The Global Domain Gita Santih Festival 2020 yang merupakan Festival Senandung Perdamaian Internasional diharapkan berlanjut diagendakan tiap tahun. Sebab dengan melantunkan Gita Santih akan semakin mempertahankan nilai nilai kebenaran, kesucian dan keharmonisan serta estetika secara berlanjut sehingga terciptalah sumber daya manusia (SDM) yang unggul dalam persaingan global.

Demikian ditandaskan Dubes RI untuk Zimbabwe dan Zambia, Dewa Made Juniarta Sastrawan ketika menutup secara resmi The Global Domain Gita Santih 2020, Minggu (20/12/2020).
Acara yang diselenggarakan secara virtual oleh Yayasan Gita Santih Nusantara itu dibuka secara resmi oleh Kepala Staf Kepresidenan RI Jendral TNI (Purn) Moeldoko, Sabtu (19/12/2020) yang diikuti 198 nomor yang meliputi 374 orang peserta. Mereka terdiri dari seluruh provinsi di Indonesia maupun dari mancanegara antara lain dari Amerika Serikat, Prancis, Jepang dan Zimbabwe.
Hadir pada pembukaan tersebut Ida Shri Bhagawan Nabe, isteri Laksmi Ratu Manik, Sulinggih Umat Hindu dari Buleleng, Bali, Koordinator Staf Khusus Kepresidenan RI, Dr.AAGN Ari Dwipayana serta tokoh pluralis Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif dan Pendeta Gumar Gultom, MTh selaku Ketua PGI. Juga Bambang Hari Wibisono, MSc, Ph D, mantan Dubes RI untuk Unesco.
Ketua Panitia The Global Domain Gita Santih Festival 2020, Dr I Gede Adiputra MM menjelaskan hal itu kepada wartawan Senin (21/12/2020).
Lebih lanjut I Gede Adiputra menjelaskan Made Antara seorang peserta festival dari Bali ketika dihubungi secara terpisah juga mengharapkan agar festival seperti itu diagendakan tiap tahun.
“Itu penting demi mewujudkan Indonesia yang unggul dalam pembangunan SDM seperti yang diharapkan Bapak Moeldoko dalam pidato pembukaannya,” kata Made Antara.
Memang Kepala Staf Kepresidenan Jendral TNI (Purn) Moeldoko pada pidato pembukaan festival Gita Santih tersebut menyatakan, pemerintah menyampaikan terimakasih atas terselenggaranya acara ini di saat dunia dilanda pandemik.
“Presiden dalam visinya Menuju Indonesia Maju menyatakan, ada lima hal yang menjadi perhatian utama yaitu : Tidak satupun rakyat tertinggal dalam mengejar cita cita, Indonesia yang demokratis yang hasilnya dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia, setiap warga negara mempunyai hak yang sama dalam hukum, menguasai IPTEK tingkat dunia serta menjaga perdamaian di tengah tengah kompetisi global,” kata Moeldoko.
Sementara Ketua Umum Gita Santih Nusantara, Ida Bhawati Prof Dr dr Nyoman Kertia Sp.PD-KR, dalam sambutannya menyampaikan, The Global Domain Santih Festival tersebut telah dimulai 18 Desember sampai dengan 20 Desember 2020.
“Ini sebagai bentuk apresiasi untuk menggugah generasi muda dunia berekspresi mengummandangkan Gita Perdamaian. Sehingga dapat memberi vibrasi atau getaran kepada masyarakat internasional untuk mewujudkan perdamaian tersebut,” ujarnya.
Dalam festival ini ditampilkan 4 bidang festival untuk kategori anak dan remaja yang meliputi Festival Pembacaan Sloka, Festival Dharma Wecana, Festival Lagu Rohani dan Festival Kreativitas.
Sementara Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya menambahkan, dengan mengumandangkan senandung kedamaian tersebut akan mampu menyeimbangkan hukum alam sekala (fisik) dan alam niskala (nonfisik). Yang pada gilirannya akan mewujudkan Tat Twam Asi, yaitu sifat kesetiakawanan sosial. Sehingga tercipta persatuan yang erat dari berbagai etnis di dunia.
Harapan senada disampaikan pula oleh Desak Sri Gestari yang bermukim di AS yang bertindak sebagai Humas Panitia.
Di antara tigaratusan peserta tampak sepasang gadis kembar masing masing Ananda Chevira dan Ananda Dhevira yang selalu tampil ceriah.(PRI).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *