Filosofi Muniprasna

Palangka Raya, 22.9.2025

Oleh I Ketut Subagiasta

Om Swastyastu

Disajikan sebuah topik Filosofi Munipraśna, artinya pertanyaan para orang bijaksana. Mari dipahami makna ajaran luhur pada pustaka suci Śiva Purāṇa 1.1.39 yang dikutip sebagai berikut:

“इति श्रीशैवेमहापुराणे विद्येश्वरसंहितायां मुनिप्रश्नवर्णनो नाम प्रथमोऽध्यायः ॥ १ ॥
iti śrīśaivemahāpurāṇe vidyeśvarasaṁhitāyāṁ munipraśnavarṇano nāma prathamo’dhyāyaḥ || 1 ||

Terjemahan:
Inilah Śiva Mahāpurāṇa, Bab pertama Vidyeśvara Saṁhitā tentang pertanyaan para orang bijak.”

Ada makna luhur Filosofi Munipraśna, yakni pertanyaan para orang bijaksana. Satu pertanyaan era kini, musim hujan, dikaji secara ekoteologi. Pertanyaannya adalah kim vṛṣṭim janayati? (apa penyebab hujan?). Para orang bijak atau muni menyampaikan jawaban. Sajian kutipan tersebut menunjukkan bahwa prasna artinya pertanyaan.

Era belakangan fenomena jagat, di mana-mana turun hujan. Beragam pertanyaan muncul di tengah masyarakat. Jawaban bijaksana, antara lain diuraikan berikut ini:

1) Varṣārutuh artinya musim hujan. Maknanya, saat musim hujan yang datang setiap tahun sekali menggantikan musim kemarau. Antara dua musim, umat manusia wajib waspada (sacet [berhati-hati]). Saat musim kemarau, terjadi bencana kebakaran yang menyebabkan langit kabut gelap (kṛṣṇa nūharaḥ [asap hitam]). Saat musim hujan tiba, terjadi bencana banjir bandang (jvālamukhi jalaplavanam [letusan banjir besar]).

Kedua jenis bencana alam ini di Indonesia mesti terjadi setiap tahun. Siapapun wajib paham, waspada, tanggap, dan peka. Siap-siap menghadapi dua musim tersebut antara April–Oktober dan Oktober–April. Tata surya bulan sistem lunar-solar dalam jyotiṣa ada terjadi nampih sasih (pergeseran bulan/penanggalan), bisa lebih awal atau lebih lambat.

Fenomena realita bahwa banjir bandang bulan September sudah menimpa jagat raya. Maka umat manusia mesti lebih awal memberi atensi dan antisipasi dampak musim hujan sebagai solusi positif bersama, antara lain:
a) Gorong-gorong direnovasi supaya tidak tersumbat.
b) Sungai yang mengalami pendangkalan segera dikeruk.
c) Warga diberi edukasi untuk tidak membuang sampah ke got, kali, atau sungai.
d) Pihak berkompeten harus tekun mengelola sampah ke TPA.
e) Setiap TPA disiapkan mesin daur ulang sampah untuk menghasilkan barang bermanfaat.
f) Daerah kota yang ada DAS (daerah aliran sungai), wajib menata sungai dengan cara bibir sungai (nadī [sungai]), lintasan jembatan, atau setu (jembatan) dibuat lebih tinggi agar tidak tersumbat saat musim hujan.
Dan seterusnya untuk solusi antisipasi musim hujan.

2) Ekatra Jāgarukāḥ artinya sadar bersama. Maknanya, warga masyarakat dan pihak guru wiśeṣa (pemerintah) wajib sadar bersama. Tidak perlu saling menyalahkan. Tidak perlu masalah sampah hanya diperdebatkan. Sampah harus ditangani dengan aksi nyata.

Setiap negara di dunia memiliki masalah sampah (garbage problem). Yang utama adalah cara bijak untuk mengelolanya. Sampah tidak boleh berserakan di tempat umum. Saat hujan deras, jangan sampai sungai yang dangkal tidak mampu menampung debit air besar. Menjaga kebersihan lingkungan adalah solusi terbaik, yang lahir dari sinergi kesadaran bersama, agar daerah bebas dari banjir bandang.

Intinya, Filosofi Munipraśna (pertanyaan orang bijak) menemukan jawabannya: banjir bandang dalam konteks ekoteologi dapat diantisipasi dengan memahami bahwa musim hujan selalu datang rutin setiap tahun. Maka setiap warga dan guru wiśeṣa wajib sadar bersama, lebih dini mengantisipasi risiko banjir bandang yang berdampak korban jiwa dan materi.

Pahami Filosofi Munipraśna sesuai sajian sederhana ini, agar bisa dipahami dan selanjutnya diimplementasikan untuk tata kelola sampah. Hujan adalah anugerah Bhatāra Śiva atau Brahman (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Pertanyaan bijak wajib dijawab dengan tindakan bijak. Jangan saling menyalahkan dalam mengatasi masalah sampah di jagat raya.

Semoga semua umat manusia rahayu. Svāhā. Kṣamā ca Kṣami.

Om Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Om.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Bangun Jiwa yang Indah

    Mutiara WedaYogyakarta, 27/06/2025 Bangun Jiwa yang Indah Umat Se-Dharma,Dalam susastra Hindu diungkapkan bahwa manakala umat manusia dalam hidupnya hanya memikirkan hal-hal yang bersifat duniawi, maka dapat dipastikan hanya keinginan-keinginanlah yang akan muncul. Dari keinginan inilah akan timbul nafsu-nafsu, dan dari nafsu yang tidak terkontrol dan tidak terkendali akan muncul sifat-sifat amarah (krodha). Nafsu merupakan keinginan…

  • Lepaskan Diri dari Balutan Nafsu

    Mutiara Weda Yogyakarta, 18/05/2025 Umat Se-dharma,Dalam pustaka suci ada mengungkapkan: tidak ada kekayaan yang menyamai keluhuran pengetahuan, begitu juga tidak ada musuh sejahat kemarahan (krodha), pun tidak ada kesengsaraan yang menyamai kelobaan. Demikian pula halnya, tidak ada kebahagiaan yang menyamai kemampuan diri dalam melepaskan ikatan nafsu-nafsu (tyāga). Melepaskan diri dari cengkeraman nafsu menjadi suatu keharusan…

  • Filosofi Bindu ca Nāda

    Disajikan topik Bindu ca Nāda yang artinya titik dan suara.Mari dipahami ajaran luhur pada pustaka suci Śiva Purāṇa I.16.87 yang dikutip sebagai berikut: “बिंदुनादात्मकं सर्वं जगत्स्थावरजंगमम् ।बिंदुः शक्तिः शिवो नादः शिवशक्त्यात्मकं जगत् ॥ ८७॥biṁdunādātmakaṁ sarvaṁ jagatsthāvarajaṁgamam |biṁduḥ śaktiḥ śivo nādaḥ śivaśaktyātmakaṁ jagat || 87 || Artinya:Seluruh alam semesta yang terdiri dari yang bergerak dan yang…

  • Vibhūti Mārga

    Mutiara WedaYogyakarta, 8 Juni 2026 Umat se-dharma, Panca Śraddhā dan pokok-pokok ajaran merupakan inti dasar dalam beragama Hindu. Orang yang ragu-ragu, bingung dalam menjalankan ajaran agamanya, bahkan kurang yakin terhadap śraddhā-nya, disebut Nāstika atau jadma kesasar (manusia yang tersesat). Orang Nāstika merupakan orang yang tidak menjalankan svadharma-nya dengan baik atau disebut Niṣkriya. Oleh karena itu,…

  • Filosofi Īśvaraḥ

    Disajikan topik Filosofi Īśvaraḥ, artinya Tuhan Yang Maha Esa, penguasa semua makhluk hidup. Mari dimaknai ajaran suci dalam pustaka suci Bhagavad Gītā XV-8 yang dikutip sebagai berikut: “शरीरं यदवाप्नोति यच्चाप्युत्क्रामतीश्वरः ।गृहीत्वैतानि संयाति वायुर्गन्धानिवाशयात् ॥ १५-८॥śarīraṁ yad avāpnoti yac cāpy utkrāmatīśvaraḥ,gṛhītvaitāni saṁyāti vāyur gandhān ivāśayāt. Artinya:“Bila Tuhan mengenakan suatu badan jasmani dan apabila Ia meninggalkannya, Ia…

  • Filosofi Àmbhasā

    Palangka Raya, 8.6.2025 Oleh I Ketut Subagiasta Disajikan topik Àmbhasā, artinya oleh air. Mari dimaknai ajaran luhur tentang Àmbhasā secara ekoteologi dalam pustaka suci Bhagavad Gītā V-10 yang dikutip sebagai berikut: “ब्रह्मण्याधाय कर्माणि सङ्गं त्यक्त्वा करोति यः ।लिप्यते न स पापेन पद्मपत्रमिवाम्भसा ॥ ५-१०॥brahmaṇy ādhāya karmāṇi saṅgaṁ tyaktvā karoti yaḥlipyate na sa pāpena padma-patram ivāmbhasā…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *