Yajñākṣapitakalmaṣāḥ (BG. IV.40)

DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)
23 Agustus 2026
Oleh I Ketut Subagiasta

Yajñākṣapitakalmaṣāḥ artinya yajña yang melebur dosa-dosa. Ada aneka jenis yajña atau yajñavidah. Ada daun (patram), bunga (puṣpam), buah (phalam), air (toyam/tīrtha), api (agni), dan mantra (mantram).

Semua jenis sarana yajña (yajñavidah) merupakan bentuk persembahan yang berfungsi untuk melebur dosa-dosa umat Hindu. Mari kita maknai filosofi Yajñākṣapitakalmaṣāḥ.

Patram, Puṣpam, Phalam, Toyam, Agni, ca Mantram merupakan jenis sarana yajña atau yajñavidah sebagai bentuk persembahan untuk melebur dosa-dosa dalam pelaksanaan Panca Maha Yajña, yaitu Dewa Yajña, Manusa Yajña, Rsi Yajña, Pitra Yajña, dan Bhuta Yajña.

Rahayu. Svaha.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Yadā Yadā Dharmasya Glānir (BG IV.7)

    DHARMAŚABDANĀM MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA) Yadā Yadā Dharmasya Glānir (BG IV.7) Yadā Yadā Dharmasya Glānir mengandung makna bahwa kapan pun Dharma tidak dipatuhi dan mengalami kemerosotan, Hyang Widhi Wasa senantiasa menegakkan Dharma di jagat raya demi terciptanya ketenteraman, kedamaian, dan kesejahteraan seluruh kehidupan (jagad hita), sehingga terwujud keadaan yang damai dan harmonis. I KETUT SUBAGIASTA…

  • Membangun Kualitas Karma

    Mutiara WedaYogyakarta, 10/01/2026 Umat Sedharma, bila cinta kasih mengisi pikiran manusia, maka akan menjelma menjadi kebenaran Satya (kebenaran). Tatkala cinta kasih menyatakan dirinya dalam bentuk kegiatan, maka ia menjadi Dharma (kebajikan). Demikian pula, bila perasaan diliputi oleh cinta kasih, maka ia akan menjadi perwujudan kedamaian Santih (damai). Pada hakikatnya, melaksanakan cinta kasih itu adalah perbuatan Dharma (kebajikan), berpikir cinta kasih sesungguhnya adalah Satya (kebenaran), dan…

  • Nityam (BG II.30)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)30 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Nityam (BG II.30) Nityam berarti kekal, abadi, dan selamanya. Dalam kehidupan, terdapat dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Jiwa bersifat nityam (abadi), sedangkan raga bersifat anityam (tidak abadi). Jiwa yang bersifat kekal pada akhirnya akan kembali kepada Parama Ātman. Sebaliknya, raga atau śarīra (badan)…

  • Panditah (BG. II.11)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI(MUTIARA KATA DHARMA)10/07/2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Panditah (BG. II.11) Panditah adalah orang bijaksana. Berbuat bijaksana merupakan perbuatan panditah. Orang bijaksana tidak bergembira terhadap yang hidup dan tidak bersedih terhadap yang mati. Antara sukha dan duhkha, orang bijaksana tetap tampil tenang (prasanta) dan damai (santih). Umat Hindu wajib berkepribadian panditah atau bijaksana dalam melakoni…

  • Sevaka Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 27 Juli 2026 Umat Sedharma, Dalam susastra tersurat bahwa manusia yang terlahir ke dunia tetapi mengingkari pelaksanaan Dharma, bahkan bingung terhadap agamanya, hanya mengejar kenikmatan dan kepuasan duniawi, serta dipenuhi sifat tamak, disebut Jadma Kesasar atau manusia sesat. Sesungguhnya, kesempatan menjelma menjadi manusia merupakan anugerah yang sangat utama untuk memperbaiki dan membenahi diri….

  • Hiranyagarbha

    Mutiara WedaYogyakarta, 24/05/2025 Umat Se-Dharma,Jika disadari, sesungguhnya setiap umat manusia tidak akan pernah lepas dari tiga siklus alur kehidupan: Utpeti, Sthiti, dan Pralina (kelahiran, kehidupan, dan akhirnya menuju kematian atau kembali ke asal), sebagai tiga kemahakuasaan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa Tri Kona. Setiap manusia hidup ke dunia ini memiliki tenaga atau kekuatan yang…