Filosofi Āpah Prakṛti

Palangka Raya, 13.9.2025

Disajikan uraian ekoteologi dengan topik Āpah Prakṛti, artinya sifat alami air, ajaran luhur dalam pustaka suci Bhagavad Gītā VII.4 yang dikutip sebagai berikut:

“यततामपि सिद्धानां कश्चिन्मां वेत्ति तत्त्वतः ॥ ७-३॥
भूमिरापोऽनलो वायुः खं मनो बुद्धिरेव च ।
bhūmir āpo ‘nalo vāyuḥ khaṁ mano buddhir eva ca,
ahaṅkāra itīyaṁ me bhinnā prakṛtir aṣṭadhā.

Artinya:
Tanah, air, api, udara, ākāśa (eter), pikiran, buddhi, dan ahaṅkāra merupakan delapan unsur alam-Ku yang terpisah.”

Adapun makna ekoteologi filosofi Āpah Prakṛti yakni sifat alami air. Maknanya, air harus dijaga kelestariannya, jangan sampai tersumbat kotoran yang berdampak banjir besar, baik di desa, di kota, maupun di berbagai tempat yang tergenang air dan membahayakan manusia serta merusak lingkungan.

Umat manusia memiliki kewajiban mulia untuk menjaga kebersihan air. Terkait filosofi Āpah Prakṛti, sifat alami air adalah mengalir terus-menerus tanpa berhenti. Secara ekoteologi, air adalah kuasa Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam murti Dewa Viṣṇu. Atas kekuatan Dewa Indra, hujan turun ke bumi. Air hujan ditampung oleh alam: dari giri (gunung), parvata (perbukitan), wana (hutan), kūpam (sumur), tālaga (danau), dan nādī (sungai). Perlahan air mengalir dari hulu ke hilir. Air hujan diserap tumbuhan (sthāvara) dengan kuasa Paśupati, lalu mengalir melalui mata air, kali, tukad, pangkung, dan lembah, menyatu menjadi aliran sungai.

Air yang mengalir sepanjang pagi, siang, sore, dan malam dimanfaatkan untuk mengairi sawah, air minum, mandi, mencuci, memasak, kebutuhan industri, serta kebutuhan hidup desa maupun kota. Air adalah kebutuhan primer. Manusia, tumbuhan, dan hewan semuanya membutuhkan air. Tanpa air, manusia bisa mati. Tanpa air, tumbuhan layu dan mati. Tanpa air, hewan juga mati. Maka air adalah sumber kehidupan di jagat raya.

Mengingat manfaat air sangat besar, kebersihannya harus dijaga bersama oleh semua pihak. Cara efektif antara lain:
a) Melakukan penghijauan di lahan resapan air (reboisasi), merawat kelestarian hutan, tanaman produktif, dan lingkungan hijau dengan sinergi dan kolaborasi.
b) Menjaga kebersihan Daerah Aliran Sungai (DAS), merawat sumur, mata air, pancoran, beji, tālaga, bendungan (dam), saluran drainase, gorong-gorong, hingga saluran limbah. Kesadaran menjaga kebersihan lingkungan dapat mencegah sumbatan saat musim hujan. Pemerintah melalui dinas terkait wajib sigap melakukan langkah preventif sebelum musim hujan: renovasi gorong-gorong, memastikan sampah tidak menumpuk, dll.
c) Menyediakan TPA dengan mesin daur ulang sampah yang dikelola profesional.
d) Menyediakan armada pengangkut sampah dengan jadwal rutin.
e) Mencontoh pola pengelolaan daur ulang sampah Kabupaten Indramayu yang sukses di tingkat ASEAN.
f) Menggerakkan program GERBASIH (Gerakan Bali Bersih) menuju Bali: Bersih, Aman, Lestari, Indah.
g) Melibatkan warga untuk swakelola kebersihan lingkungan, misalnya lomba kebersihan desa. Desa terbersih diberi penghargaan berupa piala dan dana pembinaan. Cara kompetitif ini menjadikan setiap desa teladan kebersihan, berdampak pada air sehat dan bersih. Dengan langkah ini, banjir bisa diantisipasi sejak dini.

Intinya, filosofi Āpah Prakṛti mengandung makna luhur: sifat alami air yang wajib dijaga secara ekoteologi agar manusia dianugerahi rahayu oleh Tuhan Yang Maha Esa menuju damai lahir batin. Air sehat, manusia pun sehat. Lingkungan bersih, air pun bersih. Semoga semua makhluk berbahagia dan sejahtera. Mari dimaknai dan diamalkan filosofi Āpah Prakṛti demi air sehat dan umat manusia yang sehat.

Rahayu. Svāhā. Kṣama ca Kṣami.

Oleh I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Ātmanastuti

    Mutiara WedaYogyakarta, 20 Juli 2025 Umat Se-Dharma, Memperkokoh keyakinan dalam beragama melalui Śraddhā dan Bhakti, serta selalu merawat dan menjaga anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, merupakan suatu kewajiban bagi setiap umat Hindu. Kebenaran dan kebajikan dijaga melalui perilaku yang baik. Demikian pula, śāstra-śāstra suci dijaga dengan keteguhan hati dan kesucian pikiran. Kelahiran sebagai…

  • Kesadaran

    Mutiara WedaYogyakarta, 02/05/2026 Umat Sedharma, dalam susastra diungkapkan: Agne tapas tapyāmahe,upa tapyāmahe tapaḥ. Sesungguhnya kesadaran dan kemampuan digunakan untuk mengekang seluruh indria guna menghasilkan pengetahuan rohani. Membangun sifat kedewataan, yaitu sifat yang penuh dengan kebajikan, dengan menghapus niat buruk menjadi suatu keharusan. Oleh karena itu, marilah sebagai umat Hindu membangun kekuatan kedewataan dengan menyelaraskan dan…

  • Tiga Siklus Hidup Manusia

    Mutiara WedaYogyakarta, 29/12/2025 Umat se-dharma,bila disadari, sesungguhnya setiap umat manusia tidak pernah lepas dari tiga siklus alur proses kehidupan, yaitu utpatti (kelahiran), sthiti (kehidupan), dan pralīna (peleburan/kembali ke asal)—sebagai tiga kemahakuasaan Ida Saṅ Hyang Widhi Wasa yang dikenal sebagai Tri Koṇa (tiga proses kosmis). Setiap manusia yang hidup di dunia ini memiliki tenaga atau kekuatan…

  • Kuatkan Pikiran dengan Metapa

    Mutiara WedaYogyakarta, 30 Mei 2026 Umat sedharma, dalam pustaka suci tersurat: “Surā, Sarasvatī, Lakṣmī ity etat madakāraṇam …” dan seterusnya. Ada tiga hal yang menyebabkan manusia lupa akan dirinya sendiri sehingga mengalami kemabukan, yaitu minuman keras, kepandaian, dan kekayaan. Kemabukan atau kegelapan pikiran yang dapat menjerumuskan manusia menjadikan pengendalian diri sebagai faktor yang sangat penting…

  • Tutur Agama Menjaga Manusia

    Mutiara WedaYogyakarta, 13/06/2026 Umat sedharma, menjaga dan merawat anugerah Tuhan merupakan suatu kewajiban bagi setiap umat manusia. Kebenaran dan kebajikan dijaga melalui perilaku yang baik. Begitu pula sastra-sastra suci dijaga dengan keteguhan hati dan kesucian pikiran. Demikian pula halnya dengan kelahiran sebagai manusia yang dapat dijaga melalui tuntunan agama, budi pekerti, dan etika yang baik….

  • Nava Susila (BG XIII.7)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)27 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Nava Susila (BG XIII.7) Nava Susila adalah sembilan kesusilaan. Kehidupan sosial hendaknya dituntun oleh nilai sembilan perilaku susila, antara lain: Segala persoalan atau sarva samasya hendaknya diselesaikan dengan berlandaskan sembilan perilaku susila tersebut. Harapannya, kehidupan yang aman, nyaman, rahayu, bahalap, becik, dan tenteram bersama…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *