Filosofi Akasam

Disajikan topik filosofi Akasam yang artinya ether, udara, angkasa, ākāśa. Mari dimaknai ajaran teoekologi terkait udara pada pustaka suci Bhagavad Gītā IX-6 yang dikutip sebagai berikut:

“यथाकाशस्थितो नित्यं वायुः सर्वत्रगो महान् I
तथा सर्वाणि भूतानि मत्स्थानीत्युपधारय ॥ ९-६॥

yathākāśa-sthito nityaṁ vāyuḥ sarvatra-go mahān,
tathā sarvāṇi bhūtāni mat-sthānīty upadhāraya.

Artinya:
“Laksana angin yang kuat selalu ada dan bertiup di mana-mana, berdiam dalam ether; demikian pula, ketahuilah bahwa semua yang ada berdiam dalam-Ku.”

Makna luhur ajaran ekoteologi tentang akasam, yakni udara atau ether, ākāśa, langit. Disadari bahwa ākāśa atau ether atau udara pada angkasa yang selalu ada, berdiam vāyuḥ atau angin sebagai kekuatan Sang Hyang Akasa atau Sang Hyang Rudra yang berdiam di antākāśa. Sang Hyang Akasa sthito atau berada; berdiam di angkasa. Udara bersifat nityaṁ yang selalu menjadi angkasa, dipenuhi oleh Sang Hyang Bayu atau Vāyuḥ yang adalah angin yang Sarvatragah atau yang bergerak ke mana-mana dengan kekuatan mahān, yaitu perkasa, agung, sehingga angkasa memberikan spirit luar angkasa sampai memberikan kesegaran kehidupan sarwa prani di jagat atau bumi.

Antākāśa penopang atau bhūtāni, yakni makhluk hidup, udara bisa terbang melayang di angkasa. Sarwa Paksi atau segala burung memanfaatkan hidup yang nyaman dan damai di udara. Rawat kondisi bumi atau jagat yang berdampak pada perawatan udara di angkasa agar tetap bersih, sehat, tidak terpolusi, tidak gelap karena asap dari bumi yang mengakibatkan angkasa gelap gulita. Angkasa jangan sampai terpolusi dan tidak terjadi pemanasan global. Perawatan alam yang hijau, segar, dan fresh membuat udara di antākāśa stabil dan harmonis secara ekologi udara secara menyeluruh.

Intinya, Sang Hyang Akasa memberikan kekuatan angkasa untuk kestabilan udara di angkasa. Semoga rahayu semua kehidupan atau sarvajanman. Ksama ca Ksami.

Palangka Raya, 30.6.2025
Oleh I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Sevaka Dharma

    Mutiara Weda Yogyakarta, 14/05/2026 Umat se-dharma, dalam susastra tersurat bahwa manusia yang dilahirkan ke dunia namun ingkar terhadap pelaksanaan Dharma, bahkan bingung terhadap agamanya sendiri, terlebih hanya mengejar kenikmatan dan kepuasan duniawi serta berhati tamak, disebut sebagai jadma kesasar atau manusia sesat. Sesungguhnya, hidup menjelma menjadi manusia merupakan kesempatan yang sangat utama untuk memperbaiki dan…

  • Tumbuhkan Rasa Damai di dalam Diri

    Mutiara WedaYogyakarta, 03/05/2026 Umat se-dharma, dalam susastra tersurat bahwa tatkala seseorang memiliki rasa benci kepada orang lain, hal itu sama nilainya dengan meminum racun. Kebencian akan membuat hidup terbebani secara terus-menerus selama belum mampu memaafkan, bahkan akan terus menempati ruang di hati secara cuma-cuma sehingga mengganggu proses berpikir, bertindak, dan menyebabkan seseorang tidak mampu mengeluarkan…

  • Pūrwa Gama Śāsana

    Mutiara Weda Yogyakarta, 13/05/2026 Umat se-dharma, setiap umat Hindu wajib mempelajari, memahami, dan memancarkan isi Kitab Suci Weda sebagai Dharma Vāhinī, serta memahami berbagai ilmu pengetahuan suci (andrayuga). Demikian pula, umat Hindu berkewajiban mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk melalui wiweka dalam menjalani kehidupan di māyāpada ini. Dalam mempraktikkan dan mengamalkan setiap perbuatannya,…

  • Subhāsubha (BG XII.17)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)21 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Subhāsubha (BG XII.17) Subhāsubha adalah kebaikan dan kebatilan. Dalam diri setiap manusia terdapat kecenderungan pada kebaikan maupun kebatilan. Demikian pula, rasa senang dan sedih selalu menyertai kehidupan. Pujian dapat menimbulkan rasa senang, sedangkan kebencian dapat menghadirkan kesedihan. Oleh karena itu, hendaknya seseorang mampu melepaskan…

  • Ahaṃkāra Jñāna

    Mutiara WedaYogyakarta, 29/04/2027 Umat sedharma, sesungguhnya pikiran atau manaḥ merupakan penyebab penderitaan dan kesengsaraan apabila dibelenggu oleh hawa nafsu, yaitu ahaṃkāra jñāna (ego yang diliputi ketidaktahuan). Sebaliknya, apabila pikiran bersih dan suci, tidak diliputi kekacauan, serta bebas dari berbagai kecemaran, maka keadaan tersebut mencerminkan sāttvika vidyā (pengetahuan yang murni). Inilah hakikat kedamaian dalam ajaran Hindu….

  • Vibhuti Marga

    Mutiara WedaYogyakarta, 07/08/2025 Umat Se-dharma, Panca Śraddhā dan pokok-pokok ajaran merupakan inti dasar dalam beragama Hindu. Orang yang ragu-ragu, bingung dalam menjalankan ajaran agamanya, dan bahkan kurang yakin akan Śraddhā-nya, orang semacam ini disebut Nāstika atau Jatma Kesasar. Orang Nāstika merupakan orang yang tidak menjalankan swadharma-nya dengan baik atau niṣkriya. Oleh karena itu, sudah menjadi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *