Sukha-duḥkha (Bhagavadgītā XV.5)

DHARMAŚABDĀNĀṂ MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA)
4 Juli 2026

Oleh: I Ketut Subagiasta

Sukha-duḥkha (Bhagavadgītā XV.5)

Sukha-duḥkha adalah senang dan susah, yaitu dualisme pasangan yang saling berlawanan. Saat senang, ingatlah nirmāna-mohaḥ, yaitu tanpa kecongkakan dan kebingungan. Tetaplah tenang atau praśāntaḥ, tetap damai atau śāntiḥ, dan tetap sabar atau kṣāntiḥ.

Saat duḥkha, ingatlah jita-saṅga-doṣāḥ, yaitu mengalahkan jahatnya keterikatan. Saat duḥkha, taklukkan kāma-dveṣa, yaitu keinginan dan kebencian. Na adveṣa, yaitu jangan dendam. Vimukta-duḥkhāḥ, yaitu bebaskan diri dari kesusahan. Na bahu duḥkha, yaitu jangan bersedih secara mendalam.

Hidup diuji dengan sukha-duḥkha, yaitu senang dan susah, oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Lulus dari sukha-duḥkha akan memiliki jalan menuju tujuan abadi atau Padam Avyayam. Ada tertawa, ada pula menangis. Raihlah śāntaḥ sekala dan niṣkala, yaitu damai lahir dan batin.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Membangun Kedamaian dalam Diri

    Mutiara Weda Yogyakarta, 3 Juni 2026 Umat Se-dharma, orang-orang bijak mengatakan bahwa pada zaman Kaliyuga, musuh yang paling utama bukanlah orang lain, melainkan diri sendiri akibat ketidakmampuan menyinergikan unsur Tri Guṇa, yaitu sattva, rajas, dan tamas dalam diri. Kesabaran, kedamaian, serta ketabahan (kṣamā) merupakan sifat bijak dan mulia yang harus tertanam serta terjaga pada diri…

  • Himsa Karma yang Diperbolehkan

    Mutiara WedaYogyakarta, 12/12/2025 Umat sedharma, dalam susastra suci agama Hindu diajarkan bahwa ahiṁsā berarti tidak menyakiti dan tidak membunuh makhluk hidup secara sewenang-wenang. Tindakan menyakiti atau membunuh tanpa alasan yang benar tidak dibenarkan dalam ajaran Hindu. Namun demikian, melakukan hiṁsā karma—perbuatan membunuh dengan tujuan tertentu—diperbolehkan sebagai kewajiban suci apabila dilandasi niat kesucian dan dilaksanakan sesuai…

  • Bangun Keseimbangan di Dalam Diri

    Mutiara Weda21/12/2025 Umat sedharma, pemusatan dan pengendalian pikiran dari pengaruh indria (pancaindra) atau hawa nafsu—citta-vṛtti-nirodha—menjadi faktor penting dalam menjalankan proses kehidupan di dunia ini, di alam saṁsāra. Orang yang mampu mengendalikan dirinya dari pengaruh-pengaruh indria dan hawa nafsu bagaikan seekor penyu yang menarik seluruh anggota badannya ke dalam cangkangnya. Orang yang berperilaku demikian sesungguhnya adalah…

  • Hidup Bagaikan Roda Pedati

    Mutiara WedaYogyakarta, 17/04/2026 Umat sedharma, dalam pustaka suci disebutkan: sukhasyānantaraṃ duḥkham, duḥkhasyānantaraṃ sukham — setelah kebahagiaan datang penderitaan, dan setelah penderitaan datang kebahagiaan. Ajaran ini menunjukkan bahwa ada kekuatan yang lebih tinggi yang mengatur kehidupan, yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Tatkala manusia berbuat baik, ia akan dianugerahi kedudukan yang mulia. Sebaliknya, jika berbuat jahat,…

  • Kṛtakṛtya–Ātmarati

    Mutiara WedaYogyakarta, 13/11/2025 Umat sedharma, dalam susastra diungkapkan bahwa untuk mewujudkan kehidupan yang sempurna (kṛtakṛtya) dengan limpahan kesenangan dan kebahagiaan (ātmarati), seseorang tidak dapat terlepas dari kualitas penerapan nilai-nilai ajaran Dharma. Mengamalkan dan mengaplikasikan ajaran Dharma pada diri sendiri untuk menuju Sang Maha Pencipta disebut Dharma Sādhana, yang menjadi inti sari dalam menjalankan svadharma-niṅ agama…

  • Filosofi Bindu ca Nāda

    Disajikan topik Bindu ca Nāda yang artinya titik dan suara.Mari dipahami ajaran luhur pada pustaka suci Śiva Purāṇa I.16.87 yang dikutip sebagai berikut: “बिंदुनादात्मकं सर्वं जगत्स्थावरजंगमम् ।बिंदुः शक्तिः शिवो नादः शिवशक्त्यात्मकं जगत् ॥ ८७॥biṁdunādātmakaṁ sarvaṁ jagatsthāvarajaṁgamam |biṁduḥ śaktiḥ śivo nādaḥ śivaśaktyātmakaṁ jagat || 87 || Artinya:Seluruh alam semesta yang terdiri dari yang bergerak dan yang…