Ahning Maneb Manah Nira

Mutiara Weda

Yogyakarta, 18/05/2026

Umat se-dharma, dalam susastra disebutkan: Dve karmāṇi naraḥ kurvan iha loke mahīyate; ada dua macam perbuatan yang menyebabkan seseorang menjadi bijak dan mulia, yaitu tidak sekali-kali mengucapkan perkataan yang kasar (tan ujar ahala), serta tidak sekali-kali berpikiran untuk melakukan perbuatan jahat dan tercela.

Perbuatan dan perkataan yang mengandung niat jahat tiada bedanya dengan membidik dan melepaskan anak panah; setiap orang yang terkena pasti akan merasakan sakit yang teramat dalam. Sebaliknya, perkataan yang bermaksud baik dan diucapkan dengan cara yang baik pula hanya akan menimbulkan kesenangan. Namun, apabila maksudnya baik tetapi tidak disampaikan dengan cara yang baik, maka dapat menimbulkan rasa duka.

Oleh karena itu, sebagai umat Hindu hendaknya selalu berhati-hati dalam perbuatan maupun dalam mengeluarkan perkataan, dengan senantiasa menampakkan nilai kebajikan, kedamaian, serta jiwa yang meneduhkan. Jagalah kesucian pikiran (ahning maneb manah nira) dan berjanjilah pada diri sendiri untuk selalu berpegang teguh pada kebenaran. Niscaya, akan terbangun umat Hindu yang damai dan bahagia serta memperoleh amerta dalam kehidupannya. (SS 117–124)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN)
Daerah Istimewa Yogyakarta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Pentingnya Menjaga Keseimbangan dalam Diri

    Umat Se-Dharma, Tujuan utama berbhakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sejatinya adalah untuk memperoleh rasa cinta kasih sayang dari-Nya, yang senantiasa terpancar kepada seluruh ciptaan-Nya. Pancaran kasih sayang dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa bagaikan sinar matahari yang menyinari Bhumi—menerangi seluruh alam semesta beserta isinya. Namun, ada pula yang merasa tidak pernah menerima…

  • Tri Semaya

    Mutiara Weda 30/09/2025 Umat sedharma, dalam sistem filsafat Hindu ada tiga konsep ruang-waktu yang berorientasi pada kelangsungan kehidupan umat manusia dari masa ke masa yang disebut Tri Semaya. Tatkala orang bijak memperhatikan apa yang terjadi di masa lampau (Ātīta), menjaga apa yang ada sekarang (Vartamāna), serta mampu mengantisipasi apa yang akan terjadi di masa depan…

  • Pentingnya Mengatur Sentuhan Indria

    Mutiara Weda Yogyakarta, 6 Juli 2026 Umat Se-dharma, sifat keterikatan dan kebencian yang sering menggerogoti jiwa umat manusia sangat dipengaruhi oleh pengaturan sentuhan-sentuhan indria dengan objek indria. Dengan tidak dikendalikan oleh kedua sifat tersebut, akan lebih mudah terwujud kesadaran diri. Bagi mereka yang jiwanya selalu dipengaruhi oleh rasa benci, iri hati, dan sifat-sifat sejenisnya, sesungguhnya…

  • Sistācāraḥ (Sarasamuccaya 40)

    DHARMAŚABDANAM MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA) Sistācāraḥ adalah orang yang mengajarkan Dharma, mengajarkan Śruti dan Smṛti, serta berperilaku jujur, setia, dan mulia. Jadilah seorang Sistācāraḥ di jagat raya, yaitu pribadi yang senantiasa menebarkan kebenaran, kebajikan, dan kemuliaan hidup secara bijaksana dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh I Ketut Subagiasta Bagikan ke:

  • Rahasyajñāna

    Mutiara WedaYogyakarta, 6 Juni 2026 Umat sedharma, pustaka suci Weda yang menjadi pegangan, pedoman, dan tuntunan bagi umat Hindu sering juga disebut sebagai kitab rahasia karena di dalamnya banyak mengandung ajaran yang bersifat rahasia (rahasyajñāna). Untuk memudahkan pemahaman terhadap isi kandungan pustaka suci Weda, Mahāṛṣi Vālmīki melalui karya sastra Rāmāyaṇa serta Mahāṛṣi Vyāsa melalui epos…

  • Filosofi Analo Prakṛti

    Palangka Raya, 14.9.2025 Disajikan uraian ekoteologi dengan topik Analo Prakṛti, artinya sifat alami api, ajaran luhur dalam pustaka suci Bhagavad Gītā VII.4 yang dikutip sebagai berikut: “यततामपि सिद्धानां कश्चिन्मां वेत्ति तत्त्वतः ॥ ७-३॥भूमिरापोऽनलो वायुः खं मनो बुद्धिरेव च ।bhūmir āpo ‘nalo vāyuḥ khaṁ mano buddhir eva ca,ahaṅkāra itīyaṁ me bhinnā prakṛtir aṣṭadhā. Artinya:Tanah, air, api,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *