Filosofi Sugihan
Mutiara Weda
Yogyakarta, 11/06/2026
Umat sedharma, salah satu kewajiban umat Hindu menjelang perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan adalah melaksanakan upacara penyucian yang dikenal dengan Sugihan sebagai bagian dari rangkaian Hari Raya Galungan. Sugihan Jawa dan Sugihan Bali memiliki makna penyucian Bhuana Agung (alam semesta) dan Bhuana Alit (diri manusia).
Sugihan Jawa dilaksanakan pada Kamis Wage Wuku Sungsang sebagai perlambang penyucian makrokosmos atau Bhuana Agung (alam semesta). Adapun Sugihan Bali yang jatuh pada Jumat Kliwon Wuku Sungsang merupakan perlambang penyucian mikrokosmos atau Bhuana Alit (diri manusia) bagi setiap umat Hindu.
Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban setiap umat Hindu menjelang perayaan Hari Suci Galungan untuk terlebih dahulu melaksanakan penyucian melalui Hari Suci Sugihan, dengan melaksanakan yajña (korban suci) sebagai proses penyucian makrokosmos (Bhuana Agung) dan mikrokosmos (Bhuana Alit).
Dewa Kalinggania Pamrastista Bhaṭāra Kabeh
(maknanya sebagai penyucian dan pemuliaan seluruh manifestasi Tuhan)
Kalinggania Amretista Raga Tawulan
(maknanya sebagai penyucian diri atau raga manusia)
Niscaya umat Hindu dapat menyongsong Hari Suci Galungan dengan landasan kesucian lahir dan batin, baik pada Bhuana Alit (diri manusia) maupun Bhuana Agung (alam semesta).
(Kitab Sundarigama)
Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU
Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Pusat
“Rahajeng Rahina Suci Sugihan Jawa”
