Filosofi Tumpek Wayang

Ada sumber dalam pustaka suci Siva Purana yang berisi ajaran tentang seni pada sloka 1.6.26, dikutip berikut ini:

“वीज्यमानं विशेषजैः स्त्रीजनैस्तीव्रभावनैः ।
शस्यमानं सदावेदैरनुगृह्णंतमीश्वरम् ॥ २६ ॥
vījyamānaṁ viśeṣajaiḥ strījanaistīvrabhāvanaiḥ |
śasyamānaṁ sadāvedairanugṛhṇaṁtamīśvaram || 26 ||”

Artinya:
Beliau dikipasi oleh para ahli dalam seni yang penuh perhatian. Kitab-kitab Veda memuji-muji Beliau. Tuhan memberkati setiap orang.

Maknanya adalah bahwa Hyang Siva sebagai Raja Tari atau Siva Natya Raja. Dalam pentas tari, Siva dikipasi oleh para ahli seni atau seniman-seniwati (Kalakar). Siva juga bergelar Isvara sebagai Dewa Seni.

Saat Tumpek Wayang, dipersembahkan sesajen sebagai wujud bhakti kepada Dewa Isvara yang telah menganugerahi kesenian (Kala) kepada umat manusia. Ada banyak ragam kesenian tercipta atas tuntunan Hyang Isvara, seperti:

  1. Seni Wayang atau Kathaputali Kala.
  2. Sinergi seni tabuh atau Tadan Kala, diiringi dalang dengan seni suara atau Dhvani Kala.
  3. Koleksi Wayang dengan seni ukir atau Shilpam.
  4. Pementasan Wayang menggunakan seni bangunan atau Vastu Kala, lengkap dengan layar, lampu (Dipa), dan model pementasan Sendratari atau Baile.
  5. Wayang kaya nilai seni lukis atau Chitrakala.

Tumpek Wayang melibatkan banyak seniman-seniwati atau Kalakar. Begitu lincahnya dalang menampilkan seni tari atau Natya Kala. Layak jika Tumpek Wayang dimuliakan oleh umat Hindu di dunia hingga kini.

Spirit seni ada pada Hyang Siva atau Hyang Isvara, dengan seni yang indah (Satyam, Sivam, Sundaram) dan kesenian cantik yang dilambangkan oleh Dewi Saraswati. Dalam beberapa hari lagi, seni budaya agung berupa Ganitri akan dimuliakan kembali saat umat Hindu memuja Saraswati, agar menjadi cerdas (Prajña) dan bijaksana (Sajjana). Bangga menjadi seniman dan seniwati (Kalakar) yang mampu menginspirasi banyak orang untuk berkesenian. Dalang patut diberi penghargaan atas jasanya mengembangkan Multi Art (ragam seni) secara profesional. Mari lestarikan kesenian (Kala) yang bernafaskan Hindu.

Ada tiga kata yang artinya berbeda:

  1. Kala: Artinya waktu. Contoh istilah Desa Kala Patra, yang berarti tempat, waktu, dan keadaan. Pentas Wayang biasanya dilakukan pada waktu malam agar bayangannya terlihat. Wayang itu sendiri adalah bayangan hidup. Pilihlah bayangan hidup Pandawa, dan hindari bayangan Korawa.
  2. Kala: Artinya gelap. Contoh istilah Bhuta Kala, yang menggambarkan pengaruh gelap kehidupan yang bisa membuat orang terjerumus dalam kegelapan batin.
  3. Wayang: Artinya bayangan hidup. Pentas Wayang memerlukan harmoni antara waktu, tempat, dan keadaan (Desa Kala Patra). Oleh karena itu, seni Wayang wajib mesegeh agar kekuatan gaib menjadi harmonis.

Selanjutnya, Hyang Isvara sebagai Dewa Kesenian, dikutip dari pustaka suci Bhagavad Gita sloka XVIII-61:

“ईश्वरः सर्वभूतानां हृद्देशेऽर्जुन तिष्ठति ।
भ्रामयन्सर्वभूतानि यन्त्रारूढानि मायया ॥ १८-६१॥
īśvaraḥ sarva-bhūtānāṁ hṛd-deśe ‘rjuna tiṣṭhati,
bhrāmayan sarva-bhūtāni yantrārūḍhāni māyayā.”

Artinya:
Yang Maha Kuasa berdiam di hati setiap insan, menyebabkan mereka semua berputar, wahai Arjuna, beredar dengan prinsip kekuatan maya-Nya, seolah-olah berada di atas mesin belaka.

Maknanya adalah bahwa Isvarah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Hyang Siva, Dewa Kesenian, atau Siva Natya Raja. Seni tari ini dikuasai oleh dalang yang leluasa menggerakkan Wayang. Hyang Siva juga menyucikan (nyupat) dosa manusia dengan Wayang Sapu Leger.

Mari maknai dengan tulus dan nirmala filosofi Tumpek Wayang pada dina suci Saniscara Kliwon Wuku Wayang. Maknai juga ajaran luhur dalam pustaka suci Sundarigama sebagai tuntunan umat Hindu.

Semoga bermanfaat. Rahayu. Svaha. Ksama ca Ksami.

Palangka Raya, 18.01.2025

I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Bangun Keseimbangan di Dalam Diri

    Mutiara Weda21/12/2025 Umat sedharma, pemusatan dan pengendalian pikiran dari pengaruh indria (pancaindra) atau hawa nafsu—citta-vṛtti-nirodha—menjadi faktor penting dalam menjalankan proses kehidupan di dunia ini, di alam saṁsāra. Orang yang mampu mengendalikan dirinya dari pengaruh-pengaruh indria dan hawa nafsu bagaikan seekor penyu yang menarik seluruh anggota badannya ke dalam cangkangnya. Orang yang berperilaku demikian sesungguhnya adalah…

  • Paramāṁ Gatim (BG VIII.21)

    DHARMAŚABDANĀM MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA) Oleh I KETUT SUBAGIASTA Paramāṁ Gatim (BG VIII.21) Paramāṁ Gatim adalah tujuan tertinggi. Fokuslah kepada Avyakta Akṣara atau Hyang Widhi yang kekal abadi. Sesungguhnya semua ciptaan di dunia ini tidak abadi. Fokuslah menuju tujuan tertinggi untuk mencapai Sang Hyang Niskala (Tuhan Yang Maha Esa yang tidak termanifestasi). Bagikan ke:

  • Ahaṅkāra Jñāna

    Mutiara WedaYogyakarta, 23/05/2026 Umat sedharma, jika direnungkan, manah (pikiran) sesungguhnya merupakan penyebab dari penderitaan dan kesengsaraan tatkala pikiran dicemari oleh hawa nafsu serta berbagai kekotoran Ahaṅkāra Jñāna. Apabila pikiran itu bersih dan suci, tidak dihinggapi kekacauan, tidak dibelenggu oleh hawa nafsu serta berbagai kecemaran, melainkan dipenuhi Sāttvika Vidyā (pengetahuan yang suci), itulah sesungguhnya hakikat kedamaian…

  • Bhoga-Svātantrya

    Mutiara WedaYogyakarta, 28 Mei 2026 Umat se-dharma, dalam sesanti Hindu disebutkan: “Ala ulah ala tinemu, ayu kinardi ayu pinanggih.” Benih padi yang ditanam akan menghasilkan padi, demikian pula benih jagung yang ditanam akan menghasilkan jagung. Demikianlah hakikat Hukum Karma Phala, bahwa setiap perbuatan akan melahirkan akibat yang sepadan dengan sebab yang ditimbulkannya. Manusia tidak memiliki…

  • Duratyayā (BG VII.14)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)Senin, 10 Agustus 2026Oleh I Ketut Subagiasta Duratyayā (BG VII.14) Duratyayā adalah terobosan, menerobos, atau upaya untuk menembus berbagai hambatan. Setiap manusia hendaknya memiliki semangat untuk melakukan terobosan melalui tindakan nyata, upaya inovatif, langkah kreatif, perbaikan berkelanjutan, serta usaha untuk menyelesaikan berbagai permasalahan. Dengan demikian, akan ditemukan cara terbaik dalam mengatasi…

  • Singkirkan Rasa Benci & Jauhkan Niat-Niat Jahat dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 10/02/2025 Umat se-dharma, dalam susastra ada mengungkapkan: Papma hato na somah, singkirkan niat-niat jahat yang bersemayam dalam diri dan kejarlah selalu nilai-nilai perilaku kebajikan & kemuliaan. Menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan tercela & jahat terhadap sesama merupakan suatu keharusan untuk menuju kebaikan, kemuliaan, serta terbangunnya kesucian batin. Oleh karena itu, sebagai umat…