Bangkitkan Bhūṣaṇa dalam Diri

Mutiara Weda
Yogyakarta, 05/04/2026

Umat sedharma, jika kita renungkan, tatkala kesadaran diri melebur dengan kesadaran sejati, yakni Yang Maha Agung, maka yang tersisa hanyalah kebahagiaan tanpa batas. Membangun kecerdasan sangatlah penting bagi setiap umat manusia, dengan menempatkan kecerdasan intelektual sebagai dasar, yang diperhalus oleh kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual, menuju kesadaran sejati dengan bhūṣaṇa sebagai pengikatnya.

“Busana kekayaan” berupa keramahan; “busana orang kuat” dalam bentuk ucapan atau perkataan yang halus; serta “busana pengetahuan” dalam wujud kedamaian. Adapun “busana bagi orang yang belajar agama” adalah kerendahan hati sebagai kavaca dharma-nya. Demikian pula, “busana bagi orang besar” berupa sifat pemaaf dan pengampun.

Oleh karena itu, sebagai umat Hindu, dalam situasi dan kondisi apa pun, gunakan kavaca dharma dan bangkitkan bhūṣaṇa yang ada dalam diri dengan membangun kesadaran diri. Ketika kesadaran telah melampaui kesadaran materi melalui kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ), maka akan menuju pada kesadaran jiwa melalui kecerdasan spiritual (SQ), hingga mencapai kesadaran yang paling hakiki, yaitu bersemayamnya Tuhan dalam diri dengan landasan pengendalian diri lahir maupun batin.

Niscaya, seseorang akan mampu menapaki hidup dengan rendah hati, bijaksana, serta mampu mengendalikan śuluh ikaṅ prabhā (cahaya batin) dan mengelola emosi menuju kesadaran sejati.
(Kitab Nītiśatakam)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Filosofi Analo Prakṛti

    Palangka Raya, 14.9.2025 Disajikan uraian ekoteologi dengan topik Analo Prakṛti, artinya sifat alami api, ajaran luhur dalam pustaka suci Bhagavad Gītā VII.4 yang dikutip sebagai berikut: “यततामपि सिद्धानां कश्चिन्मां वेत्ति तत्त्वतः ॥ ७-३॥भूमिरापोऽनलो वायुः खं मनो बुद्धिरेव च ।bhūmir āpo ‘nalo vāyuḥ khaṁ mano buddhir eva ca,ahaṅkāra itīyaṁ me bhinnā prakṛtir aṣṭadhā. Artinya:Tanah, air, api,…

  • Sanātana Dharma: Kebenaran Sejati

    Mutiara Weda Yogyakarta, 01/05/2026 Umat Se-dharma, dalam sesanti Hindu tersurat bahwa kesucian batin akan dapat terwujud manakala seseorang memiliki kemampuan untuk mengintrospeksi dan mengendalikan diri. Demikian pula, kesucian diri akan mampu membangun kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan, yang selanjutnya dengan keyakinan spiritual akan dapat mewujudkan kebenaran sejati, yaitu Sanātana Dharma. Hakikat kebenaran sesungguhnya merupakan hukum yang abadi, yaitu hukum ṛta ataupun hukum karma, dengan landasan…

  • Harmoniskan Unsur Triguṇatattva dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 02/01/2026 Umat se-dharma,orang-orang bijak mengatakan bahwa pada zaman Kali Yuga ini musuh yang paling utama bukanlah orang lain, melainkan diri sendiri. Hal ini terjadi akibat ketidakmampuan manusia mensinergikan unsur Tri Guṇa—sattva (kemurnian/keseimbangan), rajas (dinamika/nafsu), dan tamas (kegelapan/kemalasan)—di dalam diri. Kesabaran, kedamaian, serta ketabahan kṣamā (sikap memaafkan dan tahan uji) merupakan sifat bijak dan…

  • Bersahabat dengan Kesabaran

    Mutiara WedaYogyakarta, 3 Agustus 2026 Umat Sedharma, Jika dicermati, kehidupan manusia di dunia ini ibarat Cakra Manggilingan yang senantiasa berputar. Terkadang berada di atas, terkadang berada di bawah, silih berganti, penuh dengan berbagai cobaan dan tantangan kehidupan. Tanpa ombak yang ganas, seseorang tidak akan pernah mengetahui kemahirannya dalam berselancar. Demikian pula, tanpa cobaan, tantangan, dan…

  • Sevaka Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 09/04/2026 Umat sedharma, dalam susastra disebutkan bahwa manusia yang terlahir namun mengingkari pelaksanaan dharma, bingung terhadap ajaran agamanya, serta hanya mengejar kenikmatan dan kepuasan duniawi dengan hati yang tamak, disebut sebagai jadma kesasar (manusia yang tersesat). Sesungguhnya, kelahiran sebagai manusia merupakan kesempatan yang sangat utama untuk memperbaiki dan membenahi diri. Kehidupan manusia juga…

  • Ketulusan Landasan dalam Mekarma

    Mutiara WedaYogyakarta, 26/03/2026 Umat sedharma, jika direnungkan dalam susastra tersurat bahwa dalam menjalankan Tri Kaya Sandhi (tiga penyucian pikiran, perkataan, dan perbuatan), perbuatan atau persembahan janganlah semata-mata hanya karena mengharapkan hasil atau pahalanya. Memang terasa sulit didapati di zaman ini melakukan perbuatan tanpa dilandasi keinginan akan pahala. Demikian pula halnya dengan ajaran-ajaran Veda yang dipelajari…