JAKARTA, NusaBali.com – Sebanyak 320 kontingen, dengan peserta lebih dari 1.000 orang berpartisipasi dalam ajang The Global Domain Gita Santih Festival (TGDGSF), 17-19 Desember 2021.Peserta festival bukan saja dari 34 provinsi di Indonesia saja. Terdata peserta berasal dari Amerika Serikat, Brasil, Afrika Selatan, Filipina, Malaysia,  Jerman, Kroasia, Australia dan India. “Ini menjadi sebuah kebanggaan,” kata Ketua Panitia TGDGSF Dr I Gede Adiputra MM.
Sebelumnya event yang diselenggarakan oleh Gita Santih Nusantara ini dibuka oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno pada Jumat (17/12/2021). Sedangkan penutupan Minggu (19/12/2021), dilakukan oleh Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kementerian Koordinasi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Nyoman Suidha. 
Festival yang dilaksanakn secara hybrid ini diikuti  oleh kalangan anak-anak, remaja dan dewasa. Mereka berasal dari lintas iman, lintas agama, lintas ras, lintas etnis, lintas bangsa dan lintas negara. “Ini merupakan cita-cita kita semua untuk menggelorakan perdamaian. Perdamaian di hati masing-masing dan dunia,” ujar Nyoman Kertia dalam sambutan penutupan TGDGSF di Jababeka Golf And Country Club Cikarang.
Nyoman Kertia berharap, tahun depan jumlah peserta TGDGSF bertambah sehingga semakin banyak orang yang menggelorakan perdamaian. Menggelorakan perdamaian secara bersama-sama sangat penting, karena saat ini energi banyak terkuras akibat tindakan radikalisme.
Menurut Nyoman Kertia, dasar dari perdamaian ada tiga. Pertama adalah hubungan harmonis antar umat. Bila itu tidak dilakukan akan muncul tindakan radikalisme. Kedua adalah hubungan harmonis dengan alam. “Jika hal itu tidak dilakukan pula akan muncul perubahan iklim, angin puting beliung dan bencana alam lainnya,” ujarnya.
Selanjutnya yang ketiga, ujar Nyoman Kertia, harmonis dengan Tuhan. 
TGDGSF sendiri merupakan festival kretivitas seni dan fotografi untuk menyambut bangkitnya sektor pariwisata pasca pandemi Covid-19. Tujuannya untuk membangkitkan sektor pariwisata agar dapat berjaya kembali pasca pandemi melalui pariwisata berbasis budaya.
Memperdalam pemahaman kearifan lokal dalam rangka mewujudkan persatuan, kesejahteraan dan kedamaian. Mengimplementasikan nilai-nilai universal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Memaknai toleransi, kebudayaan dan perdamaian sebagai momentum dan wahana untuk menjalin komunikasi dan kerja sama antar umat manusia.
Melestarikan budaya melalui kreativitas sesuai nilai-nilai universal yang luhur guna membangkitkan kehidupan sektor pariwisata melalui pariwisata berbasis budaya. 
Ada tujuh kategori yang diperlombakan TGDGSF. Mulai dari Festival Fotografi, Festival Nyanyian Kedamaian Populer, Festival Nyanyian Kedamaian Tradisi, Festival Tutur Kedamaian, Festival Kreativitas dan Festival Membaca Bhagavadgita.
“Penilaian para pemenang, berdasarkan pada kandungan kebenaran, kesucian dan keindahan,” jelas Nyoman Kertia. 
Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kementerian Koordinasi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Nyoman Suidha sangat mengapresiasi TGDGSF 2021. Apalagi TGDGSF mengambil tema ‘Membangun Generasi Toleran dan Berbudaya untuk Mewujudkan Perdamaian Dunia.’
“Sangat relevan dengan kondisi saat ini yang membutuhkan perdamaian dalam kehidupan bernegara. Perdamaian merupakan modal dasar kita untuk transformasi menjadi negara maju,” ucap Nyoman Suidha ketika menutup TGDGSD secara virtual. 
Melalui TGDGSD, lanjut Nyoman Suidha, masyarakat dalam menyaksikan bentuk kreatifitas budaya dalam menyampaikan pesan penting tentang perdamaian dan toleransi.
Nyoman Suidha menyatakan, Indonesia merupakan negara majemuk. Mulai dari ras, budaya dan bahasa. Namun menjunjung toleransi. Untuk itu, perdamaian adalah sebuah keniscayaan.
Sikap toleransi dan menjunjung perdamaian tidak terpisahkan dari budaya gotong royong yang telah dilakukan secara turun-temurun oleh bangsa Indonesia.
Untuk itu, kerukunan umat beragama perlu dijaga. Terlebih saat ini pandemi Covid-19 sehingga kebersamaan menjadi kunci untuk bangkit menjadi bangsa yang kuat. “Inti perdamaian adalah menerima perbedaan. Pemerintah tidak kompromi terhadap hal-hal intoleransi. Pemerintah menghidupkan moderasi kehidupan beragama di masyarakat,” pesan Nyoman Suidha.*

Sumber : Nusabali.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *