Adveṣṭā Sarva Bhūtānām

Mutiara Weda

Yogyakarta, 17/05/2026

Umat se-dharma, jika disadari, sesungguhnya segala bentuk pemujaan ataupun tapa hanyalah untuk mengendalikan pikiran. Pikiran merupakan penyebab keterikatan ataupun kebebasan. Demikian pula, pikiran adalah rajanya nafsu (rājendriya). Oleh sebab itu, setiap manusia hendaknya mengarahkan pikirannya agar tetap tenang dan terkendali (nirodha), sehingga dapat terpusat kepada-Nya melalui dhyāna.

Orang yang disayang Tuhan sesungguhnya adalah orang yang tidak membenci siapa pun (adveṣṭā sarva bhūtānām). Jangan melihat yang jahat, lihatlah yang baik. Jangan mendengar yang jahat-jahat, dengarlah yang baik-baik. Jangan membicarakan yang jahat, berbicaralah dengan baik. Jangan memikirkan yang jahat, pikirkanlah hanya yang baik. Jangan melakukan yang jahat, lakukanlah yang baik. Semua itu merupakan jalan menuju-Nya.

Oleh karena itu, sebagai umat Hindu sudah menjadi kewajiban untuk selalu mengendalikan dan menjaga kesucian pikiran. Pikiran menjadi penyebab adanya perbedaan dalam perbuatan atau berkarma. Pikiran merupakan unsur utama yang menentukan perkataan dan perbuatan, sebagaimana disebutkan dalam ajaran Karmaṇa paścāt pradhānam vai manas tataḥ. Niscaya, pikiran akan selalu terkendali, melahirkan perbuatan baik, serta senantiasa berada dalam lindungan Ida Saṅ Hyang Widhi Wasa melalui sat saṅgha. (SS 79–87 & BG XII.13.1)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Membangun Kualitas Rohani

    Mutiara WedaYogyakarta, 22/05/2026 Umat sedharma, dalam susastra diungkapkan: “Agne tapas tapyāmahe,upa tapyāmahe tapaḥ.” Kesadaran dan kemampuan untuk mengekang serta mengendalikan seluruh indriya (indra) menjadi kata kunci guna memperoleh pengetahuan rohani. Membangun kualitas rohani dengan menampakkan sifat-sifat kedewataan Daivī Sampad serta menghapus niat jahat dan niat buruk Āsurī Sampad menjadi suatu keharusan. Oleh karena itu, sudah…

  • Suluh Kehidupan

    Mutiara WedaYogyakarta, 18 Juli 2025 Umat Se-Dharma, Jika dilihat dalam pustaka suci Weda, tersurat bahwa tidak ada sahabat yang lebih tinggi daripada pengetahuan, dan tidak ada musuh yang lebih berbahaya daripada nafsu jahat. Demikian pula, tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatan nasib, karena nasib tidak tertahankan oleh siapa pun. Melakukan perbuatan baik (śubha karma) serta…

  • Filosofi Candramasi

    Disajikan uraian dengan topik Filosofi Candramasi, artinya yang ada dalam bulan. Mari dipahami dengan bijak ajaran luhur pada pustaka suci Bhagavad Gītā – XV-12 yang dikutip sebagai berikut: “यदादित्यगतं तेजो जगद्भासयतेऽखिलम् । यच्चन्द्रमसि यच्चाग्नौ तत्तेजो विद्धि मामकम् ॥ १५-१२॥ yad āditya-gataṁ tejo jagad bhāsayate ‘khilam, yac candramasi yac cāgnau tat tejo viddhi māmakam. Artinya: Cahaya,…

  • Medharmasanti

    Mutiara Weda21/03/2026 Umat sedharma, dalam pustaka suci Weda diungkapkan: “Wahai umat manusia, berhimpunlah, duduklah bersama-sama, berpikirlah bersama, dan rumuskan sesuatu untuk tujuan bersama.” Ajaran ini mengingatkan kita sebagai umat sedharma untuk selalu bersinergi dan bersatu guna mencapai tujuan bersama.Sahṛdayaṃ saṃmanasyam avidveṣaṃ kṛṇomi vaḥ. Ida Sang Hyang Widhi Wasa menganugerahkan sifat ketulusan, kesamaan batin, serta perasaan…

  • Filosofi Prahrṣṭayā Bhāvyaṁ

    Disajikan sebuah topik Prahrṣṭayā Bhāvyaṁ yang berarti “istri berwajah cerah”. Mari dimaknai ajaran luhur bagi keluarga dalam pustaka suci Mānava Dharmaśāstra sloka V.150 yang dikutip sebagai berikut: “सदा प्रहृष्टया भाव्यं गृह कार्येषु दक्षयासुसंस्कृतो पस्करया व्यये चामुक्त हस्तयाsadā prahṛṣṭayā bhāvyaṁ gṛha kāryeṣu dakṣayāsusaṁskṛto paskarayā vyaye cāmukta hastayā“ Artinya:“Ia hendaknya selalu berwajah cerah, pandai dalam mengatur urusan…