Widvāṅga

Mutiara Weda
Yogyakarta, 31 Mei 2026

Umat sedharma, jika dilihat dari dinamika kehidupan pada zaman ini, artha atau uang serta kekayaan seolah-olah menjadi satu-satunya tujuan hidup dan segala-galanya bagi kehidupan. Gemerlap artha dan tumpukan kekayaan yang menggunung masih terasa menjadi prioritas utama yang menyilaukan serta sangat dihargai pada zaman ini oleh sebagian umat manusia. Dunia seakan-akan diselubungi oleh kegelapan dan pelaku-pelaku kesemuan, penuh dengan sandiwara (Saṅ Widvāṅga), sehingga dunia terasa kehilangan kesucian dan kekuatannya.

Jika kita amati dalam kehidupan sehari-hari, orang yang gemar berderma justru jatuh miskin. Begitu pula, para penjahat memperoleh umur yang panjang, sedangkan orang baik cenderung lekas meninggal dunia. Tingkah laku orang hina dianggap mulia, sementara orang bodoh dipandang bijaksana, dan orang yang berbudi rendah dianggap terhormat. Inilah beberapa karakter zaman Kali Yuga yang patut diwaspadai.

Oleh karena itu, sebagai umat Hindu, marilah senantiasa mewaspadai berbagai kecenderungan yang muncul akibat pengaruh zaman Kali Saṅgara yang membawa beragam cobaan dan godaan, baik lahir maupun batin. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memantapkan kembali tatanan kehidupan beragama yang benar melalui pengamalan nilai-nilai tapa, brata, yoga, dan samādhi dalam kehidupan sehari-hari, serta senantiasa melaksanakan yajña demi terciptanya kerti. Niscaya, umat Hindu akan terhindar dari berbagai pengaruh buruk zaman dan mampu mencapai kebahagiaan, baik sekala maupun niskala.

(Ślokāntara 81.65)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU.

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) DIY

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Sevaka Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 30 Juli 2026 Umat Sedharma, Dalam susastra diungkapkan bahwa apabila seseorang yang terlahir sebagai manusia mengingkari pelaksanaan Dharma, bahkan bingung terhadap agamanya, hanya mengejar kenikmatan dan kepuasan duniawi, serta dipenuhi sifat tamak, maka orang semacam itu disebut Jadma Kesasar atau manusia sesat. Sesungguhnya, menjelma menjadi manusia merupakan kesempatan yang sangat utama untuk memperbaiki…

  • Lobha (SS. 400)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)Kamis, 13 Agustus 2026Oleh I Ketut Subagiasta Lobha (SS. 400) Lobha adalah sifat tamak dan rakus. Kehidupan yang silih berganti antara suka dan duka (sukha-duḥkha) pada awalnya bersumber dari kebodohan (ajñāna). Kebodohan tersebut dapat berkembang menjadi lobha, yaitu sifat tamak dan rakus, yang pada akhirnya menjadi salah satu sumber kesengsaraan dalam…

  • Dharmas tretāyām (Manu Dharmaśāstra I.85)

    DHARMAŚABDANAM MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA) Oleh I Ketut Subagiasta Dharmas tretāyām mengajarkan agar Dharma senantiasa ditegakkan atau kebajikan selalu dilaksanakan pada setiap zaman, baik pada Kṛta Yuga, Tretā Yuga, Dvāpara Yuga, maupun Kali Yuga. Orang yang menegakkan kebajikan adalah mereka yang tetap teguh sepanjang masa dan tidak pernah surut semangatnya. Kapan pun dan dalam keadaan…

  • Ahaṅkāra Jñāna

    Mutiara WedaYogyakarta, 23/05/2026 Umat sedharma, jika direnungkan, manah (pikiran) sesungguhnya merupakan penyebab dari penderitaan dan kesengsaraan tatkala pikiran dicemari oleh hawa nafsu serta berbagai kekotoran Ahaṅkāra Jñāna. Apabila pikiran itu bersih dan suci, tidak dihinggapi kekacauan, tidak dibelenggu oleh hawa nafsu serta berbagai kecemaran, melainkan dipenuhi Sāttvika Vidyā (pengetahuan yang suci), itulah sesungguhnya hakikat kedamaian…

  • Adveṣṭā Sarva Bhūtānām

    Mutiara Weda Yogyakarta, 17/05/2026 Umat se-dharma, jika disadari, sesungguhnya segala bentuk pemujaan ataupun tapa hanyalah untuk mengendalikan pikiran. Pikiran merupakan penyebab keterikatan ataupun kebebasan. Demikian pula, pikiran adalah rajanya nafsu (rājendriya). Oleh sebab itu, setiap manusia hendaknya mengarahkan pikirannya agar tetap tenang dan terkendali (nirodha), sehingga dapat terpusat kepada-Nya melalui dhyāna. Orang yang disayang Tuhan…

  • Kṛtakṛtya – Ātmarati

    Mutiara WedaYogyakarta, 26/04/2026 Umat sedharma, dalam susastra disebutkan bahwa untuk mencapai kehidupan yang sempurna (kṛtakṛtya) dengan limpahan kebahagiaan (ātmarati), tidak dapat dilepaskan dari penerapan nilai-nilai ajaran dharma. Mengamalkan dan mengaplikasikan ajaran dharma dalam diri sebagai jalan menuju Sang Maha Pencipta disebut dharma sādhana. Hal ini juga dikenal sebagai catur dharma sādhana (empat jalan pengamalan dharma)…