat Se-Dharma, Jika dilihat dinamika kehidupan di zaman ini, artha (uang ataupun kekayaan) seolah-olah menjadi satu-satunya tujuan hidup dan segala-galanya bagi kehidupan. Gemerlap artha dan tumpukan kekayaan yang menggunung masih terasa menjadi prioritas utama yang menyilaukan dan sangat dihargai di zaman ini oleh sebagian umat manusia. Dunia terasa diselubungi oleh kegelapan, pelaku-pelaku…

  • Kesadaran

    Mutiara WedaYogyakarta, 17/10/2025 Umat sedharma,dalam śāstra diungkapkan: Agne tapas tapyāmahe,upa tapyāmahe tapaḥ. Kesadaran serta kemampuan untuk mengendalikan dan mengekang seluruh indriya akan dapat menghadirkan pengetahuan rohani. Membangun sifat-sifat kedewataan dengan menghapus niat buruk atau niat jahat menjadi suatu keharusan. Oleh karena itu, sebagai umat Hindu, membangun kekuatan kedewataan dengan menyelaraskan dan menyerasikan antara kepala dan…

  • Bhoga-Svātantrya

    Mutiara WedaYogyakarta, 28 Mei 2026 Umat se-dharma, dalam sesanti Hindu disebutkan: “Ala ulah ala tinemu, ayu kinardi ayu pinanggih.” Benih padi yang ditanam akan menghasilkan padi, demikian pula benih jagung yang ditanam akan menghasilkan jagung. Demikianlah hakikat Hukum Karma Phala, bahwa setiap perbuatan akan melahirkan akibat yang sepadan dengan sebab yang ditimbulkannya. Manusia tidak memiliki…

  • Sevaka Dharma

    Mutiara Weda08/01/2026 Umat Sedharma, dalam susastra ada tersurat bahwa manakala terlahir menjelma menjadi manusia, ingkar akan pelaksanaan Dharma, bingung dengan agamanya, apalagi hanya mengejar kenikmatan dan kepuasan duniawi serta berhati tamak, orang semacam ini disebut Jadma Kesasar (manusia tersesat) atau Manusia Sesat. Sesungguhnya, hidup menjelma menjadi manusia sangatlah utama, suatu kesempatan untuk memperbaiki atau membenahi diri. Demikian juga,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *