Filosofi Bijam

Disajikan topik Filosofi Bijam, yang artinya benih. Mari kita pahami dan maknai ajaran luhur dari pustaka suci Bhagavad Gītā VII.10 yang dikutip sebagai berikut:

“जीवनं सर्वभूतेषु तपश्चास्मि तपस्विषु ॥ ७-९॥
बीजं मां सर्वभूतानां विद्धि पार्थ सनातनम् ।
bījaṁ māṁ sarva-bhūtānāṁ viddhi pārtha sanātanam,
buddhir buddhimatām asmi tejas tejasvinām aham.”

Artinya:
“Ketahuilah, wahai Pārtha, Aku ini adalah benih abadi dari semua makhluk.
Aku adalah akal dari kaum intelektual. Aku adalah cemerlangnya sinar cahaya.”

Makna mulia dari filosofi Bijam adalah bahwa Sang Hyang Rudram, yang bersinar cemerlang (Prabhawa Sakala), adalah Sang Hyang Surya—cahaya yang disebut Jyotih atau Dipta—yang menyinari seluruh bumi. Dari cahaya Surya inilah lahir bijam atau benih dari segala kehidupan (sarva bhūtānām) di bumi.

Pohon tumbuh subur. Tanaman tumbuh segar. Segala yang ditanam oleh umat manusia tumbuh dari bijam atau benih. Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan segala kehidupan di alam dengan bijam, dan dari benih itu tumbuh tumbuhan hijau yang menghasilkan daun, bunga, buah, dan batang yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.

Secara ekoteologis, lingkungan hidup dipelihara melalui pendekatan keagamaan dengan keyakinan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa merawat segala sthāvara (segala tumbuhan) di alam semesta.

Tuhan dalam Prabhawa sebagai Sangkara adalah Sarvabhūtānāṁ ca Sanātanam—yang bersifat abadi. Dengan buddhir (intelek) dari buddhimatām (orang berakal), serta tejas (sinar cemerlang) dari tejasvinām (mereka yang bersinar), maka bijam tumbuh subur dan menjadikan lingkungan asri, indah, dan penuh manfaat bagi seluruh umat manusia di jagat raya.

Intinya, bahwa bijam atau benih tumbuhan hidup di alam adalah atas kuasa Tuhan dengan kekuatan teja (sinar), yang menyuburkan alam semesta. Mari kita rawat bijam dengan baik. Semoga alam menjadi asri. Rahayu. Svaha. Ksama ca Ksami.

Palangka Raya, 28 Mei 2025

Oleh I Ketut Subagiasta

Bagikan ke:

Similar Posts

  • Filosofi Dewa Agni

    Disajikan sebuah topik Dewa Agni, artinya Dewa Api. Mari dimaknai isi ajaran luhur dari pustaka suci Bhagavad Gītā VIII.24 yang dikutip sebagai berikut: अग्निर्ज्योतिरहः शुक्लः षण्मासा उत्तरायणम् ।तत्र प्रयाता गच्छन्ति ब्रह्म ब्रह्मविदो जनाः ॥ ८-२४॥agnir jyotir ahaḥ śuklaḥ ṣaṇ-māsā uttarāyaṇam,tatra prayātā gacchanti brahma brahma-vido janāḥ. Artinya:Api, cahaya, siang hari, purnama dan enam bulan waktu matahari…

  • Bangun Soliditas Umat Hindu

    Mutiara WedaYogyakarta, 04/08/2025 Umat Se-Dharma, dalam pustaka suci Weda ada mengungkapkan:Wahai Umat Manusia, berhimpunlah, duduklah bersama-sama, pikirkan bersama-sama dan rumuskan sesuatu untuk tujuan bersama,yang mengajarkan kepada kita umat se-Dharma untuk selalu bersinergi dan bersatu guna mencapai tujuan bersama.Sahrdayam sammanasyam, avidvesam kṛṇomi vaḥ. Ida Sang Hyang Widhi Wasa memberikan sifat-sifat ketulusan, keikhlasan, mentalitas atau kejiwaan yang…

  • Tunggalang Idep

    Mutiara WedaYogyakarta, 13/04/2026 Umat sedharma, dalam ajaran tattva diungkapkan bahwa ketika seluruh tattva menyatu, maka segala objek tidak lagi tampak, sehingga citta (pikiran) dapat dipusatkan dalam dhyāna (meditasi). Penyatuan seluruh tattva yang berada di bawah buddhi disebut eka citta atau eka buddhi, yang dalam istilah lokal dikenal sebagai nunggalang idep. Adapun tattva yang berada di…

  • Kṛtakṛtya-Ātmarati

    Mutiara Weda20/01/2025 Umat Se-dharma, dalam Susastra disebutkan bahwa untuk mengarungi kehidupan yang sempurna (Kṛtakṛtya) dengan limpahan kesenangan dan kebahagiaan (Ātmarati), penerapan nilai-nilai ajaran Dharma adalah hal yang tidak terpisahkan. Mengamalkan dan mengaplikasikan ajaran Dharma pada diri sendiri untuk mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta disebut Dharma Sadhana atau Catur Dharma Sadhana, yang merupakan Sesarining Dharma….

  • Adveṣṭā Sarva Bhūtānām

    Mutiara Weda Yogyakarta, 17/05/2026 Umat se-dharma, jika disadari, sesungguhnya segala bentuk pemujaan ataupun tapa hanyalah untuk mengendalikan pikiran. Pikiran merupakan penyebab keterikatan ataupun kebebasan. Demikian pula, pikiran adalah rajanya nafsu (rājendriya). Oleh sebab itu, setiap manusia hendaknya mengarahkan pikirannya agar tetap tenang dan terkendali (nirodha), sehingga dapat terpusat kepada-Nya melalui dhyāna. Orang yang disayang Tuhan…