Kuatkan Kualitas Śraddhā

Mutiara Weda
Yogyakarta, 19/09/2025

Umat se-dharma, dalam pustaka suci disebutkan:

“Śrutis tu vedo vijñeyo dharmaśāstram tu vai smṛtiḥ
te sarvārtheṣv amīmāṁsye tābhyāṁ dharmo hi nirbabhau.”

Artinya:
Yang dimaksud dengan Śruti adalah Veda dan dengan Smṛti adalah Dharmaśāstra. Kedua pustaka suci ini tidak boleh diragukan kebenaran ajarannya, karena keduanya merupakan sumber ajaran agama Hindu.

Hindu yang membumi dalam kebhinekaan bukan berarti memiliki kitab suci yang berbeda-beda atau perbedaan tanpa dasar, bukan pula suatu kebebasan yang tanpa batas. Kebhinekaan dimaknai dengan bersumber pada Dharma: Śiṣṭācāra maupun Ātmanastuti sebagai nilai praksisnya, dengan pustaka suci Veda sebagai bingkai atau nilai dasarnya, baik Veda Śruti maupun Veda Smṛti, yang diyakini sebagai suatu kebenaran mutlak.

Demikian juga, dasar keyakinan yaitu Pañca Śraddhā serta pokok-pokok ajaran Tri Kerangka Ajaran sebagai pedoman dasar umat.

Oleh karena itu, marilah sebagai umat Hindu kita memantapkan kualitas Śraddhā dengan pemahaman yang benar terhadap pokok-pokok ajarannya, dengan menjadikan pustaka suci Veda sebagai ageman atau pedoman. Niscaya, akan terbangun umat Hindu yang damai, rukun, dan harmonis, serta ajeg dalam Dharma.
(MDS II.10)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Sanggraha Nusantara
Daerah Istimewa Yogyakarta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Filosofi Panditam Buddhah

    Disajikan topik filosofi Panditam Buddhah, yang berarti “pendeta bijaksana.” Mari dimaknai ajaran bhiksuka atau masa belajar pada tahapan bhiksuka, atau ajaran sannyasin, sebagaimana termuat dalam pustaka Bhagavad Gītā IV.19 yang dikutip sebagai berikut: “यस्य सर्वे समारम्भाः कामसङ्कल्पवर्जिताः ।ज्ञानाग्निदग्धकर्माणं तमाहुः पण्डितं बुधाः ॥ ४-१९॥yasya sarve samārambhāḥ kāma-saṅkalpa-varjitāḥjñānāgni-dagdha-karmāṇaṁ tam āhuḥ paṇḍitaṁ budhāḥ” Artinya:Ia yang bekerja dalam semua…

  • Pentingnya Menjaga Kesucian Diri

    Mutiara Weda11/02/2026 Umat se-dharma, jika dipahami bahwa belajar agama dan ajaran kedyatmikan (spiritual) bukanlah untuk menyakiti orang lain dan bukan pula untuk memerangi orang lain, melainkan sebagai pedoman dan tuntunan hidup untuk memperhalus jiwa serta memperkokoh buddhi (daya intelek/kebijaksanaan). Jika ajaran agama dan ajaran kesucian (spiritual) digunakan untuk menyakiti orang lain, apalagi hanya sekadar memamerkan…

  • Filosofi Sṛṣṭir Āditah

    Palangka Raya, 30.9.2025 Oleh I Ketut Subagiasta Disajikan tentang filosofi Sṛṣṭir Āditah (ciptaan alam ini). Mari dipahami ajaran luhung tentang ciptaan alam ini secara ekoteologi bernilai pendidikan Hindu pada pustaka suci Mānava Dharmaśāstra sloka I.78 yang dikutip sebagai berikut: jyotiṣaś ca vikurvāṇād āpo rasaguṇaḥ smṛtāḥadbhyo gandha guṇa bhūmir ityeṣā sṛṣṭir āditaḥ Terjemahan:“Demikian pula dari sinar…

  • Sevaka Dharma

    Mutiara WedaYogyakarta, 27 Juli 2026 Umat Sedharma, Dalam susastra tersurat bahwa manusia yang terlahir ke dunia tetapi mengingkari pelaksanaan Dharma, bahkan bingung terhadap agamanya, hanya mengejar kenikmatan dan kepuasan duniawi, serta dipenuhi sifat tamak, disebut Jadma Kesasar atau manusia sesat. Sesungguhnya, kesempatan menjelma menjadi manusia merupakan anugerah yang sangat utama untuk memperbaiki dan membenahi diri….