Nirāhaṃkāra

Mutiara Weda
12/02/2026

Umat se-dharma, dalam ajaran agama Hindu, kelahiran menjelma menjadi manusia sangatlah utama, mulia, dan sangat sulit untuk diperoleh. Menjelma menjadi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dengan Tri Pramāṇa (tiga alat pengetahuan) guna menjalankan Wiweka (viveka, kemampuan membedakan) menimbang mana yang baik dan mana yang buruk, sehingga dapat mengendalikan pengaruh dari kegelapan-kegelapan pikiran, bebas dari sifat nirāhaṃkāra (tanpa keakuan/ego).

Demikian pula halnya dalam hidup ini, sesungguhnya manusia sudah dibekali dengan empat bekal hidup yang disebut Catur Bekal Dumadi (empat bekal kelahiran), antara lain:

Suka : perasaan yang selalu senang dan bahagia.
Duḥkha : rasa sedih atau penderitaan yang selalu menyelimuti setiap umat manusia.
Lara : kesengsaraan; tak seorang pun manusia dapat terhindar darinya, karena hidup pada dasarnya mengandung penderitaan.
Pati : setiap umat manusia tak luput dari siklus kematian atau pralina (peleburan).

Oleh karena itu, sebagai umat Hindu, jalankan proses hidup dengan rasa syukur/angayubāgya (bersyukur atas anugerah), pergunakan kesempatan menjelma menjadi manusia untuk selalu berbuat kebajikan/śubha karma (perbuatan baik), serta sadar bahwa proses kehidupan akan mengalami siklus perputaran Tri Kona (tiga proses kosmis): utpatti (kelahiran), sthiti (pemeliharaan), dan pralina (peleburan), dengan rwa bhineda (dua perbedaan yang berpasangan) selalu mendampinginya.

Jangan terlalu berbangga dan berbesar hati manakala mendapatkan kebahagiaan, dan jangan pula terlalu bersedih hati tatkala mengalami duḥkha dan penderitaan. Jalankan hidup ini dengan landasan lascarya (ketulusan/keikhlasan), citta śuddhi (pikiran yang bersih), serta nirāhaṃkāra (mengendalikan ego dan emosi-emosi gelap). Laksanakan dhyāna yoga/samādhi (meditasi yang mendalam). Niscaya akan dapat menuju target utama menjelma menjadi manusia, yaitu kesadaran sejati, memutus siklus saṃsāra menuju mokṣa.

(SS. 473–474)

Made Worda Negara
BINROH Hindu TNI AU

Badan Penyiaran Hindu (BPH) Pusat

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Hiṁsa Karma & Unsur Penyupatan

    Mutiara WedaYogyakarta, 30/04/2026 Umat Sedharma, dalam susastra diajarkan: Ahimsa ngaranya tanpa mati-mati; menyakiti dan membunuh makhluk hidup dengan semena-mena tidak dibenarkan dalam ajaran agama Hindu. Namun demikian, melakukan Hiṁsa Karma, yaitu perbuatan membunuh dengan tujuan kesucian tertentu, dapat menjadi suatu kewajiban sebagaimana tersurat dalam pustaka suci Weda. Dalam kitab suci Vṛtti Śāsana tersurat bahwa melakukan perbuatan Hiṁsa Karma atau membunuh makhluk…

  • Trayodaśa Jīvan (Bhagavadgītā X.4)

    DHARMAŚABDĀNĀṂ MAUKTIKĀNI (MUTIARA KATA DHARMA)5 Juli 2026 Oleh: I Ketut Subagiasta Trayodaśa Jīvan (Bhagavadgītā X.4) Trayodaśa Jīvan adalah tiga belas jenis kehidupan. Manusia wajib sadar diri. Ada tiga belas hal yang dialami dalam melakoni kehidupan di alam māyā, antara lain: Umat Hindu wajib melakoni tiga belas jenis kehidupan secara lahir dan batin dengan nirmala, yaitu…

  • Filosofi Satyavākyam

    Diuraikan topik Satyavākyam, artinya teguh kepada kebenaran. Mari dipahami ajaran luhur dalam pustaka suci Śiva Purāṇa 1.7.31 yang dikutip sebagai berikut: ईश्वर उवाच ।वत्सप्रसन्नोऽस्मि हरे यतस्त्वमीशत्वमिच्छन्नपि सत्यवाक्यम् ।ब्रूयास्ततस्ते भविता जनेषु साम्यं मया सत्कृतिरप्यलप्थाः ॥ ३१ ॥ īśvara uvācavatsaprasanno’smi hare yatastvam īśatvam icchann api satyavākyam |brūyās tataste bhavitā janeṣu sāmyam mayā satkṛtir apyalapthāḥ ॥ 31 ॥…

  • Ahaṅkāra Jñāna

    Mutiara WedaYogyakarta, 23/05/2026 Umat sedharma, jika direnungkan, manah (pikiran) sesungguhnya merupakan penyebab dari penderitaan dan kesengsaraan tatkala pikiran dicemari oleh hawa nafsu serta berbagai kekotoran Ahaṅkāra Jñāna. Apabila pikiran itu bersih dan suci, tidak dihinggapi kekacauan, tidak dibelenggu oleh hawa nafsu serta berbagai kecemaran, melainkan dipenuhi Sāttvika Vidyā (pengetahuan yang suci), itulah sesungguhnya hakikat kedamaian…

  • Filosofi Pandita

    Berbahagia disajikan topik Filosofi Pandita, yaitu menaati Tri Sasana Pandita yang wajib ditaati dengan suci. Mari dimaknai tentang ajaran Tri Sasana Pandita pada pustaka suci Sārasamuccaya – Sloka 61 yang dikutip sebagai berikut ini: “rājā bhirur brāhmanah sarvabhakso vaicyo’nīhāvān hīnavarno’lasaṣco, vidvānacilo vṛttahīnah kulīnah bhrasto brāhmaṇah strī ca duṣþā.Hana pwa mangke kramanya, ratu wēdi-wedi, brāhmana sarwabhaksa,…