Ahaṃkāra Jñāna

Mutiara Weda
Yogyakarta, 29/04/2027

Umat sedharma, sesungguhnya pikiran atau manaḥ merupakan penyebab penderitaan dan kesengsaraan apabila dibelenggu oleh hawa nafsu, yaitu ahaṃkāra jñāna (ego yang diliputi ketidaktahuan). Sebaliknya, apabila pikiran bersih dan suci, tidak diliputi kekacauan, serta bebas dari berbagai kecemaran, maka keadaan tersebut mencerminkan sāttvika vidyā (pengetahuan yang murni). Inilah hakikat kedamaian dalam ajaran Hindu.

Belajar memahami kelebihan dan menerima kekurangan orang lain tanpa membencinya merupakan suatu keharusan. Gunakan pandangan untuk melihat kelebihan, bukan mencari-cari kekurangan. Sikap ini menjadi landasan dalam membangun manaḥ śāntiḥ (kedamaian batin) hingga mencapai parama śāntiḥ (kedamaian tertinggi).

Sesungguhnya, proses kehidupan—baik suka maupun duka—berpangkal pada kebodohan. Kebodohan menimbulkan kerakusan, dan kerakusan kembali memperkuat kebodohan. Oleh karena itu, kebodohan menjadi akar dari kesengsaraan.

Oleh karena itu, sebagai umat Hindu, bangunlah kualitas diri dengan membersihkan pikiran melalui kejujuran dan kebenaran (manaḥ satyena śudhyanti), serta menghilangkan kebodohan dan melenyapkan kerakusan (lobha) yang bersumber dari ahaṃkāra jñāna.

Niscaya, akan terwujud kehidupan yang tenang dan damai, serta terbebas dari penderitaan, baik dalam proses kelahiran maupun kematian. Prasiddham entas ing bhavārṇava (terkenal sebagai jalan menyeberangi lautan kehidupan).
(Sārasamuccaya 399–402)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Sanggraha Nusantara
(PSN) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Krodha, Cermin Pudarnya Nilai Kesabaran

    Mutiara Weda Yogyakarta, 21/05/2026 Umat se-dharma, kesabaran merupakan kekayaan yang paling mulia dan tak ternilai harganya, ibarat emas dan permata yang mampu memerangi kekuatan hawa nafsu; tiada yang melebihi kemuliaannya. Tatkala kesabaran dan ketenangan hati mulai berkurang, tidak akan pernah ada kepastian akan terjalinnya persahabatan. Sebaliknya, yang muncul adalah jiwa murka yang menyelubungi diri, yang…

  • Filosofi Bijam

    Disajikan topik Filosofi Bijam, yang artinya benih. Mari kita pahami dan maknai ajaran luhur dari pustaka suci Bhagavad Gītā VII.10 yang dikutip sebagai berikut: “जीवनं सर्वभूतेषु तपश्चास्मि तपस्विषु ॥ ७-९॥बीजं मां सर्वभूतानां विद्धि पार्थ सनातनम् ।bījaṁ māṁ sarva-bhūtānāṁ viddhi pārtha sanātanam,buddhir buddhimatām asmi tejas tejasvinām aham.” Artinya:“Ketahuilah, wahai Pārtha, Aku ini adalah benih abadi dari…

  • Nityam (BG II.30)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)30 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Nityam (BG II.30) Nityam berarti kekal, abadi, dan selamanya. Dalam kehidupan, terdapat dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Jiwa bersifat nityam (abadi), sedangkan raga bersifat anityam (tidak abadi). Jiwa yang bersifat kekal pada akhirnya akan kembali kepada Parama Ātman. Sebaliknya, raga atau śarīra (badan)…

  • Sejarah Agama Hindu

    Berbicara sejarah Agama Hindu, penting untuk umat Hindu menoleh ke masa lalu, yakni masa atita. Sekilas tentang Asal Usul Agama HinduSebuah lokasi di lembah Sungai Sindhu di negeri India, daerah Jammu Kashmir, merupakan asal mula Agama Hindu. Mengenai asal Agama Hindu, dipercaya sebagai agama tertua di dunia yang bermula di Lembah Indus, India, sekitar tahun…

  • Menabur Kebajikan sebagai Bentuk Yadnya Suci

    Mutiara WedaYogyakarta, 22 Agustus 2026 Umat se-Dharma, ketika seseorang selalu menabur kebencian, suatu pertanda bahwa di dalam dirinya hanya ada kebencian. Akan tetapi, orang yang memiliki kebajikan/Dharma dapat dipastikan akan memancarkan ajaran kebenaran/Dharma Vahini dalam kehidupannya. Hanya orang yang sejuk di dalam hatinya yang dapat menemukan kesejukan, kedamaian, dan keharmonisan di luar dirinya. Sulit membayangkan…

  • Visudha Karma

    Mutiara WedaYogyakarta, 19/05/2025 Umat Se-dharma, dalam pustaka suci Weda menyebutkan:Sesungguhnya semua umat manusia memiliki kebebasan, bebas menentukan kehendaknya dan sepenuhnya pula bertanggung jawab atas semua perbuatannya sendiri — Svatantra Katah. Demikian pula, tak satupun manusia bisa luput dari kerja walaupun hanya sesaat, oleh hukum alam manusia dibuat tidak berdaya untuk selalu bekerja. Kualitas perbuatan menentukan…