Beragama Jangan Lepas dari Ageman

Mutiara Weda
05/01/2026

Umat se-dharma,
faktor yang sangat penting dan menjadi benih atau cikal bakal dalam penguatan kehidupan beragama bagi umat Hindu sesungguhnya adalah agem-ageman (pegangan/keyakinan) dalam bentuk śraddhā (iman/keyakinan). Apabila keyakinan melemah—muncul kebingungan bahkan keraguan terhadap agama—dapat dipastikan rapuhnya pondasi beragama yang berdampak pula pada lemahnya pemahaman inti sari ajaran agama.

Pemahaman ajaran agama secara benar merupakan suatu keharusan yang bersifat mutlak. Hal ini diwujudkan melalui penghayatan tattva-tattva agama (filsafat/kebenaran hakiki), ethika agama (susila/moral), serta upakāra agama (ritual/upacara), dengan berpegang teguh pada sumber-sumber Dharma (kebenaran). Keseluruhannya terangkum dalam Tri Kerangka Dasar ajaran Hindu, yang menjadi roh atau jiwa ajaran Hindu Dharma dan wajib dilaksanakan secara sinergis melalui Tri Jñāna Sandhi (tiga kesatuan pengetahuan rohani) oleh umat Hindu.

Oleh karena itu, marilah kita sebagai umat Hindu memegang teguh agem-ageman dalam beragama dengan mempelajari kembali pustaka suci Weda secara benar, utuh, dan sempurna—baik melalui Weda Śruti (wahyu yang didengar langsung) maupun Weda Smṛti (wahyu yang diingat dan diturunkan). Pembelajaran Weda hendaknya dilakukan secara bertahap, berjenjang, dan komprehensif. Tidak dibenarkan mempelajari Weda melalui jalan pintas dengan dalih praktis, simpel, mudah, atau sejenisnya, karena hal tersebut cenderung menyesatkan.

Niscaya, dengan demikian umat Hindu akan ajeg (kokoh) dalam Dharmanya, kuat śraddhā-nya, serta mantap dalam ajarannya yang bersifat Sanātana Dharma (kebenaran abadi), sehingga terwujud umat Hindu yang bahagia, baik secara sekala (lahiriah) maupun niṣkala (batiniah), menuju jagadhita (kesejahteraan duniawi) dan kamokṣa (kebebasan rohani).
(Kitab Swastika Rāṇa dan Weda Sabda Suci Tuhan)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Saṅgraha Nusantara
Daerah Istimewa Yogyakarta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Bangun Keseimbangan di Dalam Diri

    Mutiara WedaJogjakarta, 07/05/2026 Umat Sedharma, pemusatan dan pengendalian pikiran dari pengaruh indria atau hawa nafsu, yaitu Citta Vṛtti Nirodha, menjadi faktor penting dalam menjalankan proses kehidupan di dunia ini, di alam saṁsāra ini. Orang yang dapat mengendalikan dirinya dari pengaruh-pengaruh indria atau hawa nafsunya bagaikan seekor penyu yang sedang menarik seluruh anggota badannya ke dalam cangkangnya. Orang yang…

  • Berkesadaran Perilaku Bijak

    Mutiara Weda 14/10/2025 Umat Sedharma,orang yang memiliki kualitas kerohanian samyag-jñāna dan memahami berbagai pengetahuan suci, vruh ring sarva-jñāna, tidak akan pernah menghiraukan niat-niat jahat serta berbagai tipu muslihat dari mereka yang berhati gelap. Jika direnungkan, sesungguhnya sumber kejahatan itu terletak pada hati nurani manusia — ri hati ya tonggwanya, tan madoh ri awak (akar kejahatan…

  • Filosofi Dharmādharmā

    Oleh I Ketut Subagiasta Diuraikan bahwa filosofi dharmādharmā berarti ajaran tentang kebenaran dan ketidakbenaran. Marilah kita memahami ajaran luhur dalam pustaka suci Mānava Dharmaśāstra I.26 berikut: “karmaṇāṃ ca vivekārthaṃ dharmādharmau vyavecayat, dvandvair ayojayac cemāḥ sukha-duḥkhādibhiḥ prajāḥ.” Terjemahan: “Lagi pula, untuk membedakan tingkah laku ciptaan-Nya, Ia membedakan tujuan antara dharma dan adharma, serta menjadikan makhluk mengalami…

  • Perkuat Nurani dengan Nilai Dharma

    Mutiara Weda11/11/2025 Umat se-dharma, dalam susaastra tersurat: hendaknya ia mengatakan apa yang benar dan mengucapkan apa yang menyenangkan hati orang. Perkuatlah nurani dengan memperkuat nilai-nilai kebenaran (satyam). Demikian pula, jangan sekali-kali mengucapkan kebenaran semu yang menyakitkan, dan jangan pula mengucapkan kebohongan yang menyenangkan. Oleh karena itu, marilah sebagai umat Hindu kita perkokoh dan pertebal hati…

  • Karma & Hukum Yadnya

    Mutiara WedaYogyakarta, 13/08/2026 Umat Sedharma, hakikat hidup menjelma menjadi manusia sesungguhnya adalah untuk bekerja. Bekerja merupakan suatu kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap umat Hindu. Tidak sekejap pun manusia dapat hidup tanpa bekerja. Melaksanakan tugas, kewajiban, dan tanggung jawab sendiri (Svadharma), walaupun belum sempurna, lebih mulia daripada melaksanakan tugas orang lain. Melaksanakan tugas dan kewajiban…