Filosofi Sṛṣṭir Āditah

Palangka Raya, 30.9.2025

Oleh I Ketut Subagiasta

Disajikan tentang filosofi Sṛṣṭir Āditah (ciptaan alam ini). Mari dipahami ajaran luhung tentang ciptaan alam ini secara ekoteologi bernilai pendidikan Hindu pada pustaka suci Mānava Dharmaśāstra sloka I.78 yang dikutip sebagai berikut:

jyotiṣaś ca vikurvāṇād āpo rasaguṇaḥ smṛtāḥ
adbhyo gandha guṇa bhūmir ityeṣā sṛṣṭir āditaḥ

Terjemahan:
“Demikian pula dari sinar cemerlang dengan merobah dirinya, terjadi āpaḥ (air) yang bersifat rasa (cita-rasa) dan daripadanya, terjadi bhūmi (tanah) yang bersifat gandha (bau) sebagai awal dari ciptaan alam ini.”

Makna mulia tentang ciptaan alam ini dikaji secara ekoteologi yang bernilai pendidikan Hindu, berikut ini:

  1. Jyotir (sinar cemerlang). Maknanya Sang Hyang Rudra atau Sang Hyang Paśupati (penguasa kehidupan) bercahaya cemerlang dengan panas melakukan evolusi unsur cairan atau zat cair di skṣm (alam semesta) ini.
  2. Āpaḥ (air). Maknanya bahwa Sang Hyang Sūrya (matahari) dengan sakti teja-nya (daya panasnya) mengevolusi āpaḥ atau air menjadi unsur alam yang memiliki sarwa rasa (segala cita-rasa) untuk terjadinya alam ini.
  3. Gandha Guṇa (sifat bau). Maknanya kekuatan Sang Hyang Paśupati mengevolusi unsur rasa (cita-rasa) yang alami, jadilah bhūmi (tanah) yang bermanfaat untuk kehidupan sarwa prāṇi (segala makhluk hidup).
    – Tanah bukan untuk dikuasai oleh para feodal, melainkan diolah oleh rakyat menuju sejahtera.
    – Tanah bermanfaat untuk lingkungan yang hijau, tempat tinggal, sarana jalan, lahan perkebunan, pertanian, hingga industri.
    – Tanah bukan hanya untuk pemodal, juga harus diingat untuk fasilitas publik seperti akses perlintasan warga (pawongan). Ayo tanah dirawat dan dimanfaatkan untuk publik. Jangan bumi dijadikan perebutan yang menimbulkan konflik sosial. Pihak terkait wajib segera menyelesaikan bila ada sengketa tanah yang merugikan masyarakat luas.
  4. Bhūmir (tanah). Maknanya bahwa bumi ini sebagai unsur alam wajib dirawat bersama. Tanah wajib dimanfaatkan demi keberhasilan bersama: kebutuhan rakyat, pemodal, aktivitas beragama (parahyangan), kebutuhan sosial (pawongan), dan tata kelola lingkungan (palemahan) yang asri. Bumi jangan sampai menjadi sumber gejolak sosial, apalagi rakyat penghuni asli terjepit gara-gara tanah dikuasai pemodal asing atau dari luar daerah. Harus ada adaptasi positif untuk memanfaatkan tanah dengan keadilan sosial.

Intinya, Sṛṣṭir Āditah (ciptaan alam ini) merupakan kuasa Sang Hyang Paśupati atau Sang Hyang Pṛthivī (dewi bumi) yang memiliki unsur āpaḥ (air), nilai gandha guṇa (sifat bau/rasa sosial) yang adi luhung. Bhūmi (tanah) dimanfaatkan untuk kebutuhan sosial berkeadilan. Tidak ada konflik dalam konteks tanah atau bumi, sebab wajib dipakai untuk kepentingan bersama yang adil, sehingga bumi aman, nyaman, indah, lestari, dan bervibrasi positif sebagai sumber daya alam bermakna ekoteologi untuk implementasi nilai luhur pendidikan Hindu.

Semoga rahayu semua. Svāhā. Kṣamā ca Kṣami.

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Suluh Kehidupan

    Mutiara WedaYogyakarta, 03/01/2026 Umat se-dharma,bila dicermati dalam pustaka suci Weda tersurat bahwa tidak ada sahabat yang lebih luhur daripada pengetahuan, dan tidak ada musuh yang lebih berbahaya daripada nafsu jahat. Demikian pula, tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatan nasib, karena nasib tidak tertahankan oleh siapa pun. Melaksanakan perbuatan baik, śubha karma (perbuatan yang luhur), serta…

  • Suryasahasrasya (BG XI.12)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)22 Juli 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Suryasahasrasya (BG XI.12) Suryasahasrasya diibaratkan laksana cahaya seribu matahari yang terbit secara bersamaan dan memancarkan sinar yang cemerlang di angkasa. Sesungguhnya, cahaya tersebut melambangkan sinar keadilan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kekuasaan Tuhan meliputi angkasa, jagat raya, dan seluruh alam semesta. Keadilan-Nya dianugerahkan kepada semua…

  • Sanātana Dharma: Kebenaran Sejati

    Mutiara Weda Yogyakarta, 01/05/2026 Umat Se-dharma, dalam sesanti Hindu tersurat bahwa kesucian batin akan dapat terwujud manakala seseorang memiliki kemampuan untuk mengintrospeksi dan mengendalikan diri. Demikian pula, kesucian diri akan mampu membangun kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan, yang selanjutnya dengan keyakinan spiritual akan dapat mewujudkan kebenaran sejati, yaitu Sanātana Dharma. Hakikat kebenaran sesungguhnya merupakan hukum yang abadi, yaitu hukum ṛta ataupun hukum karma, dengan landasan…

  • Trayodaśa Dharma (BG X.4)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)Selasa, 11 Agustus 2026Oleh I Ketut Subagiasta Trayodaśa Dharma (BG X.4) Trayodaśa Dharma adalah tiga belas jenis kebenaran. Filosofi Trayodaśa Dharma mengajarkan tiga belas nilai sebagai pelita kehidupan menuju kehidupan yang aman, tenteram, bahagia, dan sejahtera, baik lahir maupun batin, yaitu: Marilah dimaknai dan diterapkan filosofi Trayodaśa Dharma, yaitu tiga belas…

  • Jñānatapasaḥ (BG IV.10)

    DHARMASHABDANAM MOUKTIKANI (MUTIARA KATA DHARMA)3 Agustus 2026 OLEH I KETUT SUBAGIASTA Jñānatapasaḥ (BG IV.10) Jñānatapasaḥ adalah orang-orang bijaksana yang taat. Jadilah pribadi yang bijaksana dan taat pada Dharma serta ajaran agama, dengan memahami ajaran Hindu dan mengamalkan nilai-nilai sucinya sebagai pedoman dalam menuntun kehidupan yang mulia. Taat terhadap Dharma juga diwujudkan melalui kepatuhan kepada negara,…