Prakāśakam (BG. XIV.6)

DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)
15 September 2026
Oleh I Ketut Subagiasta

Prakāśakam artinya bersinar. Manusia Hindu yang memiliki kepribadian yang bersinar, seperti kepribadian yang penuh kemuliaan, kebajikan, kebaikan, keluhuran, kebijaksanaan, dan keteladanan, hendaknya memiliki wawasan luas untuk ditularkan kepada semua warga di sekitarnya.

Kunci utama adalah menjadikan kepribadian Sattwam sebagai dasar dan pijakan dalam setiap perilaku. Sifat Sattwam yang memancar luhur setiap saat akan memberikan dampak aura mulia bagi sesama kehidupan.

Umat Hindu memerlukan Nayaka Prakāśakam Sucahya, yaitu pemimpin yang bersinar cemerlang secara Manah, Vak, dan Kaya.

Rahayu. Svaha. Svasti.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Bersahabat dengan Kesabaran

    Mutiara WedaYogyakarta, 31/10/2025 Umat se-dharma, jika direnungkan, hidup menjelma menjadi manusia di dunia ini ibarat cakramanggilingan (roda kehidupan yang terus berputar), silih berganti—kadang di atas, kadang di bawah—penuh tantangan dan ujian hidup. Tanpa ombak yang ganas, tak akan pernah diketahui kemampuan seorang peselancar; demikian pula tanpa cobaan, tantangan, dan godaan hidup, tidak akan tampak kualitas…

  • Sang Yatha Sakti Kayika Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 15/09/2025 Umat se-dharma, ajaran agama Hindu memiliki konsep jenjang kehidupan yang sangat jelas dan tersusun secara sistematis yang dikenal dengan nama Catur Āśrama, yaitu empat tahapan hidup yang wajib dilalui oleh setiap umat manusia (Brahmacārī, Gṛhastha, Wānaprastha, dan Bhikṣuka). Pada tahapan kedua, Gṛhastha Āśrama, merupakan tahapan sebagai ujian yang sebenarnya, di mana seseorang…

  • Śulabaning Kleśa

    Mutiara Weda27/12/2025 Umat se-dharma,bila direnungkan, kehidupan ini—ketika menjelma menjadi manusia—sesungguhnya merupakan kumpulan berbagai persoalan yang senantiasa menyertai perjalanan hidup di māyā (dunia fana) ini. Munculnya beragam persoalan yang dapat mengotori kehidupan umat manusia disebut Śulabaning Kleśa (belenggu penderitaan), yang disebabkan oleh unsur Pañca Kleśa (lima kekotoran batin). Pañca Kleśa merupakan lima jenis kekotoran dalam kehidupan…

  • Hidup dalam Rwa Bhineda

    Mutiara WedaYogyakarta, 13 Juli 2026 Umat Se-Dharma, jika direnungkan, nasib atau takdir yang dialami oleh setiap umat manusia merupakan pengingat dan pertanda bahwa ada kekuatan yang lebih tinggi yang mengatur segala sesuatu, yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Ida Sang Hyang Parama Kawi. Demikian pula dalam menjalani kehidupan di dunia ini, Rwa Bhineda senantiasa…

  • Jangan Menjadi Jadma Kesasar

    Mutiara WedaYogyakarta, 24 Juni 2026 Umat sedharma, dalam susastra tersurat bahwa manakala memperoleh kesempatan lahir dan hidup menjelma sebagai manusia, namun ingkar terhadap pelaksanaan Dharma, serta hanya mengejar kenikmatan dan kepuasan nafsu duniawi dengan hati yang tamak, maka orang seperti itu disebut jadma kesasar (manusia sesat). Sesungguhnya, hidup menjelma menjadi manusia merupakan kesempatan yang sangat…

  • Pentingnya Mengatur Sentuhan Indria

    Mutiara Weda Yogyakarta, 6 Juli 2026 Umat Se-dharma, sifat keterikatan dan kebencian yang sering menggerogoti jiwa umat manusia sangat dipengaruhi oleh pengaturan sentuhan-sentuhan indria dengan objek indria. Dengan tidak dikendalikan oleh kedua sifat tersebut, akan lebih mudah terwujud kesadaran diri. Bagi mereka yang jiwanya selalu dipengaruhi oleh rasa benci, iri hati, dan sifat-sifat sejenisnya, sesungguhnya…