Aksara Dewanagari dalam Membaca Sloka Weda
Gita Santi Nusantara bekerja sama dengan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan menyelenggarakan webinar “Aksara Dewanagari dalam Membaca Sloka Weda” pada Kamis, 13 Agustus 2026, secara daring melalui Zoom.
Acara menghadirkan Prof. Dr. Drs. I Made Surada, M.A., Guru Besar Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, sebagai narasumber. Webinar dipandu oleh Made Reland Udayana Tangkas sebagai moderator.
Rangkaian acara diawali dengan doa dan pembacaan mantra Atharwa Weda oleh Dharma Scipta, Koordinator Cabang Gita Santi Nusantara Gresik, Jawa Timur. Setelah itu, Ida Shri Bhagawan Dalem Acarya Maha Kerti Wira Jagad Manik, Ketua Umum Gita Santi Nusantara, menyampaikan opening speech.
Kolonel (Purn.) I Nengah Dana, Ketua Umum LPDG Pusat, hadir sebagai keynote speaker dan secara resmi membuka webinar.
Webinar membahas lebih luas daripada sekadar pengenalan bentuk aksara Dewanagari. Pembahasan mencakup hubungan antara aksara Dewanagari, bahasa Sanskerta, susastra Weda, ketepatan pelafalan, guru-laghu, chanda, teknik membaca Śloka dan mantra, hingga tradisi Dharma Gita yang berkembang di Nusantara.
Pembelajaran Weda dan Semangat Kedamaian
Webinar dibuka dengan pembacaan mantra dari Atharwa Weda yang membawa pesan mengenai bumi sebagai tempat hidup bersama di tengah keberagaman bahasa dan keyakinan. Dalam terjemahan yang disampaikan pada acara, mantra tersebut ditutup dengan harapan agar tumbuh penghargaan dan persaudaraan di antara sesama.
Dalam opening speech-nya, Ida Shri Bhagawan Dalem Acarya Maha Kerti Wira Jagad Manik menjelaskan bahwa pembelajaran seperti ini sejalan dengan semangat Gita Santi Nusantara untuk menghadirkan perdamaian dan kedamaian. Beliau juga menyinggung berbagai kegiatan yang telah dikembangkan Gita Santi Nusantara serta prinsip Satyam, Śivam, Sundaram—kebenaran, kesucian, dan keindahan—yang menjadi salah satu landasan dalam kegiatan organisasi.
Semangat tersebut kemudian dilanjutkan dalam keynote speech Kolonel (Purn.) I Nengah Dana. Beliau menekankan pentingnya menjadi pembelajar yang terbuka, rendah hati, dan bersedia belajar dari siapa pun.
Menurut beliau, pembelajaran Dewanagari sebaiknya tidak berhenti pada satu kegiatan webinar atau hanya berkembang di tingkat pusat. Kelompok-kelompok belajar perlu dikembangkan hingga ke daerah agar literasi Dewanagari dan susastra Sanskerta semakin luas. Pengetahuan tersebut diharapkan membawa manusia menuju ketenangan, kerendahan hati, rasa kasih, dan kedamaian.
Mengapa Aksara Dewanagari Penting?
Dewanagari mempunyai hubungan erat dengan bahasa Sanskerta, sementara bahasa Sanskerta digunakan dalam Weda dan berbagai susastra Weda.
Dalam konteks pembelajaran ini, mengenal Dewanagari membantu pembelajar memahami hubungan antara aksara Sanskerta dan bunyi yang diwakilinya.
Dalam materi Prof. Surada, sistem aksara Dewanagari disebut terdiri atas 48 aksara, yaitu 15 svāra atau vokal dan 33 vyañjana atau konsonan. Dewanagari berasal dari aksara Brahmi dari India Utara dan digunakan antara lain untuk menuliskan bahasa Sanskerta.
Mempelajari Dewanagari karena itu tidak berhenti pada pengenalan bentuk huruf. Hubungan antara aksara dan bunyi juga menjadi bagian penting dalam pembelajaran.
Konsonan dapat bergabung dengan tanda-tanda vokal (svaracihnāni) sehingga menghasilkan bunyi yang berbeda. Dalam materi, misalnya, diperlihatkan bagaimana satu konsonan dapat berubah menjadi pa, pā, pi, pī, pu, pū, pṛ, pe, pai, po, hingga pau melalui tanda vokal yang berbeda.
Dari Weda hingga Tradisi Nusantara
Salah satu bagian dalam pemaparan Prof. Surada membahas bagaimana Weda dan susastra Weda berhubungan dengan perkembangan tradisi Hindu di Nusantara.
Materi memetakan susastra Weda mulai dari Śruti dan Smṛti, kemudian Vedāṅga, Upaveda, Nibandha, Itihāsa, Purāṇa, hingga berbagai lontar yang berkembang di Indonesia. Dalam Vedāṅga sendiri terdapat bidang-bidang seperti Śikṣā, Vyākaraṇa, Chanda, Nirukta, Jyotiṣa, dan Kalpa.
Di Nusantara, ajaran tersebut berjumpa dengan keyakinan leluhur, tradisi, adat, dan budaya. Berbagai lontar kemudian berkembang dalam bidang tattwa, etika, yajña, puja, usada, wariga, kosala-kosali, hingga kesusastraan seperti Parwa, Kakawin, Kidung, dan Geguritan.
Dalam konteks inilah Dharma Gita ditempatkan sebagai media dan metode belajar sekaligus sarana penyebaran ajaran Hindu di Indonesia.
Prof. Surada juga mengangkat kutipan dari Wirata Parwa mengenai upaya mengalihbahasakan dan mengolah ajaran serta pemikiran Bhagavān Vyāsa ke dalam bahasa Jawa Kuno agar dapat dipahami dan diwariskan secara turun-temurun.
Pemaparan ini menunjukkan adanya hubungan antara sumber-sumber Weda dan Sanskerta dengan perkembangan susastra serta tradisi keagamaan Hindu di Nusantara.
Belajar Membaca Sekaligus Belajar Mendengar Bunyi
Ketelitian pelafalan mendapat perhatian cukup besar dalam webinar.
Bahasa Sanskerta mempunyai pembedaan bunyi yang tidak semuanya terdapat dalam bahasa Indonesia. Karena itu, tulisan yang terlihat hampir sama dalam transliterasi belum tentu diucapkan dengan cara yang sama.
Dalam bahan presentasi diberikan beberapa pedoman praktis, antara lain ṅa (ङ) dibaca “nga”, ña (ञ) dibaca “nya”, śa (श) dibaca “sya”, ṣa (ष) dibaca “sha”, kṣa (क्ष) dibaca “ksya”, dan va (व) dibaca “wa”.
Konsonan mahāprāṇa seperti kha, gha, cha, jha, tha, dha, pha, dan bha dilafalkan dengan hembusan napas.
Prof. Surada juga menjelaskan anusvāra dan visarga, serta pengelompokan konsonan berdasarkan varga. Pengelompokan tersebut digunakan untuk memahami berbagai perubahan bunyi yang terjadi dalam bahasa Sanskerta.
Panjang dan pendeknya vokal juga perlu diperhatikan. Dalam pembacaan Śloka, perbedaan tersebut berhubungan dengan guru-laghu dan pada akhirnya menentukan pola metrum.
Cara Sederhana untuk Mulai Belajar Dewanagari
Dalam penjelasannya, Prof. Surada memberikan pendekatan yang cukup praktis bagi orang yang baru mulai belajar.
Pembelajar tidak harus langsung berhadapan dengan teks Sanskerta yang rumit. Pada tahap awal, Dewanagari dapat dilatih menggunakan kata atau istilah yang sudah familiar.
Bahan presentasi, misalnya, menggunakan kata-kata seperti Rāmāyaṇa, Mahābhārata, Sutasoma, Arjuna Vivāha, Sarasvatī, serta nama-nama yang akrab di Indonesia untuk latihan membaca dan menulis Dewanagari.
Dengan cara tersebut, proses belajar dapat dilakukan secara bertahap:
mengenali aksara → memahami tanda vokal → berlatih kombinasi huruf → membaca kata yang familiar → masuk ke teks Sanskerta
Pendekatan ini memungkinkan pembelajar mengenali sistem aksara terlebih dahulu sebelum masuk lebih jauh ke tata bahasa dan teks Sanskerta.
Mantra dan Śloka Tidak Selalu Sama
Salah satu koreksi terminologi yang ditekankan Prof. Surada dalam webinar adalah penggunaan istilah mantra dan Śloka.
Beliau menjelaskan bahwa teks dalam Catur Weda Saṁhitā disebut mantra. Mantra dapat mempunyai bentuk syair dan metrum, tetapi hal itu tidak berarti setiap bait dalam Weda Saṁhitā sebaiknya disebut Śloka.
Sementara istilah Śloka digunakan dalam konteks susastra lainnya, termasuk teks-teks seperti Bhagavad Gītā.
Perbedaan istilah ini penting untuk memahami jenis dan kedudukan teks yang sedang dibaca.
Śloka dan Struktur Pembacaannya
Dalam materi, Śloka dijelaskan sebagai bait, syair, himna, serta pujaan atau pujian kepada Tuhan dan manifestasi-Nya. Śloka memiliki metrum atau chanda, guru-laghu, serta vṛtta-mātrā.
Dengan struktur tersebut, pembacaan Śloka mengikuti pola metrum dan irama tertentu.
Dalam tradisi pembacaan yang dijelaskan pada webinar, rangkaian Śloka terdiri dari:
pengawit → pengenter → pengumbang → pemada
Keempatnya merupakan jalinan irama yang saling bertautan atau nganti suara.
Karakter suara Śloka juga dibedakan dari bentuk Dharma Gita lainnya. Materi menyebut Śloka menggunakan suara angkus prana dan irama Śruti, sementara Geguritan, Kidung, Palawakya, dan Kakawin memiliki karakter pembacaannya masing-masing.
Guru-Laghu dan Struktur Sebuah Śloka
Untuk memahami irama Śloka, salah satu dasar yang perlu diketahui adalah guru dan laghu.
Secara sederhana, guru adalah suku kata yang mempunyai bobot panjang atau berat, sementara laghu merupakan suku kata pendek atau ringan.
Dalam materi yang merujuk pada Veda Prātiśākhya, beberapa keadaan yang menjadikan sebuah suku kata guru antara lain mengandung anusvāra atau visarga, menggunakan vokal panjang seperti ā, ī, ū, ṝ, menggunakan vokal ganda e, ai, o, au, atau vokal pendek yang diikuti gugus konsonan. Suku kata pada akhir baris dalam kondisi tertentu juga dapat dibaca guru.
Sementara vokal tunggal atau pendek seperti a, i, u, ṛ, dan ḷ menjadi dasar kategori laghu.
Dua istilah lain yang berkaitan adalah vṛtta dan mātrā. Vṛtta menunjukkan jumlah suku kata dalam setiap baris, sedangkan mātrā berkaitan dengan komposisi tata letak suara guru dan laghu.
Mengenal Chanda
Chanda adalah ilmu yang mempelajari irama atau metrum dalam susunan sastra Weda.
Dalam webinar diperkenalkan tujuh chanda utama:
Gāyatrī, Uṣṇiḥ, Anuṣṭubh, Bṛhatī, Paṅkti, Triṣṭubh, dan Jagatī.
Masing-masing memiliki susunan dan jumlah suku kata tertentu. Karena itu, pola pembacaan suatu mantra atau Śloka berkaitan dengan chanda yang digunakan.
Materi kemudian memberikan sejumlah contoh langsung dari Ṛgveda.
Salah satunya adalah Ṛgveda I.23.22 dengan chanda Anuṣṭubh. Dalam terjemahan yang diberikan, mantra tersebut berisi permohonan kepada Dewa Air agar dosa, kejahatan, kebohongan, dan ingkar janji dijauhkan dari diri manusia.
Contoh Triṣṭubh antara lain Ṛgveda 1.164.46, yang menyampaikan bahwa Yang Satu disebut dengan berbagai nama oleh para bijak—Indra, Mitra, Varuṇa, Agni, Yama, dan Mātariśvan.
Sementara Ṛgveda I.1.1, yang dimulai dengan agnimīḷe purohitaṁ, diberikan sebagai contoh Gāyatrī. Mantra tersebut merupakan pujian kepada Agni sebagai pandita utama dan penyelenggara yajña.
Contoh-contoh lain dalam materi mencakup Uṣṇiḥ, Jagatī, Bṛhatī, dan Paṅkti. Pembaca yang ingin melihat teks Dewanagari, transliterasi, sumber, serta contoh masing-masing chanda dapat mempelajarinya lebih lanjut melalui materi webinar yang tersedia untuk diunduh di bagian akhir artikel.
Dari Chanda Weda ke Tradisi Dharma Gita Nusantara
Webinar juga menunjukkan bahwa pembelajaran Śloka dan chanda dibahas dalam kaitannya dengan tradisi Dharma Gita yang berkembang di Nusantara.
Dalam materi dijelaskan hubungan antara chanda dalam Śloka dan mantra Weda dengan perkembangan wirama Kakawin di Nusantara.
Dalam praktik Dharma Gita di Indonesia, berbagai bentuk sastra mempunyai karakter suara yang berbeda. Sekar Alit seperti Geguritan memiliki karakter tersendiri; Sekar Madya seperti Kidung menggunakan karakter yang berbeda; sementara Sekar Agung seperti Palawakya dan Kakawin juga mempunyai cara pembacaannya sendiri. Śloka menggunakan suara angkus prana dengan irama Śruti.
Dalam materi tersebut, pembahasan chanda Weda kemudian dihubungkan dengan wirama Kakawin serta berbagai bentuk Dharma Gita yang berkembang di Nusantara.
Benang Merah Pembahasan
Dari berbagai materi yang dibahas sepanjang webinar, terlihat keterkaitan antara aksara, bunyi, bahasa, metrum, dan pemahaman teks.
Aksara Dewanagari digunakan untuk menuliskan bahasa Sanskerta; panjang-pendek vokal berkaitan dengan guru-laghu; sementara susunan suku kata membentuk chanda atau metrum.
Secara ringkas, keterkaitan pembahasan tersebut dapat digambarkan sebagai:
aksara → bunyi → bahasa → metrum → makna → pemahaman teks
Webinar juga memperlihatkan hubungan pembahasan Weda dan Sanskerta dengan lontar, Kakawin, Palawakya, serta tradisi Dharma Gita yang berkembang di Nusantara.
Sesi Tanya Jawab: dari Pelafalan Mantra hingga Bahasa Sanskerta Sehari-hari
Sesi diskusi menjadi salah satu bagian menarik dari webinar karena pertanyaan peserta membawa materi yang cukup teknis ke persoalan yang ditemui dalam praktik sehari-hari.
Peserta webinar tidak hanya berasal dari Bali. Dalam sesi diskusi disebutkan bahwa hadir pula pembina dan pengurus pasraman dari berbagai daerah di luar Bali, termasuk Medan, Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Sorong.
Bagaimana jika mantra yang biasa diucapkan berbeda dengan kaidah bahasanya?
Salah satu pembahasan menyentuh bentuk mantra atau puja yang sudah lama diucapkan dalam masyarakat tetapi, ketika dilihat dari tata bahasa Sanskerta, terdapat perbedaan bentuk.
Prof. Surada menjelaskannya dari sisi tata bahasa. Akhiran dalam bahasa Sanskerta memiliki fungsi tertentu sehingga perubahan bentuk dapat memengaruhi hubungan antarkata dan maknanya.
Dalam jawabannya, Prof. Surada menekankan pentingnya mengetahui teks, struktur bahasa, dan arti mantra yang dipelajari.
Bagaimana jika mantra selama ini sudah terlanjur salah diucapkan?
Pertanyaan lain menyentuh persoalan yang cukup sensitif: bagaimana jika suatu pelafalan telah digunakan selama bertahun-tahun atau bahkan diwariskan dari generasi sebelumnya?
Prof. Surada menekankan pentingnya pembinaan dan pembelajaran. Mengubah kebiasaan memang tidak selalu mudah. Namun ketika sumber bacaan, pendidikan, dan akses terhadap pengetahuan semakin tersedia, generasi sekarang mempunyai kesempatan untuk mempelajari kembali teks dengan lebih teliti.
Dalam penjelasannya, beliau menggunakan analogi dari Nirukta: memiliki banyak bahan bakar tidak banyak berarti jika api tidak dinyalakan. Demikian pula menghafalkan banyak mantra tanpa memahami maknanya belum tentu membuat seseorang memahami apa yang sedang dibaca.
Beliau juga menjelaskan bahwa perubahan satu bunyi dalam bahasa Sanskerta dapat menghasilkan bentuk atau makna yang berbeda.
Bagaimana membaca kutipan Śloka yang hanya satu atau dua baris?
Pertanyaan lain muncul mengenai teks Sanskerta yang berada di tengah Palawakya tetapi hanya berupa satu atau dua baris.
Prof. Surada menjelaskan bahwa kutipan Sanskerta dalam teks dapat berupa satu bait penuh, sebagian bait, bahkan hanya satu baris. Untuk satu baris, dalam praktik pembacaan yang dijelaskan beliau dapat digunakan irama penutup.
Dalam konteks Utsawa Dharma Gita, bagian Sanskerta yang muncul dalam Palawakya tetap mendapatkan karakter pembacaan Śloka, bukan sekadar dibaca sebagai prosa.
Prof. Surada juga menjelaskan bahwa keberadaan kutipan-kutipan Sanskerta dalam karya tersebut menunjukkan penggunaan sumber Sanskerta oleh para pengarang.
Bolehkah bahasa Sanskerta digunakan untuk percakapan?
Jawabannya: boleh.
Prof. Surada menyebut adanya tempat-tempat pembelajaran yang menggunakan Sanskerta dalam komunikasi. Namun beliau mengingatkan agar pembentukan kalimat tetap mengikuti kaidah bahasa, bukan sekadar menggabungkan kata-kata Sanskerta karena terdengar cocok.
Bagaimana sistem penomoran dalam kitab Weda?
Diskusi juga menyinggung istilah seperti maṇḍala, kāṇḍa, anuvāka, sūkta, dan mantra.
Prof. Surada mengingatkan bahwa sistem pembagian teks tidak selalu sama pada setiap Weda. Karena itu, format penyebutan sumber tidak sebaiknya disamaratakan. Istilah maṇḍala, misalnya, berkaitan dengan struktur Ṛgveda.
Memahami mantra melalui teks dan maknanya
Ada pula pertanyaan mengenai makna mantra yang digunakan pada bagian tertentu dalam persembahyangan dan bagaimana masyarakat terkadang memberikan arti berdasarkan pemahaman yang diwariskan secara lisan.
Dalam menjawab pertanyaan tersebut, Prof. Surada membahas teks mantra dengan melihat bentuk kata dan maknanya sebelum menjelaskan interpretasinya.
Merawat Warisan Seperti Merawat Bonsai
Menjelang akhir pembahasan, Prof. Surada menggunakan perumpamaan yang sederhana tetapi kuat: warisan leluhur seperti bonsai.
Bonsai tidak cukup hanya dipamerkan dan dibanggakan. Ia perlu disiram, diberi pupuk, dan dirawat. Jika ada bagian yang tidak tumbuh dengan baik, bagian tersebut perlu diperhatikan dan diperbaiki.
Begitu pula dengan warisan pengetahuan.
Prof. Surada menjelaskan bahwa warisan yang telah diterima perlu terus dirawat. Ilmu dan teori dapat menjadi “pupuk” untuk membantu warisan tersebut tetap hidup dan berkembang serta dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Penutup
Webinar “Aksara Dewanagari dalam Membaca Sloka Weda” memperlihatkan bahwa belajar Dewanagari jauh lebih luas daripada mempelajari sebuah sistem tulisan.
Dari aksara, pembelajaran bergerak menuju bunyi, bahasa, chanda, hingga makna. Semua bagian tersebut saling berkaitan dalam memahami dan membaca teks dengan lebih baik.
Dalam materi penutup, Śloka ditempatkan sebagai pujaan dan pencurahan bhakti kepada Tuhan dan manifestasi-Nya. Pembacaan ayat-ayat Weda diharapkan dapat menuntun kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan dalam semangat Satyam, Śivam, Sundaram.
Pembahasan kemudian ditutup dengan pentingnya memahami dan merawat warisan pengetahuan agar dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Materi Webinar
Bagi pembaca yang ingin mempelajari lebih lanjut aksara Dewanagari, pengucapan vokal dan konsonan, aturan guru-laghu, jenis-jenis chanda, serta contoh Śloka dalam aksara Dewanagari beserta transliterasinya, materi presentasi “Aksara Dewanāgarī dalam Membaca Śloka Mantra Weda” oleh Prof. Dr. Drs. I Made Surada, M.A. dapat diunduh melalui tautan di bawah ini.
Rekaman Webinar
Pembahasan selengkapnya dapat disaksikan melalui rekaman webinar Gita Santi Nusantara di YouTube.
GITA SANTIHNUSANTARA