Bhoga-Svātantrya

Mutiara Weda
Yogyakarta, 28 Mei 2026

Umat se-dharma, dalam sesanti Hindu disebutkan: “Ala ulah ala tinemu, ayu kinardi ayu pinanggih.” Benih padi yang ditanam akan menghasilkan padi, demikian pula benih jagung yang ditanam akan menghasilkan jagung. Demikianlah hakikat Hukum Karma Phala, bahwa setiap perbuatan akan melahirkan akibat yang sepadan dengan sebab yang ditimbulkannya.

Manusia tidak memiliki kebebasan untuk menentukan hasil dari perbuatannya (bhoga-svātantrya), tetapi setiap manusia memiliki kebebasan untuk menentukan sebab dari perbuatan itu sendiri (karma-svātantrya).

Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban bagi setiap umat Hindu untuk senantiasa berbuat kebajikan sehingga melahirkan karma vāsanā yang dilandasi oleh sifat-sifat daivī vāk. Niscaya, kebahagiaan akan dapat diwujudkan, baik kebahagiaan sekala maupun niskala nantinya.

(Kitab Arjuna Wiwāha)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU.

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Indonesia

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Filosofi Vāyuh

    Disajikan sebuah sajian dengan topik Filosofi Vāyuh, artinya angin. Mari dimaknai dan disimak ajaran luhur tentang Vāyuh pada pustaka suci Bhagavad Gītā IX-6 yang dikutip sebagai berikut ini: “यथाकाशस्थितो नित्यं वायुः सर्वत्रगो महान् Iतथा सर्वाणि भूतानि मत्स्थानीत्युपधारय ॥ ९-६॥yathākāśa-sthito nityaṁ vāyuḥ sarvatra-go mahān,tathā sarvāṇi bhūtāni mat-sthānīty upadhāraya. Artinya:“Laksana angin yang kuat selalu ada dan bertiup…

  • Ngajegang Dharma

    Mutiara Weda Yogyakarta, 4 Juli 2026 Umat Se-dharma, dalam susastra tersurat bahwa apabila seseorang dilahirkan menjadi manusia, tetapi ingkar terhadap pelaksanaan Dharma, bahkan bingung dengan agamanya, terlebih hanya mengejar kenikmatan, kepuasan duniawi, serta berhati tamak, orang semacam ini disebut Jadma Kesasar atau manusia sesat. Sesungguhnya, hidup menjelma menjadi manusia merupakan kesempatan yang sangat utama untuk…

  • Dhūrtalakṣaṇam/Dustalakṣana (Slokantara, 73)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)22 Agustus 2026Oleh I Ketut Subagiasta Dhūrtalakṣaṇam/Dustalakṣana artinya perbuatan jahat atau penjahat. Dalam kehidupan terdapat dualisme perbuatan, yaitu perbuatan baik (sukerta, subhakarma) dan perbuatan tidak baik (duskerta, asubhakarma). Perbuatan jahat atau perilaku penjahat memiliki berbagai bentuk, antara lain: Tanda-tanda penjahat secara umum, antara lain bermuka manis, berbicara simpatik, penjilat, suka memfitnah,…

  • Ageng Yasa Ageng Goda

    Mutiara WedaYogyakarta, 20/02/2025 Umat se-dharma, dalam sebuah Paribhasa ada mengungkapkan: semakin tinggi pepohonan, maka akan semakin kencang angin menerpanya. Demikian pula halnya dalam perbuatan, semakin banyak berbuat maka akan semakin banyak godaan & cobaan yang akan dihadapi. Ageng Yasa Ageng Goda. Selalu berbuat dan berpasrah diri ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa menjadi suatu…

  • Bersahabatlah dengan Kesabaran

    Mutiara Weda Yogyakarta, 08/05/2026 Umat se-dharma, jika dicermati, hidup menjelma menjadi manusia di dunia ini ibarat cakra manggilingan yang terus berputar silih berganti; terkadang berada di atas dan terkadang berada di bawah, penuh dengan berbagai cobaan dan tantangan hidup. Ibarat seorang peselancar di samudera luas, tanpa adanya ombak yang ganas, ia tidak akan pernah mengetahui…

  • Filosofi Susukham

    Palangka Raya, 28.10.2025 Disajikan sebuah topik Filosofi Susukham artinya baik dan menyenangkan. Sebuah ajaran luhur terkait masa Wanaprastha pada pustaka suci Bhagavad Gītā IX.2 yang dikutip sebagai berikut. “राजविद्या राजगुह्यं पवित्रमिदमुत्तमम् ।प्रत्यक्षावगमं धर्म्यं सुसुखं कर्तुमव्ययम् ॥ ९-२॥rāja-vidyā rāja-guhyaṁ pavitram idam uttamam,pratyakṣāvagamaṁ dharmyaṁ su-sukhaṁ kartum avyayam.Artinya:Inilah raja ilmu pengetahuan, rahasia terbesar, mulia dan tinggi, mudah dimengerti,…